
Kepulangan baby Aura disambut baik, Andri juga nampak bahagia menyambut kepulangan baby A yang terlihat sangat tenang.
Siapapun yang berkunjung tidak menganggu tidur Baby A sama sekali, dia tidur dengan tenang.
"Kenapa kamu terlihat stres?" Papi menggedong cucu cantiknya, menatap menantunya yang banyak diam.
"Angga sedang berusaha menutupi wajah baby Aura, mungkin sampai dia sendiri paham artis pekerjaan kedua orangtuanya, tapi binggung Pi cara bicara dengan Aira." Senyuman Angga terlihat karena dia takut Aira kecewa jika tidak bisa pamer.
Altha sependapat dengan Angga, dia juga tidak setuju jika Aura ditayangkan dan hidupnya dikelilingi kamera.
Kehidupan Aura harus beda dari kedua orangtuanya, bisa berjalan bebas tanpa takut ada yang menganggu.
"Ayang, baju Ai tidak muat," teriakkan Aira terdengar dari lantai atas mencari alasan agar diizinkan keluar rumah.
"Pi, Angga atas dulu sebentar." Angga langsung bergegas ke kamarnya melihat istrinya yang membongkar baju.
Aira ingin mengganti seluruh bajunya agar menjadi lebih keibuan, Ai tidak ingin menggunakan baju seksi lagi agar anaknya tidak malu.
"Kamu ingin jalan-jalan ke mall?"
"Iya," balas Aira memasukkan kembali bajunya.
Senyuman Angga terlihat, memeluk istrinya dengan sangat gemas karena tidak betah ada di dalam rumah. Ai membutuhkan udara segar agar bisa bernapas.
Pelukan Angga lembut, meminta sesuatu kepada Aira. Bukan maksud dirinya membatasi, tapi hanya mencoba menghindari hal yang tidak diinginkan.
"Sayang, Aura masih kecil. Boleh tidak jika kita tidak pernah memposting fotonya secara langsung, aku hanya khawatir ...."
"Aira setuju, buktinya Ai tidak pernah memposting wajahnya, paling kaki, tangan, mata, punggung, bukan wajah." Ai mengecup bibir suaminya yang sangat mencemaskan Putrinya jika sampai ada yang tahu.
Senyuman Angga terlihat, menggenggam tangan Ai untuk berkeliling menyejukkan hati dan pikiran dengan jalan-jalan, cuci mata.
Mami tidak melarang sama sekali keduanya pergi, saat melahirkan Aira belum satu hari Al sudah jalan-jalan meninggal kedua anaknya.
"Hati-hati, jangan lompat-lompat. Ingat pulang, ada anak butuh ASI di rumah." Peringatan Altha terdengar melihat Aira sedang make up.
"Santai Pi, kalau Aura nangis berikan air keran saja jika perlu susunya kucing Mora." Ai tertawa lucu melihat Papinya menatap tajam.
"Kamu tidak pompa ASI dulu Ai?"
__ADS_1
"Airnya juga sendikit Mi, Aura terlalu rakus. Setiap minun susu langsung disedot habis," ucap Ai menyindir Putrinya.
Pukulan Mami mendarat, Aira merasa senang dikaruniai Putri sehingga ada lawannya. Belum tahu saja proses membesarkan anak.
"Aduh Mami, nanti cerita cara membesarkan anak, Aira baru saja lahiran. Izinkan Aira menghilangkan trauma dari rasa sakitnya." Ai memeluk lengan Papinya meminta di benarkan.
Altha hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan Aira pergi bersama suaminya. Angga masih sempat pamitan dengan anaknya.
"Hati-hati Nak, apalagi menjaga wanita gila itu." Al menepuk pelan pundak Angga.
Dugaan Angga benar saat tiba di mall ada banyak kamera, Angga hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku istrinya yang tidak ingin redup.
Ucapan selamat terdengar, Aira hanya melambaikan tangan sambil mengucapkan terima kasih.
"Kamu sengaja memancing wartawan, dasar perempuan jahil." Angga mengacak lembut rambut istrinya.
"Aira sudah beberapa bulan tidak muncul, rasanya asing yang tanpa jepretan flash. Ayang tidak marah?"
"Bagaimana bisa aku marah, selama kamu bahagia maka aku juga merasakannya." Tangan Angga melambai saat beberapa fans menyapa.
Senyuman Aira tidak pernah pudar dari wajahnya, dia nampak bahagia bisa memilih beberapa baju lucu untuk Putrinya.
"Aku sangat mencintai kamu Ai," ucap Angga tulus, secara tiba-tiba dia ingin mengatakan cinta.
"Maaf Ayang, selama darah belum berhenti dilarang ehem ehem." Ai menggoda suaminya yang tertawa pelan.
Ada banyak barang belanja, Aira lupa tujuan pergi untuk membeli pakaiannya, tapi saat tiba di pusat perbelanjaan semua milik anaknya.
"Kakak Blackat, kapan kita bisa wajah Baby?" tanya seorang penggemar dari jarak jauh.
"Kalian tidak bisa melihat wajahnya, cukup perhatikan saja punggungnya." Ai menimpali sambil tersenyum kecil.
"Wajahnya tidak akan dipublish?"
Suara Angga meminta maaf terdengar, dia tidak akan mempublish wajah anaknya karena alasan demi keamanan.
Wajah baby A akan muncul saat dia sudah siap dengan sendirinya, Angga harap penggemarnya dan Ai akan menghargai keputusan mereka.
"Kakak Blackat, jika butuh baby sitter aku siap," teriak salah satu penggemar.
__ADS_1
"Kalian tidak akan sanggup, Baby A bukan si kucing lemah lembut. Apa kalian percaya jika Harimau tidak akan bisa menjadi kucing? Baby A harimau yang berbahaya." Ai tertawa mengambil hadiah dari penggemar untuk anaknya.
Penjaga maju semua karena sudah mulai tidak kondusif, mall ramai seperti ada konser hanya karena kemunculan Aira dan Blackat.
Keduanya dibawa oleh puluhan penjaga untuk keluar, Angga meminta managernya mengambil hadiah dari penggemar untuk baby A.
"Kenapa kalian hanya memberi hadiah untuk baby A, mana punyaku?" tanya Aira membuat ratusan penggemar teriak histeris meminta maaf karena Aira tergeser oleh baby A meksipun hanya terlihat kaki dan tangan mungilnya.
Selesai berbelanja, Aira dan Angga makan di restoran mewah. Sudah lama keduanya tidak menghabiskan waktu dengan makan berdua karena sejak menikah sibuk bekerja.
"Waktu hamil Aura kamu menyukai makanan ini," ujar Angga menatap makanan yang dia pesan.
"Itu kesukaan Aura bukan Aira, bungkus saja buat dia." Tawa Aira dan Angga terdengar, ada orang ketiga di antara mereka yang akan selalu masuk dalam pembicaraan.
Mulut Aira terbuka, meminta disuap. Tawa kecil Angga terdengar mengecup bibir istrinya barulah menyuapkan makanan.
Keduanya berpelukan sangat bahagia, mengenang banyak hal semasa rasa belum tumbuh hingga akhirnya disatukan dalam ikatan pernikahan.
Tanpa sadar, sudah malam masih asik bercerita penuh canda dan tawa. Saat Angga melihat jam langsung bergegas pulang karena Putri kecil sedang menunggu.
"Ayang, sayang Aira atau Aura?"
"Aku mencintai kamu Aira, tapi aku juga cinta Aura," balas Angga tanpa ragu.
"Hanya boleh satu, jadikan Aira wanita satu-satunya." Ai terlihat kesal.
Kepala Angga mengangguk, Aira wanita satu-satunya yang akan mendampinginya hingga tua nanti, tapi bagi Aura Pipinya akan menjadi cinta pertamanya.
Sesampainya di rumah Aira tersenyum lebar melihat suaminya mmeggeddong Putrinya. Kebahagiaan terbesar dan hadiah terindah yang Aira dapatkan dalam hidupnya memiliki Blackat, dan Putri kecilnya Asmara.
"Terima kasih sudah menjadi bagian hidup Aira, aku bahagia mengenal Kakak hitam, bahagia bisa memberikan Putri kecil yang menjadi buah cinta kita." Ai memeluk suaminya dari belakang.
"I love you Aira, I love you Aura. Terima kasih sudah menjadi akhir bahagia dalam hidupku." Angga mengecup kening Putrinya.
***
follow Ig Vhiaazaira
TAMAT
__ADS_1