
Di kantor Dean tidak tenang karena memikirkan kondisi Isel, tiap malam sudah susah tidur dan dokter juga mengatakan bayi kembar membuat Dean semakin takut.
"Pak Dean kita baru saja mendapatkan informasi jika korban yang meninggal ternyata orang lain, bukannya ini kasus manipulasi." Bawahan Dean memberitahu jika ada sangkut pautnya dengan keluarga kaya.
"Aku lihat datanya?" kerutan di kening Dean nampak karena masih tidak percaya jika ada sangkut pautnya dengan keluarga Laura.
Lama Dean diam, memastikan kembali jika orang yang istrinya kenal berbeda dengan dugaan penyelidikan.
"Kabari aku soal kasus ini, kita rapatkan besok pagi." Dean meminta maaf karena tidak bisa lembur.
Sepanjang jalan pulang, Dean masih memikirkan soal Brayen, menyempatkan diri mampir ke kawasan rumah Laura.
"Permisi apa Pak Brayen ada di rumah?" sapa Dean melihat seseorang keluar dari rumah mewah keluarga Laura, tapi Dean tidak mendapatkan jawaban.
Berkali-kali memanggil tetap tidak ada tanggapan dari dalam, rasa penasaran Dean semakin besar ada masalah apa?
"Pak, mencari orang rumah ya? sudah lama pemilik rumah tidak keluar hanya menantunya saja." Penjaga perumahan memberitahu Dean jika tidak ada aktivitas apapun di rumah kemungkinan besar nyonya tinggal diluar negeri.
Kepala Dean mengangguk memutuskan untuk pulang, berharap tidak terjadi apapun pada Brayen.
Panggilan dari Isel masuk, meminta dibelikan makanan karena perutnya lapar. Penuh kebahagiaan Dean menuruti apapun yang ingin istrinya makan kecuali yang dilarang dokter.
"Sayang, jika Brayen menghubungi kamu jangan dijawab dulu, nanti kita bicara." Dean tidak mengizinkan panggilan dimatikan meksipun sedang mampir membeli makanan.
"Siap Abi, hati-hati di jalan." Isel menunggu penuh kesabaran.
Sesekali mata Isel melihat ke arah Brayen yang memberanikan diri datang bertamu. Isel ingin memberitahu suaminya, tapi ucapan Dean membuatnya terdiam.
"Bagaimana hubungan rumah tangga kamu Brayen?" tanya Mommy dengan nada lembut.
"Baik Mom, meksipun sesekali ada perselisihan. Mommy tahu sendiri jika keluarga Laura, selalu mencoba merendahkan Brayen." Senyuman kecil terlihat menatap ke arah Isel yang memutuskan masuk ke kamarnya.
Panggilan Brayen terdengar, meminta Isel duduk bersama Mommy. Hari Brayen senang sekali karena kedatangannya disambut baik.
Mommy melihat ke arah Isel, matanya berkedip pelan, meminta Isel duduk meskipun tahu jika mimik wajah Isel tidak nyaman.
__ADS_1
"Mom, jika ada kesibukan tidak masalah meninggalkan Brayen mengobrol bersama Isel." Senyuman Brayen terlihat manis.
Mommy juga tersenyum manis, tidak merasa sibuk sama sekali, memiliki banyak waktu untuk mengobrol bersama. Mommy juga ingin tahu soal rumah tangga bahagia yang Brayen janjikan.
"Tidak semua yang kita bantu setulus hati membalas dengan kebaikan. Puluhan tahun aku bekerja sebagai pengacara, baru kali ini melihat manusia tidak tahu diri," batin Mommy di dalam hatinya, tidak menyesal menolong Brayen hanya kecewa kebaikannya tidak dibalas.
Harapan Mommy bukan hal yang menguntungkan dirinya, tapi menjadi ajaran hidup bagi Brayen. Diberikan tempat untuk memperbaiki diri, tapi berubah lupa diri.
"Di mana Laura?" Isel mematikan panggilan dan mengirimkan pesan baterai lowbet.
"Dia menolak ikut, lebih nyaman di rumah," balas Brayen santai.
Isel duduk di samping Mommy, memeluk lengannya manja. Saat ini tidak banyak yang bisa Isel lakukan, menjaga kandungannya jauh lebih penting.
"Seharusnya jika istri kamu tidak nyaman jangan datang, mungkin ada hal yang membuatnya segan." Nada bicara Mommy sangat lembut.
"Mustahil Mom, Laura mana bisa diam di rumah. Dia selalu kabur, bahkan banyak bodyguard tidak bisa menghentikannya." Isel mengambil ponselnya menghubungi Laura, dan masih dengan hasil yang sama tidak ada jawaban.
Isel tidak tahu masalah apa yang sedang Laura atasi, dia seakan memutuskan komunikasi. Isel berteman bukan satu dua tahun, tidak pernah sekalipun Laura mengabaikan panggilannya.
"Aku harus menjawab apa Sel? sebenarnya aku dan Laura memutuskan berpisah." Brayen tidak bisa bertahan karena hinaan Laura dan keluarganya.
Meksipun hidup miskin, Brayen dasar diri dan tidak bisa memaksa orang untuk menyukainya.
"Penampilan kamu tidak menunjukkan sedang dalam masalah, hubungi Laura biar Mommy yang bicara." Tangan Anggun terulur meminta Brayen melakukan panggilan.
Senyuman tenang masih terlihat, Brayen merasa tidak ada yang harus dirinya buktikan. Urusan rumah tangganya menjadi rahasia yang tidak bisa dirinya publikasikan.
"Jika kamu tidak ingin memberitahu kita, juga tidak bisa menerima solusi, lalu apa tujuan kamu datang?" tangan Isel terangkat tidak menerima alasan jika Brayen datang untuk bersilaturahmi.
"Aku merindukan kamu Sel, rasanya ingin kembali ke masa kita berdua bebas tanpa hubungan apapun. Sekarang semuanya terasa beda, jarak kita sangat jauh." Tatapan mata Brayen tertuju kepada Isel yang nampak terkejut.
Dari lantai atas dua gadis remaja menatap tajam, memperhatikan Brayen yang sangat berani datang ke kediaman mereka, mengutarakan perasaannya yang tidak sepantasnya.
"Aku rasa lebih baik kamu lari, jika sampai ada yang turun tangan kamu akan hancur." Langkah kaki Mora terdengar diikuti oleh Mira yang menatap tajam.
__ADS_1
Kepala Mommy menggeleng pelan, meminta Mora Mira tidak ikut campur. Masih ada orang tua yang akan menghentikan Brayen.
"Mommy tidak mengerti arti kata rindu?"
"Mom, seandainya kalian tidak menikahkan Isel dan Uncle Dean mungkin kami masih bebas, lalu kenapa kalian menikahkan mereka?" tanya Brayen penuh tanda tanya.
"Brayen aku rasa ucapan kamu sangat keterlaluan!" Isel berdiri dari duduknya meminta Brayen keluar sebelum penjaga masuk.
Senyuman Brayen terlihat, meminta Isel duduk. Kasihani kandungannya, Brayen takut Isel keguguran lagi.
"Kurang ajar sekali," ucap Isel melangkah ke arah telepon untuk memanggil pengawal.
Brayen melangkah lebih cepat membanting telepon, menarik lengan Isel untuk mengugurkan kandungannya karena dia tidak boleh menyiksa dirinya sendiri dengan mengadung anaknya Dean.
"Aku tahu kamu menderita."
"Kamu sudah gila Brayen, lepaskan aku. Jangan sampai aku membunuh kamu!" teriakkan Isel terdengar, menatap ke arah Mora Mira yang masih tenang.
"Seharusnya kamu datang saat aku minta datang. Gugurkan kandungan kamu, hiduplah dengan bebas bersamaku Sel." Brayen mengeluarkan suntikan untuk mengugurkan kandungan.
Dari jauh Mira melemparkan ballpoint yang ada pisau kecil hingga suntikan jatuh. Mora berlari ke arah Isel yang hampir terjatuh, langsung menangkap tubuhnya.
Tatapan Brayen tajam ke arah Mira, mengeluarkan senjata api. Mommy langsung berteriak karena ada Ura yang berjalan mendekat.
"Beraninya main senjata!" Mira berlari ke arah Brayen, dua tembakan berhasil Mira hindari.
"Ternyata kalian bisa berkelahi!" Brayen mengarahkan senjata ke arah Aura yang belum mengerti bahaya.
"Ura menyingkir!" Mora berlari kencang memeluk tubuh Ura.
Brayen langsung berlari kencang saat tembakan menembus tangan Mira yang menahan peluru menggunakan telapak tangannya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1