SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENGEJUTKAN


__ADS_3

Di rumah sakit Diana sudah marah karena Isel dan Dean tidak tiba sesuai jadwal, padahal tiap dokter memiliki kesibukan.


"Apa kalian Raja dan Ratu yang datang saja harus disambut, bahkan Aira seorang selebriti saja mampu datang tepat waktu." Diana melangkah cepat karena merasa kesal.


"Ssstt berisik sekali Nenda Di," tegur Ura yang berada dalam gendongan Dean.


Dean meminta maaf karena ada sedikit keterlambatan, Dean tidak memberitahu jika Isel penyebabnya.


"Jika telat kita pulang saja, Isel punya banyak pekerjaan," tegur Isel menolak lanjut.


Helaan napas terdengar, Isel merasa sangat kesal karena dipaksa periksa padahal dirinya ada pekerjaan, apalagi tatapan mata Mamanya yang luar biasa tajam.


Diana meminta maaf kepada dokter yang menangani Isel karena terlambat, dokter bisa memaklumi karena Isel dan Dean sibuk.


"Silahkan Sel, kalian ingin melihat jenis kelamin?" tanya Dokter yang mengelus perut Isel.


"Tidak Dok, kita hanya ingin tahu kondisi janin." Dean merasa perut Isel sangat besar tidak sesuai dengan usia kandungnya yang seharusnya baru tujuh bulan.


Dokter menatap ada beberapa janin, terlihat sangat jelas. Bahkan Diana juga cukup terkejut melihatnya.


"Subhanallah kembar tiga," ujar Diana yang melihat posisi janin.


"Kita kesulitan melihat jenis kelamin yang tertutup karena ada tiga janin yang sedang dikandung." Dokter melihat kondisi janin yang terlihat normal juga sehat.


Berat badan juga sesuai karena dibagi tiga, dan perkiraan dokter usia kandungan Isel sudah jalan ke tiga puluh dua minggu.


"Melihat dari ukuran kita salah penghitungan, kemungkinan besar dia bisa lahir di akhir bulan depan atau awal bulan berikutnya."


"Tindakan apa yang diambil dok, ini ada tiga bayi. Apa tidak berbahaya jika normal?" Dean terlihat cemas karena melihat ada tiga janin yang sedang berjuang.


Rasa takut Dean masih sangat besar karena kejadian saat Diana mengandung tiga bayi. Kondisi janin yang lemah, belum lagi kekurangan gizi ditambah perdarahan. Dean tidak berani membayangkan.


"Saat ini kondisi normal, tapi jika merasa khawatir mengambil tindakan dua kali maka kita bisa jadwalkan untuk operasi," saran dokter yang bisa menyadari jika Isel mulai sesak dengan perut besarnya.


Pembicaraan terdengar serius, Diana dan Dean sepakat lahiran secara sesar karena terlalu beresiko. Demi keamanan bersama Diana meminta detail kondisi janin karena akan menentukan tanggal kelahiran.


"Ya Allah lamanya, Isel harus pulang sekarang," gumam Isel pelan.


Sampai satu jam belum ada tanda-tanda pembicaraan Dean dan Diana selesai, Isel dan Ura sudah pusing menunggu.


"Berapa lama lagi ini Mi?"


"Tidak tahu, lama sekali. Keburu beranak aku di sini." Isel menghentakkan kakinya kuat.

__ADS_1


Kepala Diana dan Dean menoleh, melihat ekspresi wajah Isel yang hampir menangis karena lama menunggu.


"Nanti kita bicara lagi Dok, terima kasih sarannya." Diana berjabat tangan begitu dengan Dean.


Senyuman Isel terlihat langsung berjalan keluar ruangan, suara Diana mengomel terdengar karena Isel tidak sabaran.


"Kamu ada urusan apa sehingga terburu-buru, tidak ada cemasnya melihat perut sebesar itu?" Diana menegur Isel yang tidak peduli dengan kemarahan Mamanya.


"Ayolah cepat, lama sekali." Isel langsung masuk mobil.


"Ada apa Dean dia terburu-buru?"


Kepala Dean geleng-geleng, tidak paham apa yang direncanakan istrinya sehingga heboh sekali.


Di perjalanan Ura meminta dibelikan makanan, Isel ingin sekali meremas kepala Ura yang banyak maunya.


Penuh kesabaran Diana menyuapi si kecil yang makan dengan lahap, Isel juga makan sambil mengoceh.


"Ada acara apa sayang?"


"Isel ada pekerjaan baru Bi."


Teriakkan Isel terdengar karena rambut Isel dijambak oleh Mamanya dari belakang, Ura tertawa terbahak-bahak.


"Lalu Isel harus bagaimana, dokter mengatakan kondisi ibu dan janin sehat, lalu apa lagi selain menunggu waktunya lahir." Isel tidak punya waktu untuk cemas, dirinya harus menyelesaikan misi perjodohan yang direncanakannya.


Hidup Isel akan hampa jika hanya dirinya yang memiliki anak, sedangkan teman-temannya asik menjomblo.


Sebagai teman yang baik membantu teman yang lain untuk mendapatkan pasangan hidup, jika bisa seseorang yang disukai.


"Awas saja kamu jika sampai terjadi sesuatu, tidak tahu saja sakitnya melahirkan sangat dahsyat." Mama Di memberikan peringatan kepada putrinya yang terlihat tidak punya beban.


"Isel juga tahu, makanya dirinya bersikap tenang dan santai."


Teriakkan Diana terdengar, jika Isel tidak hamil pasti sudah dibanting karena selalu membantah ucapan orang tua.


"Ada siapa itu?" Dean menghentikan mobilnya melihat satu mobil mewah berhenti di gerbang masuk.


Isel membuka sunroof mobil, berteriak memanggil Weni yang sedang berbicara dengan penjaga.


Biarkan mereka masuk, buka gerbangnya," perintah Isel terdengar mempersilahkan teman-temannya masuk.


"Kenapa Isel modelnya begitu, sudah mirip monyet," sindir Weni yang masuk mobil kembali.

__ADS_1


Tawa teman-temannya yang lain terdengar, mengikuti mobil Dean untuk melaju masuk ke dalam mobil.


Kepala Diana geleng-geleng karena Isel merencanakan hal baru, seharusnya dirinya tidak membawa sembarangan orang masuk ke wilayah rumah.


"Sel, kamu masih ingat kasus Brayen? sampai saat ini semakin banyak aparat yang terseret karena kasusnya terus bergulir. Dia tidak mungkin masuk jika kita tidak membukakan pintu," jelas Diana yang menegur Isel.


"Kali ini beda Ma, Brayen bisa masuk karena dia dianggap keluarga, tapi teman Isel bukan keluarga." Isel keluar dari mobil dengan santai.


Diana dan Dean saling pandang, tidak bisa bicara lagi karena Isel selalu melakukan sesuka hatinya.


"Kamu tidak berniat menghentikan Dean?"


"Selama Isel bahagia maka Dean mendukungnya. Kita membayangkan kembar tiga saja khawatir, apalagi Isel. Mungkin dia hanya sedang menutupi kecemasan dengan bertemu teman-temannya," jelas Dean meminta pengertian Kakaknya.


Akhirnya Diana pasrah, menatap putrinya yang memeluk teman-temannya. Terlihat sekali kecemasan dan perhatian melihat perut besar Isel.


"Kenapa kamu meminta aku datang? Lagian aku bukan dokter yang bisa membantu lahiran," ujar Vio sambil mengusap perut Isel.


Tubuh Vio, Weni dan Laura membungkuk saat melihat Diana, senyuman kecil terlihat menatap tiga wanita yang sejak kecil menjadi teman Isel.


"Ada acara apa kalian ke sini?" Mama Di merasa penasaran.


"Kita juga tidak tahu Tante," jawab Vio.


Sebuah mobil mewah berhenti, Diana bingung melihat Dika datang bersama istrinya. Diana berpelukan dan saling menyapa.


"Ada apa Kak Dimas meminta kita datang?" Tanya Dika menatap Diana yang geleng-geleng.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa tiba-tiba?" Diana menatap binggung.


"Kita ada rapat pembatalan pernikahan Devan dan Dokter anastesi, alasan pembatalannya karena Devan menghamili wanita lain," jelas Isel membuat semua orang tersentak kaget.


Bunda langsung terduduk lemas, memegang dadanya hampir jantungan karena mendengar kabar putranya menghamili anak orang.


"Cari mati Devan." Dika langsung berjalan ke arah rumah kakaknya.


Vio tergagap bersama Weni dan Laura yang tahu rencana Isel yang sangat mengejutkan. Vio tidak bisa berkata-kata lagi karena dirinya dituduh hamil.


"Anjing kamu Sel," gumam Vio panik.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2