SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SALAH ORANG


__ADS_3

Suara teriakan Isel terdengar, Ai menarik rambutnya untuk melakukan apa yang Aira minta tanpa alasan.


"Perut Isel masih sakit tahu!"


"Tidak peduli, bagaimanapun caranya harus ada yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu." Teriakkan Aira terdengar memaksa Isel menepati janjinya.


"Percuma saja Kak Ai, Imel tidak mungkin ditahan polisi. Pasti akan ada orang lain yang bertanggung jawab untuknya." Tatapan mata Isel tajam menunjukkan layar laptopnya menunjukkan keberadaan Imel.


Rekaman CCTV yang awalnya sudah dihapus berhasil Isel pulihkan kembali sehingga bisa melihat bukti jika Imel yang mengendarai mobil.


Bukti rekaman CCTV memang ada di tangan mereka, tapi jika diberikan kepada kepolisian kemungkinan besar bukti tidak diterima.


"Aku tidak mungkin membobol kantor polisi untuk kasus ini, ada Papa di sana, Uncle Genta juga bahkan Kakek. Nama mereka bisa tercemar jika sampai kita tertangkap." Isel bisa melakukan apapun, namun tidak bisa mempermalukan keluarganya.


Kepala Lea tertunduk, ucapan Isel tidak salah demi menjaga nama keluarga yang memiliki pangkat.


Pintu kamar Isel terbuka, seorang pemuda bertumbuh tinggi, kurus dan menggunakan kacamata berdiri dengan ekspresi dingin.


"Kakak, kapan kembalinya?" Isel langsung terduduk Dipinggir ranjang dengan tangan saling menggenggam.


"Ghiandra, kamu kembali." Senyuman Aira terlihat, tapi langsung duduk di pinggir ranjang, tidak berani bercanda dengan Ian.


Laptop Isel langsung diambil alih, tatapan mata dingin masih terlihat. Dua wanita tidak ada yang berani bergerak, Lea juga memutuskan duduk.


"Siapa dia Ai?"


"Ian, Kakak kedua Isel,"


"Kenapa wajah tampannya tertutupi mata elang?"


"Dia psikopat, tidak punya kelembutan hati. Aku pikir dia sang penyelamat, tapi setelah tumbuh menjadi monster." Ai meletakkan jarinya di bibir meminta Lea duduk diam.


Tidak ada yang berani melihat apa yang Ian lakukan, dia terlihat sibuk sendiri di laptop Isel.


Lama tiga wanita duduk diam menunggu, tidak ada sepatah katapun yang keluar. Bukan menyapa Ian melakukan sesuatu yang tidak Isel dan Ai mengerti.


"Kak ...."


"Ini orang yang kalian takuti, membuat aku harus kembali ke sini gara-gara nenek dan gadis itu." Ian melepaskan kacamata menatap Isel dan Aira yang masih diam.

__ADS_1


Kepala Isel menggeleng, dia tidak tahu apapun. Menunjuk ke arah Aira yang terlihat kaget karena Isel menyalahkan dirinya.


"Dia adik aku, kami hanya berencana menghentikan dia. Kepergian nenek Taher, itu rencana Isel." Lea menjawab Ian yang tersenyum mengejek dirinya.


"Nenek itu meninggal, dan aku yang bertanggung jawab sampai pemakaman. Dia diracuni perlahan karena meninggalkan negara tanpa membawa penawar akhirnya tewas." Tawa kecil Ian terdengar menatap tiga wanita yang sama-sama berdiri kaget.


Ai menelan ludah pahit, Imel selama di luar negeri melakukan kejahatan dengan membuat obat berbahaya untuk membunuh perlahan.


Apa yang Imel lakukan semuanya ilegal, Ian tidak ingin ikut campur tapi kemunculan Nenek yang meninggal membuat dia harus kembali karena pihak rumah sakit meminta Ian menemukan obat penawar untuk penelitian.


"Aduh perut Isel sakit, Mami tolong." Isel ingin melangkah keluar.


"Astaga, aku lupa jika kita harus shooting iklan." Ai menarik tangan Lea untuk segera pergi.


Kerah baju Aira dan Isel ditarik, Ian meminta Isel menemukan keberadaan penawar, sedangkan Aira harus membawa Ian bertemu dengan Imel.


"Apa kamu hanya mementingkan penelitian? Imel menyebabkan kecelakaan beruntun, bukannya keadilan jauh lebih penting. Kamu harus menghentikan dan menahannya, bukan mementingkan penelitian." Suara Lea meninggi meminta Ian menghentikan Imel bukan melakukan pertemuan.


"Aku tidak peduli. Orang seperti dia hanya benalu, dan jika aku ingin menyingkirkannya terlalu mudah." Mata Ian tajam menatap Lea.


"Lakukanlah! sehebat apa kamu?"


Ponsel Lea dikembalikan, sekarang Lea yang akan melawan Imel. Cepat atau lambat Imel akan dipanggil sebagai tersangka, tapi Imel akan menuduh Lea perilakunya.


"Kita lihat saja, kamu atau Imel yang akan masuk penjara. Ponsel ini akan dilacak, maka tahu siapa yang menyebarkannya." Senyuman Ian terlihat meminta Lea berjuang untuk menang.


"Ini ini ... ponsel ini milik Juan bukan aku, handphone kita tertukar." Lea bicara terbata-bata karena Ian tidak bisa ditantang.


Kedua tangan Isel menuntut mulutnya menahan tawa, sedangkan Aira tertunduk mengenggam kedua tangan menahan tawa sebelum pecah.


Saat tegang Lea membuat lelucon tidak bicara sejak awal jika ponsel bukan miliknya, sekarang Juan yang berada dalam masalah.


"Sialan!" Ian mengambil kembali ponsel.


"Jangan salahkan aku, kamu tidak bertanya." Lea menatap sinis.


"Di mana Kak Gion? Kak! tolong hentikan ini!" Ian berlari keluar mencari kakaknya untuk menghapus data yang dia search secara publik.


Tawa Isel dan Aira terdengar, Ian sangat mirip dengan Diana sangat mudah emosi. Keduanya sakit perut mentertawakan karena Ian panik.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi dengan Juan?"


"Dia akan ditahan karena menyebarkan barang bukti, pengacara Imel juga pasti akan menuntut kak Juan." Aira langsung keluar mencari keberadaan Gion.


"Tidak boleh, Juan tidak salah." Lea juga mengejar Aira yang penasaran dengan nasib kakaknya.


Pertengkaran dua saudara kembar terdengar, Gion sedang asik bermain game, tapi Adiknya datang dengan cara memaksa.


Ketiga wanita menempelkan telinganya ke pintu, berharap bisa mendengar sesuatu. Diana yang baru kembali dari rumah sakit kebingungan dengan apa yang didengarkan.


"Ada apa Sel?"


"Diam Diana," ucap Isel yang tidak menyadari ucapannya.


"Anak kurang ajar." Diana langsung mendobrak pintu melihat kedua anak lelakinya sudah berguling saling pukul.


Gion dan Ian kaget melihat Mamanya, langsung duduk diam. Diana mengambil bantal memukul keduanya.


Kedua tangan Gion dan Ian dipukul kuat sampai penggaris patah, Diana tidak suka jika sesama saudara saling menyerang.


"Maaf Mama, Ian hanya meminta bantuan kepada kak Gion,"


"Tapi cara kamu meminta bantuannya memaksa. Gion sudah katakan tunggu sampai selesai,"


"Menunggunya lama Kak, Ian butuh cepat. Main game bisa nanti." Air mata Ian menetes karena tangan memerah.


Gion tidak suka jika sedang bermain game diganggu, dia pasti akan membantu jika gamenya selesai. Sedangkan Ian ingin cepat dibantu karena keadaan genting.


"Minta maaf sekarang, kalian kurang ajar sekali. Satu baru pulang bukan menyapa orang tua, tapi bertengkar. Ini yang kalian dapatkan jauh dari Mama." wajah Ian dan Gion ditampar.


Tangisan Isel langsung terdengar, memeluk kedua kakaknya yang dimarah karena dirinya. Ketiganya langsung menangis meminta maaf kepada Diana yang juga menangis melihat a anak-anaknya memohon maaf.


"Ayo kita kabur." Ai menarik tangan Lea untuk segera melarikan diri karena kembar tiga dimarah habis-habisan.


"Bagaimana nasib Kak Juan?"


"Terserahlah, dia tidak mungkin ditahan dengan mudah. Lebih baik kita selamat dulu." Ai dan Lea berlari kencang keluar rumah.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2