SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HUBUNGAN SERIUS


__ADS_3

Senyuman Aliya terlihat menatap Lea yang sedang mencoba gaun pengantinnya. Dia terlihat sangat cantik dan anggun.


Aira keluar dari ruangan ganti, menunjukan kebaya yang dia kenakan untuk acara lamaran.


"Cantiknya, penggemar kamu pasti heboh Ai,"


"Mereka tidak boleh tahu, Dean tidak mungkin terima jika hubungan ini diumumkan." Ai ingin duduk, tapi bajunya terlihat sangat ketat.


Suara tawa Aira dan Lea terdengar, Aliya merasa tidak senang dengan tawa Putrinya yang terlihat sangat dipaksakan.


Ai bisa menyembunyikan perasaan dari seribu orang, tapi tidak dari Aliya yang sudah melahirkannya mempertaruhkan nyawa.


"Gaun kamu bagus Lea, Minggu depan kamu akan menjadi wanita paling cantik,"


"Jangan memuji aku, rasanya geli. Aku yakin dulu kita pasti musuh bebuyutan." Lea ingin membuka gaunnya karena Juan batal datang terlalu sibuk bekerja.


Tawa Aira terdengar, meksipun Lea melupakannya namun perasaannya sangat peka jika mereka memang tidak akur.


"Meskipun kita selalu bertengkar, setidaknya aku yang jagain kamu," bantah Ai.


"Aku yang menjaga kamu Ai, dua tahun di luar aku yang mengawasi kamu sampai tidak tidur." Tangan Lea menunjuk ke arah Aira yang sudah hilang.


Suara Lea marah-marah terdengar karena kesal Juan gagal datang demi meeting, pekerjaan prioritas utamanya dan mengabaikan calon istrinya.


"Mami kenapa diam saja?"


"Apa yang ingin Mami katakan jika kalian berdua selalu debat?"


"Ya sudah, Aira pergi dulu soalnya Dean sudah jemput." Tangan Ai melambai mengunakan masker dan topi agar tidak ada yang mengenalinya.


Di depan gedung Dean sudah duduk santai memainkan ponselnya menunggu Aira keluar, pintu mobil terbuka Ai langsung masuk sambil membuka topinya.


"Kamu ingin ke mana? apa aku terlihat seperti pengangguran?" tatapan mata dingin terlihat.


"Minggu depan Kak Juan menikah, apa kamu tidak membutuhkan bantuan Ai." Aira tahu jika Dean mengerjakan dua kasus, satu kasus pembunuhan dan satunya orang hilang.


Ai ingin tahu lokasi tempat pembunuhan agar bisa membantu menyelesaikan kasusnya. Dean langsung menggeleng jika dia sudah selesai sidang.


"Aku sedang mengosongkan jadwal karena ada sesuatu yang mengganjal,"


"Soal apa?"


Helaan napas Dean terdengar, dia tidak ingin membahas soal Black kepada Aira. Mengungkitnya juga tidak akan mengubah keadaan mereka.

__ADS_1


"Aku hanya ingin beristirahat,"


"Kenapa kamu yang beristirahat? kita hanya bertunangan. Kak Juan yang menikah saja masih gila kerja." Ai mengambil permen dari tasnya mengupas untuk Dean.


Permen langsung diambil, Dean menghentikan mobilnya di pinggir danau yang dekat dengan taman.


Masalah pertunangan, Dean cukup risih dengan sikap Ai yang menyerahkan semua keputusan kepada keluarga seakan tidak ingin ikut campur.


"Kenapa kamu menerima perjodohan pertunangan kita?"


"Pertanyaan aneh, bukannya sejak kecil kita sudah dijodohkan?"


"Apa kamu mencintai aku?"


Senyuman Dean terlihat, dia tidak ingin Aira menikah dengannya secara terpaksa. Dean memang sangat mencintai Aira, namun dia tidak ingin jika Ai akan terluka.


"Dean, kapan aku pernah menarik ucapan? jika aku memberikan keputusan kepada Papi dan Mami berarti aku sudah memikirkannya dengan matang. Keputusan aku sudah yakin." Ai tahu jika dirinya terlihat tidak berperasaan namun Ai tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


Kepala Dean mengangguk, dia tahu jika Aira selalu menempati ucapannya. Dia selalu memikirkan keputusan sebelum diucapkan.


"Baiklah, jika kamu yakin kita lanjutkan pertunangan ini. Kita bukan anak kecil lagi Ai, kamu bukan teman atau saudara, tapi wanita di mata aku." Dean tidak akan memperlakukan Aira seperti awal.


Tangan Dean mengenggam jari-jemari Aira, kening Aira berkerut begitupun dengan Dean yang menatap canggung.


"Jijik." Tangan Dean melepaskan genggaman.


"Sorry Ai, aku jijik." Dean membuka pintu mobil untuk mencari udara segar.


Seseorang berlari kencang, penampilannya sangat mirip dengan Isel. Beberapa orang mengejar remaja yang menggunakan sepatu roda.


"Isel." Dean berlari kencang mengejarnya.


Beberapa orang terlewati, Dean menarik pergelangan tangan menatap seorang remaja yang sedang mencuri dompet.


Beberapa orang ingin memukuli, tapi Dean menghentikan menunjukkan kartu namanya sebagai pengacara.


"Dia pencuri, dan ini bukan pertama kalinya,"


"Baiklah, saya yang akan membawanya ke kantor polisi. Ini milik siapa?" Dean mengembalikan dompet.


Topi terbuka, Dean terlihat kecewa karena wanita yang dia lihat bukan Isel. Sudah beberapa bulan Dean tidak berkabar dengan keponakannya yang selalu menganggu.


Tubuh Dean di dorong, remaja langsung melarikan diri. Tidak ada niatnya untuk mengejar karena memikirkan Isel.

__ADS_1


"Kamu merindukan Isel?" Aira menatap Dean yang tanpa berpikir langsung lari jika bersangkutan dengan Isel.


"Aku hanya mencemaskan dia, tidak ada satupun yang mencarinya. Isel perempuan, tapi berada di luar pengawasan,"


"Isel sudah besar, dia bisa menjaga diri." Aira duduk di kursi santai diikuti oleh Dean.


Sampai kapanpun di mata Dean, Isel hanya gadis kecil. Dean tidak pernah melihatnya dewasa sampai sangat mencemaskan kepergiannya.


Ai menatap ponselnya, dia sudah berhasil menemukan keberadaan Isel, jika sampai Juan menikah Isel tidak kembali Aira sendiri yang akan datang menjenguknya.


Aira juga penasaran alasan Isel pergi ke negara yang sangat jauh, hanya mampir sebentar ke tempat Kakek neneknya lalu pergi lagi.


"Apa yang Isel tinggalkan di sana, jika dia ingin pergi seharusnya tidak perlu mampir di negara yang berjarak jauh." Ai tersenyum kecil, dia tidak memahami pemikiran sepupunya.


"Kenapa kamu melamun?"


"Memikirkan jika kita menjadi suami istri, kira-kira kamu ingin anak berapa?" Ai menggoda Dean yang tersenyum kecil.


"Sebanyak mungkin, tiga kali kembar jadinya enam,"


"Kenapa tidak lima? jadinya sepuluh." Pukulan Aira kuat, dirinya mirip kucing bisa mengeluarkan bayi begitu mudahnya.


Tawa Dean dan Aira terdengar, menikmati taman yang mulai ramai karena banyak pengunjung yang bersantai.


Obrolan keduanya membahas masa kecil mereka, Ai tidak diizinkan ke taman karena selalu memukul orang sehingga hanya bermain di rumah.


Lirikan mata Aira tajam, melihat seseorang yang sedang memantau keberadaan mereka. Ai tersenyum karena dia bisa merasakan keberadaan orang-orang yang mengintai.


"Kamu memiliki musuh?"


"Kenapa? apa ada yang mengawasi kita?"


Kepala Ai mengangguk pelan, Dean masih duduk santai. Hal biasa banyak yang datang meneror setiap Dean memiliki kasus berat.


"Kita bereskan di tempat lain." Ai berdiri mengulurkan tangannya mengenggam tangan Dean.


Tangan Aira dilepaskan, Dean merangkul pinggang Aira berjalan ke tempat yang sepi. Senyuman Aira terlihat karena Dean sangat pintar bersandiwara.


"Di mana mereka?"


"Tidak ada, aku rasa mereka hanya mengawasi," jawab Ai santai.


Dean melepaskan rangkulannya, jika Ai lelaki sudah lama ditendang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2