
Mata Angga terbuka, melihat ada beberapa orang berpakaian putih berdiri di sisinya. Senyuman Angga terlihat setidaknya kematiannya tidak disambut oleh malaikat berbaju hitam.
"Ini operasi pertama yang berhasil, pemuda ini memiliki keinginan hidup." Beberapa Dokter bertepuk tangan karena usaha panjang mereka membuahkan hasil.
"Kita malaikat kematian, baru kali ini juga baju kebanggaan para dokter dianggap baju malaikat." Hendrik membuka jas putihnya menatap mata Angga yang terlihat teduh.
"Malaikat tanpa sayap, kenapa malaikat ada jengot?" tawa kecil Angga terdengar, melihat tubuhnya tanpa baju hanya bagian dadanya tertutup kain.
Selimut panjang berwarna putih menutupi kakinya, Angga menatap tangannya yang kurus seperti tidak pernah makan karena memang dia hanya bertahan dengan infus selama bertahun-tahun.
Tidak banyak makanan yang dikonsumsi oleh Angga sehingga bayangan pertama daging bakar yang menjadi hidangan favoritnya.
"Boleh meminta daging?"
"Sadarkan dulu diri kamu, setelah ini aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan." Hendrik tersenyum puas mengirimkan rekaman video kepada Isel agar bisa menepuk sekolahnya dengan tenang tanpa memikirkan Angga.
Penciuman Angga berfungsi dengan baik, dia bisa membawa tubuh dokter yang wangi, tapi tidak dengan tubuhnya.
"Aku lapar,"
"Syukurlah, kamu bisa bangun dan menyelesaikan masalah yang tertunda." Dokter Hendrik meminta ada orang khusus yang menjaga Angga karena baru Hendrik ketahuan jika pria yang dia selamatkan orang yang dikenal seluruh negeri.
Suara langkah kaki berlari terdengar, anak kecil berusia delapan tahun naik ke atas ranjang Angga.
"Blackat, ini Uncle Blackat. sudah Haidir katakan Uncle Black masih hidup. Ye, Ayah hebat bisa menolong Uncle super Hero." Teriakan anak Hendrik terdengar tersenyum manis dihadapan Angga.
Dokter lain langsung keluar, Hendrik mencolek putranya untuk tidak menyebut nama. Hendrik juga tahu soal Angga dari anaknya yang mengidolakan Blackat.
"Nama aku Angga, Blackat sudah mati beberapa tahun yang lalu," ucap Angga melihat anak kecil mengingatkannya kepada kembar beda rahim.
Bibir Haidir monyong, melipat tangannya di dada memperhatikan wajah Angga yang memang berbeda karena tubuhnya jauh lebih kurus.
"Sayang, kamu ke sini bersama siapa?"
"Kakek, tidak mungkin bersama Bunda." Tawa Haidir terdengar langsung turun dari ranjang.
__ADS_1
Melihat Angga yang akhirnya bangun, Haidir meninggalkan beberapa cemilan miliknya. Senyuman Angga terlihat langsung mengambilnya.
"Haidir pamit dulu, nanti main lagi." Tangan Haidir melambai, bergegas pergi karena dia harus sekolah.
Hendrik juga keluar, mengikuti anaknya karena tas Haidir penuh makanan bukan buku untuk belajar.
Angga tersenyum melihat anak dan Ayah seperti berteman, anak kecil yang lucu juga baik hati.
"Aku merindukan Mora dan Mira, apa mereka menjaga dengan baik kucingnya?" Angga memakan cemilan yang diberikan oleh Haidir merasakan makanan yang sudah lama lidahnya tidak bisa merasa.
Air mata Angga menetes, memegang dadanya yang tidak terasa sakit lagi hanya saja tubuhnya belum bisa banyak bergerak.
Laci terbuka, Angga mengambil catatan dari Isel soal pernikahan Lea dan Juan, melihat tanggal membandingkan dengan waktu tempatnya berada.
"Lea akan menikah tiga hari lagi, aku harus memberikan dia hadiah." Angga mengambil ponsel yang masih utuh, menghidupkannya kembali setelah dua tahun mati.
Saldo rekening Angga tidak berkurang sama sekali, dia harus pulang dan melihat pernikahan adiknya meskipun Angga tahu dia tidak boleh dikenali.
"Kamu pasti kesepian karena tidak memiliki satupun keluarga, setidaknya aku harus melihat kamu menjadi seorang istri." Senyuman Angga terlihat mencoba untuk berdiri, memaksa dirinya untuk kuat agar bisa pulang dan menjenguk Adiknya.
Seorang pengawal menahan Angga, dia diperintahkan untuk menjaga. Angga belum boleh banyak gerak karena dia baru saja pulih setelah dirawat selama satu bulan.
Dia harus meminta izin terlebih dahulu kepada dokter Hendrik, Angga belum boleh keluar.
Tidak ingin membantah, Angga duduk kembali di ranjang menatap ponselnya mencari berita kematiannya.
Senyuman Angga terlihat, mengagumi para penggemarnya yang masih saja mengunjungi tempat kecelakaan yang menghilangkan Black.
"Cie yang sebentar lagi bersinar? Isel bisa konser lagi." Tawa Isel terdengar sambil joget-joget menggoda Angga.
"Kapan kamu sampai?"
"Subuh, tapi pulang ke rumah nenek untuk beristirahat. Bagaimana kondisi Kak Angga, kita sudah bisa konser lagi atau menonton lagi?"
"Aku belum tentu kembali Isel, suasana sudah berbeda,"
__ADS_1
Kepala Isel menggeleng, selama ini Angga hanya beristirahat dari kepenatan jadwalnya yang padat. Setelah istirahat selesai, dia harus kembali menjadi bintang.
"Tidak ada yang berubah, hanya saja saat kita pulang Kak Ai berstatus istri orang. Lepaskan dia, nanti akan banyak wanita yang mengejar cinta Blackat." Isel duduk di kursi, namun tidak melihat senyuman Angga.
Kepala Angga tertunduk, melihat potret Aira yang menjadi bintang sesuai impiannya. Ai membuktikan jika dia bisa menjadi bintang yang diidolakan banyak orang.
"Aku mencintai Aira, tapi takdir memutuskan hubungan kami. Aku harap Aira bahagia, dan aku bisa memulai kehidupan baru tanpa beban." Angga teringat dengan Imel yang meninggal saat tenggelam.
Beberapa daftar korban yang meninggal, satu hilang dan satu selamat. Angga tahu jika Imel hanyut sedangkan dirinya gagal menangkap tangan Adiknya.
"Semua itu awal saja Kak, selama kita hidup tidak ada namanya damai tanpa masalah. Biarkan Imel mati dalam kedamaian setelah menyingkirkan kakaknya, ingatan saudara kembarnya, juga menghabisi kedua orangtuanya." Genggaman tangan Isel erat, dia masih menyimpan dendam kepada orang yang sudah tidak bernyawa.
Angga mengutarakan keinginannya untuk pulang, Isel kaget mendengarnya karena Angga ingin melihat Lea menikah.
Isel tidak setuju, di sana banyak para pejabat juga keamanan yang ketat. Tidak mudah menembus masuk. Jika sampai ada yang mengenali Angga maka akan terjadi kekacauan.
"Kak Ai dan uncle juga akan bertunangan. Apa Kak Angga ingin menghentikannya?"
Kepala Angga menggeleng, dia hanya ingin melihat Lea. Menjadi saksi pernikahan adiknya.
"Lea tidak punya keluarga, dia hanya sendiri. Setidaknya aku harus datang memberikan hadiah." Angga meminta Isel tidak menahannya.
Angga berjanji tidak akan membuat masalah, dia akan pergi setelah Lea menikah. Harapan Angga cukup melihat Lea untuk terakhir kalinya karena tidak akan pernah kembali lagi.
"Jika Kak Ai tahu aku menyembunyikan Kak Angga, nyawa Isel melayang." Tangan Isel mencekik lehernya sendiri.
"Mora dan Mira mengetahui aku masih hidup,"
Jantung Isel serasa berhenti berdetak, langsung duduk di lantai. Si kembar beda rahim tahu soal Angga.
"Bagaimana mereka bisa tahu?"
Senyuman Angga terlihat, Angga bangun pertama kali setelah menjalankan operasi kedua. Dia keluar rumah sakit untuk mencari Aira, tapi bertemu si kembar beda rahim yang mencuri kucing, tapi ketahuan, lalu Angga membelinya dengan menukar jam bermerek.
"Kenapa Kak Angga baru bicara sekarang? matilah aku." Isel meremas rambutnya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira