SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MEMINTA BANTUAN


__ADS_3

Senyuman sinis Lea terlihat, melambaikan tangannya melihat Silvia ditahan polisi karena sudah mencemarkan nama baik kakaknya sekaligus aktor pertama di perusahaannya.


Lea menyerang balik dengan mengumumkan perihal kehamilan Silvi, dia sudah menargetkan Black sejak shooting terakhir di pulau.


"Aku pikir butuh waktu beberapa hari untuk menyingkirkan dia dari industri hiburan, ternyata semudah itu?" Ai tertawa melihat Lea baru saja kembali dan akan mulai aktif menemani Aira di setiap aktivitasnya.


"Dari awal sudah ingin aku singkirkan, tapi kita sempat berlawanan karena kasus Anggrek sehingga tertunda. Anak yang dia kandung seorang pria beristri." Lea menceritakan jika Silvia memang sudah patut diasingkan karena hanya merugikan.


"Baguslah, kita hanya menunggu kabar Imel hancur setelahnya semuanya akan berjalan mulus." Ai memejamkan matanya dia ingin Blackat segera melakukan pengobatan.


"Apa yang terjadi kepada Imel?"


Kedua pundak Aira terangkat, melanjutkan make up yang tertunda karena Lea yang banyak tanya.


Ponsel Aira berdering, Lea langsung mengambil karena Aira sedang shooting iklan. Nomor yang tertera tidak memiliki nama, Lea menjawabnya tanpa mengeluarkan suara.


Rintihan dan suara memohon terdengar, Ai mengambil handphone menghidupkan speaker agar mereka bisa mendengar suara bersama-sama.


Tatapan mata keduanya bertemu, Ai langsung mematikan panggilan secara sepihak, tanpa memberikan jawaban.


"Ada apa dengan wanita itu?"


"Ternyata dia masih hidup, aku pikir sudah dimatikan." Ai menatap kaca, memperhatikan wajahnya yang sangat cantik.


"Apa dia nenek Imel?"


"Ya,"


"Aku harus menemui dia Ai, jika hanya menunggu tidak akan membuahkan hasil apapun." Tanpa menunggu jawaban Aira, Lea bergegas ingin pergi meskipun sendiri.


Teriakan Ai terdengar, meminta Lea menunggu dirinya berganti baju. Lea tidak memiliki pengalaman soal kejahatan sehingga Aira harus turun tangan.


Nenek Taher meminta bantuan Aira untuk menyelamatkan agar anak cucunya tidak saling membunuh hanya karena harta warisan.


Topi terpaksa di kepala Ai, masker juga terpasang di wajah Ai. Lea hanya menggunakan topi mengikuti Aira untuk pergi ke parkiran mobil.


"Bagaimana cara kita menemui Nenek itu?"


"Daripada berpikir cara menemuinya, lebih baik kita pikirkan bagaimana jika ini jebakan." Kedua alis Aira naik turun.

__ADS_1


Nenek Taher bukan tipe seseorang yang akan menurut, tapi jika sampai dia menurut pasti ada sesuatu yang dia lindungi.


Sesuatu yang besar dan sangat berharga, Aira sedang memikirkan wanita berusia sembilan puluhan apa yang masih berarti dalam hidupnya.


"Berapa usianya? sembilan puluhan tahun, anjing tuanya." Lea menutup mulutnya karena kaget wanita tua yang panjang umur.


"Anjing tidak setua itu, manusia bisa berusia sampai ratusan tahun. Sembilan puluh masih muda,"


"Muda matamu! hidup dua puluh tahun saja aku hampir ubanan, banyak sekali masalah hidup. Bagaimana jika ratusan tahun? bisa gila aku. Berapa generasi terlewati? melihat anak cucunya lahir dan mati." Lea seperti cacing kepanasan mengomel dan membandingkan usia.


Aira hanya tertawa terpingkal-pingkal sambil menyetir mobil, Lea bicara fakta hidup selama itu pasti menyedihkan karena menjadi saksi hidup dan mati.


"Lalu apa yang berharga? mungkin suaminya,"


"Sudah meninggal delapan puluh tahun yang lalu?"


"Kenapa bisa begitu? masa iya dia menikah usia belasan tahun. Kasihan sekali suaminya,


"


Aira menendang Lea menggunakan kakinya, merasa kesal karena memikirkan pernikahan wanita tua yang usianya hampir ratusan tahun.


"Selingkuhan, mungkin dia memiliki karena tidak mungkin menjadi janda delapan puluh tahun tidak jatuh cinta." Lea tertawa merasa lucu ada janda delapan puluh tahun.


Keduanya saling pandang, tangan Aira masih melekat di leher Lea. Pikiran Aira lebih mengerikan lagi dari bayangan Lea.


"Bagaimana jika Nenek Taher mempunyai anak dan dia seorang wanita?"


Kedua tangan Lea mendorong Aira, menendangnya sampai mobil mereka bergoyang karena pikiran Aira sudah gila.


Nenek tua tidak mungkin melahirkan apalagi mempunyai anak di usia sembilan puluhan lebih.


"Sakit sialan!" Ai memukul Lea, langsung menghubungi Diana menanyakan kemungkinan hamil paling tua berusia berapa.


[Apa yang kamu tanyakan ini? sudah tua apa masih punya waktu untuk memiliki anak, usia empat puluh saja sudah tua.] Diana mengomel memarahi Aira yang bicara tidak jelas.


[Bagaimana jika ada?]


"[Tidak mungkin. Kecuali dia menyimpan sel telur saat muda, dan bisa digunakan dalam kurun waktu yang lama.]

__ADS_1


Panggilan langsung Aira matikan, dugaannya bisa saja benar. Kebanyakan bisnis legal menjual milik lelaki yang sangat tampan, kepada wanita singel hingga dia hamil.


"Kenapa wanita melakuan itu?"


"Agar keturunannya tampan,"


"Sekalipun tidak memiliki suami?"


Kepala Aira mengangguk, bisa jadi Nenek Taher melakukan hal yang sama tidak diketahui oleh anak cucunya bersama mantan-mantan suaminya.


Ai tidak tahu wajah asli Nenek Taher, hanya Isel yang tahu sehingga mereka harus menemui anak dibawah umur yang sedang mengikuti perlombaan kecerdasan.


Dari jauh Aira dan Lea sudah melihat Isel yang berjalan sambil menghentakkan kakinya, tas sudah tergantung dilehernya seperti orang gila.


"Kenapa dia?"


"Tidak tahu, gila mungkin. Pulang lomba menangis sambil marah-marah." Ai menatap Isel yang masuk mobil sambil menangis.


Mobil kembali melaju untuk pergi menemui Nenek Taher, diiringi tangisan Isel yang meraung-raung seperti singa ingin mati.


"Sudahlah jangan menangis, kalah sudah biasa dalam perlombaan. Aku juga dulu selalu kalah melawan Juan dan Dean." Lea memberikan tisu.


"Isel sedih tahu, kapan selesainya? Isel capek lihat kertas terus. Sudah disalahkan ternyata banyak yang lain juga salah. Akhirnya Isel ikut lomba lagi, Isel tidak mau." Tangisan semakin kuat merasa kesal dengan banyak orang karena banyak yang bodoh.


Aira hanya bisa tertawa melihat sepupunya yang sangat aneh, sedangkan Lea mengusap dadanya terheran-herna melihat tingkah laku Isel yang sangat aneh.


Banyak anak yang menangis karena gagal, sedangkan Isel menangis karena dia behasil. Lea dulu sampai mengurung diri di kamar karena kalah melawan Juan, sejak saat itu bertekad ingin mengejarnya meskipun tetap tidak mampu.


"Kita ingin pergi ke mana? makan dulu. Isel sedang sedih butuh makanan." Kedua tangan Isel mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Tidak bisa ditahan dulu,"


"Nanti Isel mati kelaparan, harus makan sekarang!"


Lea menepuk pundak Aira untuk berhenti makan, kepala Lea pusing mengurus anak kecil yang suka mengamuk.


"Satu kali makanan, temukan informasi soal nenek Taher. Dia meminta bantuan karena dikurung oleh Papinya Imel dan anaknya Kevin." Ai membuat perjanjian dengan Isel yang tahu wajahnya Nenek Taher yang sangat tua.


"Dia tidak terlalu tua, masih cantik dan terlihat awet. Dia hanya duduk di kursi roda." Isel mengingat senyuman licik nenek Taher.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2