SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENCARI PELAKU


__ADS_3

Cepat Isel berdiri setelah tubuhnya terpental karena menghindari mobil yang sengaja ingin mencelakainya.


"Uncle, Isel baik-baik saja jangan khawatir." Isel berlari memeluk Dean yang masih gemetaran karena di depan matanya Isel hampir celaka.


Kedua tangan Isel digenggam, Dean mengecek kondisi Isel yang mengalami luka ringan.


"Kamu baik-baik saja, yakin tidak ada yang sakit?" Dean memeluk Isel lembut merangkulnya masuk ke dalam mobil.


Kecemasan Dean sangat berlebihan, Isel sangat yakin jika dirinya baik-baik saja. Orang yang mengemudi dengan kecepatan tinggi kemungkinan memang tidak sengaja.


"Aku akan mencari mobil itu, kamu tidak perlu memikirkannya." Dean menggenggam jari jemari untuk segera ke rumah sakit.


"Sudahlah Uncle jangan dipikirkan, kawasan ini tidak ada CCTV. Belokan tajam depan juga sepanjang jalan tidak ada apapun." Kedua tangan Isel memeluk erat karena dia sedang bahagia karena dikhawatirkan.


Di dalam hatinya Isel masih mengingat detail mobil yang menghampirinya ingin mencelakai.


"Aku akan datang menemui kamu, menyingkirkan aku tidak semudah membalikkan telapak tangan, jadi jangan sembarangan," batin Isel di dalam hatinya, dia pasti akan membalas siapapun orangnya.


Helaan napas Dean terdengar, dia yakin jika kecelakaan Isel di sengaja, tidak mungkin ada yang mengemudi dengan kecepatan tinggi di dekat jembatan.


Sampai di rumah Dean langsung berjalan ke rumahnya tanpa mengatakan apapun, kepala Dean masih berdenyut memikirkan mobil yang ingin menyakiti Isel.


"Dean, coba lihat undangan pernikahan ini?" Mommy menunjukkan undangan yang akan segera disebar.


"Bagus Mom, lebih cepat lebih baik," ujar Dean meminta undangan secepatnya di sebar.


Suara tawa Isel terdengar, memeluk Mommy Anggun yang sibuk menyusun undangan yang sudah jadi.


"Ke mana Sel?" tanya Diana.


"Kamar Uncle, soalnya tadi Isel hampir ditabrak dan Uncle pasti akan mencari informasi tahu siapa pelaku." Secepat kilat, Isel langsung hilang dari pandangan.


Diana dan Mommy langsung kaget, Isel masih bisa tertawa saat ada orang yang ingin mencelakainya.


Pintu kamar Dean terbuka, Isel langsung masuk tiduran di atas ranjang menikmati kenyamanan di kamar yang sangat jarang ada yang busa masuk.


Mata Isel terbelalak besar melihat Dean keluar dari kamar mandi tanpa baju, hanya terlilit handuk di pinggangnya.


Isel menelan ludah, sungguh pemandangan yang jarang disaksikan. Dean masih belum menyadari keberadaan Isel, langsung duduk menghidupkan laptopnya.

__ADS_1


"Siapa pemilik mobil itu, apa salah satu penjahat yang aku tuntut hukuman berat?" Dean mengecek dan mencari tahu soal mobil.


Lama Dean sibuk di depan komputernya, saat berbalik melihat Isel yang tidur nyenyak di kamarnya.


"Sejak kapan Isel di sini, apa dia melihat aku berpakaian seperti ini?" tanya Dean melipat dadanya menggunakan tangan bergegas meninggalkan kamarnya karena tidak nyaman jika berduaan.


Di depan pintu Dean kaget karena melihat Diana sedang menguping, sudah beberapa kali Diana bolak-balik kamar tidak ada suara sehingga penasaran apa yang dilakukan Dean dan Isel.


"Apa yang dilakukan, kenapa lama sekali?"


"Dean ada perkejaan, dan kaget juga melihat Isel tidur di ranjang." Dean melangkah keluar diikuti oleh Diana.


Kecelakaan yang hampir menimpa Isel sangat mencurigakan, Dean sangat yakin ada orang yang sengaja ingin mencelakainya.


"Penggemar kamu atau pacar, mereka pasti terkejut mendengar kabar kamu akan menikah?"


"Sejak kapan Dean punya pacar Kak?"


Kepala Diana menggeleng, meminta Dean menceritakan detailnya. Mommy Anggun juga ikut mendengarkan kasus yang Dean bahas.


"Membicarakan apa kalian?" Daddy Dimas berjalan mendekat.


"Isel hampir kecelakaan Daddy," balas Diana pelan.


"Kenapa semuanya jadi tegang, Dean bisa mencarinya sendiri," ucap Dean kesal melihat keluarganya yang memang ahli di bidangnya nampak serius.


Mata Dean melihat ke arah undangan, mengambil untuk membaca detail. Dean yakin pasti karena sebagian undangan tersebar atau mungkin ada seseorang yang memang berlawanan dengan Isel.


"Sudah berapa banyak undangan disebar?"


Mommy tidak menyebarkan sebelum disetujui oleh Dean dan Isel, lagian belum jadwalnya sehingga belum ada yang keluar dari keluarga.


"Ada apa dengan undangannya Dean?"


"Tidak Daddy, apa kalian tahu Hairin dan keluarganya bertentangan?" tanya Dean pelan.


Tidak ada satupun yang menjawab, setahu mereka Irin sangat baik dan menjadi gadis yang penurut. Hairin juga pintar dan ahli bela diri.


Daddy sering bertemu dengan Hairin di kantor polisi, dia juga selalu menyapa dan bersikap sopan.

__ADS_1


Senyuman Dean terlihat, tidak bisa berkata-kata apapun karena tidak ingin membuka aib orang lain, jika kedua orangtuanya saja tidak tahu, dan kedua orang tua Hairin menutupi maka tidak ada hak Dean untuk mengumbar dan menjelekkan.


Di dalam kamar Dean, Isel menyadap komputer Dean mencari pemilik mobil tanpa plat. Jika sampai Hairin terlibat pasti akan dilenyapkan.


"Bukan Hairin, lalu siapa dia? apa benar salah satu klien Uncle Dean?"


Suara panggilan masuk dari teman Isel terlihat, dia menghubungi Aira karena Bian mencari keberadaannya. Tidak ada yang buka mulut memilih tidak mengenal Isel demi keamanan.


"Aku hampir terlibat kecelakaan, apa mungkin Bian?"


"Dia belum tahu keberadaan kamu Sel," ucap teman Isel di balik pangggilan.


"Jangan sampai ada yang mengatakan sepatah katapun, aku tidak ingin berurusan dengannya." Isel meminta menjaga dengan baik hubungan mereka jika semuanya ingin hidup.


"Sel, Bian terobsesi sama kamu, aku takut melihatnya." Peringatan untuk Isel agar lebih berhati-hati.


Kedua tangan Isel meremas kuat ponselnya karena kesal melihat satu-persatu masalah, Isel hanya ingin hidup damai bersama suaminya.


Mata Isel terbelalak melihat layar komputer, dia berhasil melihat mobil yang hampir membunuhnya, dan langsung tahu siapa pelakunya.


"Ah, katanya anjing setia, ini kenapa ada anjing berbulu domba." Isel mematikan komputer, langsung berguling di atas tempat tidur.


Isel menghubungi seseorang yang bekerja di bar tempat dirinya sering berpesta, menanyakan seseorang yang sempat bergabung bersama Isel ketika perayaan birthday party.


Pintu kamar terbuka, Isel langsung berpura-pura tidur. Dean menghidangkan komputer, menatap Isel yang tidak bergerak.


"Sel, kamu apakan komputer ini?" Dean menarik tangan Isel, tapi tubuhnya yang ditarik ke tempat tidur.


Pandangan Dean dan Isel bertemu, Isel mendekati bibir Dean menggoda Uncle yang sangat sensitif jika didekati wanita.


"Kalian berdua belum sah," ujar Aira meletakkan anaknya di atas tempat tidur.


Dean langsung bangkit melihat Aura tertawa melihat Dean, mengangkat tangannya meminta digendong.


Tangan Isel mengusap wajah Aura agar tidak genit kepada suaminya, tubuh Aura digulingkan langsung dipeluk oleh Isel.


Teriakan Aura terdengar, menjambak-jambak rambut Isel yang tidak ingin melepaskannya. Dean hanya tertawa ingin mengambil Aura yang meminta tolong.


"Tidak boleh, ini punya Isel." Kedua tangan Isel memeluk Dean tidak boleh mengambil Aura.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2