SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KEPUTUSAN


__ADS_3

Suara tawa Dean terdengar, merasa lucu dengan Kakaknya yang baru menikah belum satu hari sudah kedatangan pelakorr dalam keadaan hamil besar.


Derita menjadi selebriti, selain menutupi identitas keluarga, juga harus memiliki kesabaran dengan banyaknya rumor miring.


"Siapa dia Angga?"


"Tidak tahu Pi,"


"Maaf Pi, Lea bukan membela Kak Angga, tapi hal ini sudah biasa terjadi di kalangan selebriti." Tatapan Lea ke arah Kakaknya merasa tidak enak karena salah satu staf membocorkan pernikahan Angga.


"Apa Lea, kesalahan perusahaan lagi. Aku baru menikah sudah harus diintrogasi gara-gara wanita hamil." Angga menahan tawa melihat adiknya yang mengigit bibir bawah.


"Kak Angga jangan marah kepada Lea, salahkan saja Aira yang terlalu posesif padahal sudah tahu dunia selebriti." Juan yang mengambil minuman mendengar pembicaraan sambil menahan tawa.


"Kenapa salah Ai? Kak Lea yang salah. Sudah diperingatkan jangan disebar dulu, nanti ada banyak oknum yang syirik." Ai memeluk Papinya karena merasa patah hati.


Altha megusap punggung Putrinya yang berpura-pura marah, Alt juga awalnya sangat terkejut tiba-tiba ada wanita hamil.


"Angga, berapa banyak wanita yang pernah kamu tolak? Kak Di sangat yakin kamu ahlinya membuat wanita berduka." Diana menatap Angga yang menggeleng, dia tidak mengerti ucapan Diana.


Senyuman Aliya juga terlihat, pertama kalinya dia mencari informasi soal menantunya yang terjadi memang terkenal memiliki sikap dingin juga mudah menyinggung.


"Ternyata pemberitaan tidak semuanya salah, menantu kita memang terkenal dengan ucapan dingin. Dia mirip Kak Dimas dan Dean suka menyakiti secara langsung." Al memeluk suaminya menujukkan ponselnya yang berisikan berita Angga.


Pelukan Aira juga erat, tidak ingin melepaskan Papinya karena dirinya sudah menikah dan tidak memiliki banyak waktu lagi bersama Papinya.


"Diana, kamu ingat pulang tidak? ini sudah magrib, perempuan satu ini tidak ingat waktu." Gemal menarik istrinya yang tidak ingin pulang padahal ada mertuanya di rumah.


"Jangan marah-marah Gemal, aku tahu. Memangnya Diana tuli," ujar Diana kesal melihat suaminya.


Altha meminta semuanya ibadah bersama, Angga yang memimpin sebagai anggota baru.


"Kak, Mommy meminta Kak Angga pulang." Dean mengetuk pintu menginformasikan Angga dan Aira di minta pulang untuk beribadah bersama.


Senyuman Angga terlihat, menatap mertuanya yang masih merangkul Aira. Angga tarik napas panjang meminta Dean pulang lebih dulu.


"Pi, Angga keluar bentar, kalian tunggu sebentar." Angga langsung berlari pulang ke rumah orangtuanya.

__ADS_1


Di dalam rumah Mommy Anggun sudah menunggu, senyuman Angga terlihat mendekati Mommy.


"Di mana Aira?"


"Mom, boleh peluk bentar." Angga langsung mendekat setelah diizinkan.


Angga meminta izin dengan sopan jika dirinya ingin beribadah bersama keluarga Aira, ingin menghormati kedua orang tua Ai yang pastinya sedih jika Putrinya langsung diambil di hari pertama.


"Maaf Mom, Mommy jangan tersinggung besok kita di sini." Angga menggenggam tangan Mommy yang juga tertawa melihat Putranya yang nampak merasa tidak enak.


"Ya sudah, kita semua ke sana." Daddy Dimas tersenyum meminta cepat, agar tidak membuat menunggu lama.


Penuh rasa bahagia Angga memeluk Daddy-nya mengucapkan terima kasih karena memahami isi hatinya.


"Kamu malu tidak disebut mirip Daddy, tidak ada sisi baiknya dari Daddy. Ucapan kejam kamu terhadap wanita hamil membuat Daddy kaget," ujar Dimas melihat ke arah putranya yang tersenyum kecil.


"Angga senang dibilang mirip Daddy," balas Angga meminta Dean juga cepat ikut dirinya.


Senyuman Altha dan Aliya terlihat, merasa bahagia karena bisa berkumpul sebagai keluarga.


Rumah keluarga Alt ramai, ada keluarga Dirgantara juga bergabung. Kedua cucu perempuannya juga ikut kumpul, meskipun sesekali masih saling colek tidak bisa diam.


Tidak banyak yang Angga harapkan, dia hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, jauh dari gosip miring, harmonis rumah tangganya.


"Aduh sakit." Suara Lea meringis terdengar.


"Jangan sekarang Lea, aku belum malam pertama. Masa iya lahirnya sekarang?" Aira protes tidak setuju meminta Lea lahiran dua hari lagi, setidaknya satu hari.


"Siapa yang ingin lahiran, tiba-tiba saja perutnya sakit." Lea menarik lengan Juan yang mengusap pinggangnya.


"Tenang Lea, jangan cemas." Mommy Anggun mengusap perut besar Lea yang masuk delapan bulan.


"Kita ke Dokter saja Mi?" Juan yang cemas melihat istrinya yang meringis sakit.


Kepala Lea menggeleng, dia baik-baik saja. Mommy Anggun benar dirinya harus tenang, hanya mengalami kontraksi palsu.


Melihat perut besar Lea, Aira jadinya panik tidak berani hamil. Dia masih ingin berpacaran, dan takut jika kejadian Diana terulang.

__ADS_1


"Ayang, boleh tidak Aira menunda hamil?" Ai memeluk lengan suaminya.


"Astaghfirullah Al azim Aira, orang menikah ingin ibadah dan memiliki keturunan, kamu memiliki pikiran menunda," ujar Papi tidak mengizinkan Ai memiliki pikiran yang begitu buruk.


"Ai hanya mengatakan menunda, bukan tidak ingin," balas Ai masih khawatir dan takut.


Senyuman Angga terlihat, dia tidak memaksa karena tubuh Ai milik Aira, meskipun Angga suami tidak boleh memaksakan kehendaknya.


Keputusan hamil ada ditangan Aira, dan Angga mengikuti apapun keputusannya selama Aira bahagia.


"Kak tujuan menikah untuk punya anak?" Dean ikutan kesal.


"Sejak kapan peraturannya seperti itu? menikah itu menghindari fitnah dan jalannya ibadah. Wanita tidak wajib hamil dan melahirkan, mereka hanya di berikan keistimewaan untuk melahirkan mengandung dan menyusui. Kenapa kita lelaki yang tidak bisa melakukan harus memaksa? lakukan apa yang membuat bahagia, aku support." Tangan Angga mengusap wajah Aira yang langsung memeluknya.


Dean langsung melangkah keluar, tidak paham dengan pikiran kakaknya. Altha meminta Dean duduk kembali.


Dean duduk di samping Mora dan Mira yang matanya sayu menahan kantuk karena terlalu lelah bermain dari acara pernikahan dimulai sampai selesai.


"Apa kamu akan meninggalkan istri kamu jika dia bertahun-tahun tidak memberikan buah hati?"


"Bukan seperti itu Pi, Dean juga tidak memaksa. Sama hal dengan menikah, Dean belum siap maka bisa Dean pahami jika ada beberapa orang yang ingin menunda kehamilan." Dean tersenyum kecil, sebenarnya Dean memang tidak peduli.


Helaan napas Lea terdengar, semua mata melihat ke arahnya. Senyuman Lea terlihat meminta bantuan suaminya untuk berdiri karena perutnya lapar.


"Kalian lanjutkan saja debatnya, Lea pamit ingin makan dulu bersama dua bocil ini." Tangan Lea melambai melangkah bersama Juan untuk keluar.


"Mira sama Mora sudah besar, bukan anak kecil lagi. Benar tidak Uncle?"


Dean memberikan jempolnya, Mira dan Mora memang sudah besar. Mereka sudah besar tubuhnya, namun tingkah lakunya masih kecil.


"Dean, kamu ingin Daddy jodohkan, Putri bawahan kamu boleh Alt," ujar Dimas meminta Altha mengenalkan.


"Sudahlah, Dean malas. Jika aku belum menjadi jaksa, maka tidak ada pernikahan." Dean langsung berlari keluar karena dia kehilangan dua teman.


Juan yang sedang menanti anaknya, Aira yang sudah memiliki suami, maka terpaksa Dean lanjut mengejar mimpi.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2