SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MEMINTA BANTUAN


__ADS_3

Di dalam bangunan tua, Lea sedikit kaget melihat banyaknya makanan juga tempat istirahat yang nyaman.


Blackat berdiri sambil menatap ke arah gedung sebelah yang baru mereka masuki, ternyata Aira memiliki markas pribadi bersama Anggrek, dan bisa melihat apapun yang dilakukan oleh gedung sekitarnya.


"Dada Kakak hitam masih sakit?"


Kepala Blackat menggeleng, meminta Aira menyembunyikan jika dirinya sering mengalami sakit dada. Black sudah berobat kepada beberapa dokter, tapi belum ada yang menemukan solusinya.


"Temuin Kakak Aira saja, dia Dokter terbaik." Jempol Aira terangkat mempromosikan Kakaknya.


"Jika aku bisa membuktikan kamu dan keluarga kalian tidak terlibat atas kematian Anggrek dan ibu. Maka aku akan menemui Kakak kamu,"


"Ibu? kenapa Ibu kamu?"


Aira menutup mulutnya saat mengetahui jika kasus soal bunuh diri beberapa tahun yang lalu ternyata Ibunya Blackat, tidak bisa Aira bayangkan posisi Black dan Lea yang pastinya sangat hancur kehilangan orang tercinta sekaligus.


"Apa sekitar sini tidak ada CCTV?"


"Tempat ini sudah kosong sekitar dua puluh tahun, bagaimana bisa ada CCTV?" Lea berdiri di samping Aira yang menatapnya sinis.


Lama Aira berdiam diri, seandainya ada CCTV tidak mungkin masih menyimpan video yang sudah bertahun-tahun.


"Kenapa Anggrek bisa ada di gedung depan? apa dia melihat sesuatu dari sini?" Black memincingkan matanya berpikir dengan keras.


"Kenapa kita seperti sedang bermain film detektif?" celoteh Aira terdengar, menatap sekitar yang memang bisa melihat jelas apa yang terjadi di dalam gedung depan.


"Lea, ular yang kamu pukul tadi apa memiliki sarang di sana?" kepala Black mencoba untuk mencerna apa yang dilakukan Adiknya beberapa tahun yang lalu.


"Sepertinya tidak, memangnya kenapa? apa sangkut pautnya dengan ular?" Lea menepuk jidat, merasa kesal dengan Blackat yang otaknya geser.


Aira sudah duduk santai, mengunyah Snack yang memenuhi mulutnya. Otak Aira tidak bekerja sama sekali, dia masih belum mengerti alasan Anggrek pergi ke gedung depan.


"Ular, tidak mungkin ada ular di sekitar sini. Banyak tanaman kaktus, lalu kenapa bisa ada ular masuk mana ukuran besar?" Ai langsung kaget jika dia sepemikiran dengan Blackat.


"Itu ular peliharaan, ada seseorang yang sering berkunjung ke sana? seadanya ada CCTV mungkin kita akan tahu." Blackat menatap Lea yang menghela napasnya berkali-kali.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali, nanti saja memikirkan kasus ini. Aku harus menyingkir Silvi terlebih dahulu." Lea menatap Aira yang asik makan, tanpa memperdulikan berat badannya.


"Kenapa dengan Silvi? apa sudah ketahuan jika dia hamil?" Ai mengunyah makanan dengan santai.


Tangan Aira ditarik sampai berdiri, Lea mengambil makanan membuat Aira menaikkan bibir atasnya.


Banyak hal yang Aira ketahui, tapi dengan santainya dia menyembunyikan dari siapapun. Apapun yang terjadi kepada seseorang Aira orang pertama yang tahu.


"Dari mana kamu tahu?"


"Itu bukan hal yang sulit Lea, aku Andriana Aira segalanya bisa aku lakukan dalam diam. Cukup melihat ekspresinya saja, langsung tahu. Kenapa kamu suka sekali marah, nanti cepat tua." Aira tertawa kecil, meminta Lea menarik kembali keputusannya untuk menjatuhkan Aira.


Ai bukan Silvi yang mudah disingkirkan, sebelum dirinya hancur maka ada yang akan lebih hancur lagi.


"Jangan main-main denganku, kita sama-sama terlahir dari keluarga yang kuat." Lidah Aira terjulur mengejek Lea yang meremas tangannya menahan emosi.


Tatapan Blackat masih tertuju ke depan, mengingat orang-orang disekitarnya enam atau tujuh tahun yang lalu. Black yakin orang yang mencelakai adiknya pasti ada sangkut paut dengan Ibunya.


Kening Black dipukul kuat oleh Aira membuat Black teriak menggema karena kaget. Aira memang tidak pernah tahu tempat jika bercanda.


Pemberitaan soal kecelakaan juga sudah diterbitkan jika yang mengendarai mobil tidak ditemukan.


Lea sudah mengkonfirmasi jika artisnya Aira dalam kondisi baik-baik saja karena tidak mengendarai mobil


Ai kembali ke apartemennya, beristirahat setelah menyelesaikan film pertamanya. Kisah percintaan Blackat dan Aira juga diterbitkan.


Keduanya berhubungan sebagai teman selama shooting, tapi telibat cinta lokasi selama keduanya bekerja sama.


Kehebohan terjadi, pihak Aira membenarkan pemberitaan, tapi dari pihak Blackat belum mengkonfirmasi. Perusahan tidak tahu menahu soal hubungan artisnya, ada tim khusus yang bekerja untuk Black sehingga perusahaan membutuhkan waktu untuk menyelidiki lebih lanjut.


"Tempat apa ini Aira?"


"Tempat bersantai aku saat sering bolos sekolah dan berada disini sebagai tempat persembunyian." Saat pulang dari pulau Aira langsung menuju gedung, membersihkannya dan mengembalikan seperti awal yang penuh makanan, juga tempat paling tenang yang dia temukan.


"Bagaimana hubungan kamu dan Anggrek? apa kalian sering bertengkar?"

__ADS_1


"Tidak sama sekali." Ai tahu jika Anggrek wanita yang baik, dia tidak memiliki teman karena selalu diasingkan soal kesehatannya yang tidak stabil.


Aira teman pertama Anggrek, begitupun sebaliknya. Selama mengenal Anggrek, Lea tidak pernah mendengar dia bicara tinggi, apalagi bersikap kasar.


Tidak pernah sekalipun Anggrek memerintah, dia selalu melakukan segala hal secara sukarela, sikapnya yang mirip tomboi, namun hatinya seperti hello kitty.


"Anggrek itu wanita yang baik dan tidak pernah bersandiwara seperti kamu. Kalian berdua seperti langit dan bumi." Lidah Aira terjulur kesal.


"Kapan aku menyakiti kamu Aira? bahkan aku tidak pernah berkata kasar. Aku seperti penjilat yang selalu memuji kamu sialan." Lea menatap kesal Aira yang sibuk mengetik pemberitaan yang akan ditayangkan.


"Memang tidak pernah, tapi sikap kamu yang berlagak baik itu menjijikkan. Ucapan dan isi hati kamu bertentangan. Di depan memuji, di belakang mencaci." Ai tersenyum sinis menyerahkan laptopnya kepada Lea.


Lea membaca ulang apa yang Aira tulis, Membuat kepalanya pusing, Ai memancing orang-orang yang mencelakainya.


"Kenapa kamu tidak mencurigai aku saja?"


"Tidak mungkin kamu karena jika aku berhenti sebelum sukses pasti kamu rugi, aku bisa membaca pikiran kamu." Ai menatap Blackat yang lebih tidak mungkin lagi karena dia hanya mencari kebenaran bukan ingin mencelakai.


"Jika bukan aku, atau Black, kamu sendiri penjahatnya, soalnya kamu pintar acting." Lea tertawa menetap Aira yang ingin menendangnya.


"Kenapa otak aku benar-benar tidak berfungsi. Aku tidak mempunyai bakat dalam hal ini, minta bantuan Dean saja dia jauh lebih berpengalaman." Black memukul kepalanya sendiri, otaknya hampir pecah karena terlalu banyak berpikir.


Aira tertawa terpingkal-pingkal, ucapan Black memang benar dia tidak memiliki bakat dalam penyelidikan karena otaknya tidak sampai. Jika dia pintar mungkin tidak menjadi aktor.


Lea menahan tawa merasa lucu dengan kakaknya yang akhirnya tahu diri batas kemampuannya.


"Dean, bukannya dia pengacara muda? apa dia bisa dipercaya?


"Sialan! jangan pernah meremehkan Dean, dia pria gila jika berurusan dengan sesuatu." Aira setuju untuk meminta bantuan Dean.


"Kenapa tidak Juan juga?"


"Kenapa kamu menyukai kak Juan? aku retakan kepala kamu, keluarkan otak kamu lalu aku injak-injak." Ai menatap sinis.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2