
Suara high heels terdengar menggema di bandara, Aira tersenyum manis melambaikan tangannya melihat beberapa penggemar menyapanya.
"Selamat datang Queen Ai," sapa beberapa penggemar yang memberikan banyak bunga.
"Terima kasih semuanya," balas Ai dengan nada yang sangat lembut.
Kepala Aira menoleh ke arah Lea yang berjalan di sampingnya, keduanya menginjakkan kaki kembali setelah dua tahun berkarya di luar negeri.
"Rasanya kita pulang ke rumah,"
"Benar sekali, perjalanan kita sangat lama." Ai membuka pintu mobil.
Ponsel Lea berdering untuk yang seribu kalinya, dia pusing dengan Juan yang selalu mengawasinya.
"Lea, kamu tidak bosan berpacaran selama dua tahun? lebih baik kalian menikah agar Kak Juan berhenti menganggu." Ai meremas ponsel Lea kesal.
"Maaf Ai, aku ingin menikahi, tapi ...." Lea masih berharap dia mengingat sedikit saja memori tentang hubungannya dan Juan, juga persahabatan dengan Aira.
Senyuman Aira terlihat menatap jalanan, dia sangat merindukan negara yang memiliki banyak kenangan.
"Kakak hitam, Aira pulang. Apa kabar Kakak? Aira kangen." Kedua tangan Ai memeluk tubuhnya sendiri.
"Kenapa kita ke lokasi ini?"
"Aku hanya merindukan seseorang, lelaki yang tidak bisa aku miliki," kepala Aira tertunduk dengan perasaannya yang belum berubah.
Kepala Lea mengangguk, dia tidak tahu siapa yang Aira rindukan, tidak tahu juga kisah masalah apa yang Ai simpan.
Mobil tiba di jembatan yang pernah heboh pada masanya, Aira berjalan bersama Lea menyusuri jembatan.
"Kamu masih ada di sini, atau sudah meninggalkannya." Ai menyentuh jembatan sambil tersenyum.
Mata Aira terpejam, menceritakan jika dirinya berhasil menyelesaikan kuliahnya seperti permintaan kedua orangtuanya.
Ai juga menjadi seorang aktris terkenal yang memiliki jutaan penggemar, segala genre film sudah Aira coba, bahkan Ai juga menciptakan lagu beberapa kali mengadakan konser.
"Sehebat apapun Aira saat ini, tidak akan pernah menggantikan posisi Kakak hitam. Aira pulang untuk menepati janji,"
Mata Aira terbelalak melihat seorang wanita cantik berada di tengah sungai meggunakan perahu sedang memancing.
"Ghiselin, apa itu kamu?" Ai berteriak kuat sambil tersenyum menatap Isel yang masih datang dan mencari Black.
__ADS_1
Lari Aira terdengar melepaskan high tinggi, langsung turun ke bawah jembatan. Melambaikan tangannya melihat Isel yang mendekat.
Tangan Isel menyambut Aira untuk naik bersama, duduk santai di perahu yang berjalan kembali ke tengah sungai.
Ai mengaruk-garuk kepalanya melihat Isel yang semakin cantik dengan rambut panjang terurai sampai mengenai air.
"Kenapa Kak Ai kembali?"
"Dua tahun Kak Ai berkenalan, sudah waktunya pulang," balas Ai dengan mata yang melihat sungai dengan jarak dekat.
Kepala Isel melihat ke atas, menatap Lea yang berdiri termenung. Isel yakin, Lea belum mengingat apapun.
Kepergian Aira dan Lea, bukan sekedar mengejar mimpi namun membuat Lea sembuh total dan melupakan kenangannya.
"Dua tahun ini kamu tidak membuat masalah, bahkan sebentar lagi lulus sekolah. Kamu menunjukkan perkembangan yang sangat baik dengan prestasi," pujian Aira terdengar, namun tidak menunjukkan senyuman.
"Aku tidak peduli soal pendidikan, terserah saja. Rasanya hidup ada yang kosong, Isel tidak bersemangat melakukan apapun." Jari telunjuk Isel memegang air sungai yang jernih.
Dia hanya melangkah mengikuti arus, apapun yang ada di depan tidak bisa dirinya ubah. Hanya bisa menjalankan hidup sesuai yang takdir tuliskan.
"Kamu masih belum melupakan Kak Black?"
"Kenapa Isel harus melupakannya?"
Pancing Isel dimakan oleh ikan langsung cepat diangkat, hasil pancingan di masukan ke dalam wadah.
Ai mengirimkan pesan kepada Kakaknya untuk menjemput Lea yang masih menunggu di atas jembatan.
Perahu berjalan meninggalkan jembatan, Isel tahu seluk beluk sungai karena waktunya banyak dihabiskan di sungai.
Banyak orang yang mengenal Isel, dia dipanggil si cantik penghuni sungai. Selama dua tahun Isel setiap hari main ke sungai.
Mobil Juan tiba di jembatan, menatap Lea yang masih fokus melihat kebawah jembatan. Perasaannya sedih, namun tidak tahu apa yang begitu menyedihkan.
"Apa yang kamu lihat?"
"Kak Juan, lihatlah. Air ini begitu tenang, tapi kenapa begitu menyedihkan?"
"Kita pulang sekarang, Mami sudah menunggu kepulangan kamu dan Aira." Tangan Juan mengenggam jari-jemari Lea untuk meninggalkan jembatan.
Hingga sore menjelang, Isel dan Aira masih berada di perahu. Perlahan perahu menepi, Isel mengikat di kayu agar perahunya tidak hilang jika air tinggi.
__ADS_1
"Lumayan dapat ikannya, ternyata memancing cukup menyenangkan." Ai melangkah naik ke atas jembatan bersama dengan Isel yang membawa ikannya.
Seseorang sudah berdiri di jembatan menikmati matahari terbenam. Aira berlari langsung memeluk Dean yang menunggu Isel selesai memancing.
"Kapan kamu pulang Ai?"
"Baru saja, bagaimana kabar kamu?"
Senyuman Dean terlihat, dirinya dalam keadaan baik dan harus menjemput Isel setiap harinya.
"Uncle pulang saja, Isel satu mobil bersama Kak Ai,"
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan,"
Mobil Aira melaju pulang, meninggalkan Dean yang masih menatap matahari. Tubuh Dean berbalik melihat ke bawah jembatan masih teringat jelas ucapan Imel yang akan membawa Black hingga keduanya jatuh.
"Sudah dua tahun Kak, masih belum pulang juga. Semua korban sudah berpulang, Gilang juga sudah pulih, tapi kenapa Kak Black belum juga keluar." Dean melangkah pergi meninggalkan jembatan.
Meskipun keadaan terlihat normal, tapi hati belum terobati. Belum ada yang sembuh dari luka lama.
Sepanjang perjalanan Aira dan Isel tertawa sambil bercanda, Ai menceritakan banyak hal yang dia lakukan.
"Kak Ai sudah mendengar kabar pertunangan kalian?" mata Isel menatap tajam Aira yang langsung diam.
Keluarga Dean sudah menemui keluarga Aira, dan Papi menerima lamaran. Ai dan Dean akan bertunangan, lalu menikah.
"Jangan pernah terima pernikahan itu jika Kak Ai tidak mencintai uncle, kasihan uncle menikahi wanita yang hatinya sudah mati," ucapan Isel terdengar tegas tidak terima jika Aira dan Dean terikat dalam pernikahan yang tidak seharusnya.
"Bukannya yang akan menikah Lea dan Kak Juan?" Ai menghentikan laju mobilnya.
Tangisan Aira langsung pecah, membenturkan kepalanya di setir mobil sambil meremas dadanya yang merasakan sesak karena merindukan seseorang yang tidak bisa dirinya temui.
Ke mana Aira harus berkunjung, bahkan pemakaman juga tidak pernah ada. Tangisan Ai tidak bisa dirinya tahan lagi, merasakan dadanya yang sakit.
"Aku merindukan Kakak hitam, kenapa begitu jahat kepada Ai? kenapa takdir memisahkan kita dengan kematian? kenapa harus kita dari sekian banyak manusia di dunia ini?" Teriakan Aira terdengar memukul setir mobilnya sangat kuat.
"Selama Kak Ai percaya jika Kakak Angga masih hidup, selama itu juga akan menderita,"
"Apa yang harus aku lakukan?"
Kepala Isel tertunduk, tidak ada solusi bagi Ai kecuali mengganggap Blackat mati, bukan hanya dari dunia namun hatinya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira