SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
RUSUH


__ADS_3

Persiapan pergi ke pantai rusuh, Isel berteriak kuat melihat dua putrinya rebutan baju padahal sama saja.


Keduanya langsung diam, memeluk baju masing-masing. Lirikan mata sama tajam, suara Isel hanya penghenti sementara.


"Masih kecil sudah rebutan, bagaimana besarnya? ini punya Ira dan Ara, ini punya Vin." Isel membagikan baju untuk ganti di pantai.


"Kenapa juga membagi baju, ujungnya juga aku yang memakaikan. Hadeh kalian membuat repot saja." Isel memasukkan beberapa baju ke dalam koper.


Ketiga anaknya hanya duduk diam memperhatikan, tidak berani menganggu karena suara Isel terlalu besar.


"Duduk diam Ara, jangan banyak gerak," jerit Isel terdengar meminta Putrinya tetap duduk.


Kepala menoleh sedikit saja sudah terkena teguran, Isel masih repot mengemas baju tanpa sepengetahuannya kedua Putrinya sudah melangkah keluar.


Tegang dan panik, Delvin hanya duduk diam tertunduk tidak berani mengikuti kedua kakak perempuannya yang sudah pergi.


"Lah, ke mana dua anak itu?" suara Isel melengking besar sampai keluar rumah.


Helaan napas Delvin terdengar melihat Umi sudah melangkah keluar mengejar Rara yang hilang dari pandangan.


Delvin berdiri dari duduknya, berusaha naik ke atas ranjang untuk tidur. Tidak menggubris suara yang sangat familiar di dengarnya sejak dalam rahim.


"Abi, lihat Ara pergi ke luar lagi." Suara Isel berteriak kuat melihat putrinya pergi keluar rumah.


Kepala Ira geleng-geleng tidak ingin ikut karena takut kakinya kotor dan rasa geli terkena rumput.


Tawa Ara terdengar berlari keluar rumah, saat jatuh bangun lagi sekalipun luka tetap tertawa.


Isel berlari kencang mengejar putrinya yang juga lari sambil teriak-teriak menolak pulang. Memukuli Isel yang menggendongnya.


"Pulang, kamu ingin ikut pergi ke pantai tidak?" Isel mengancam meninggalkan Ara jika tidak mendengarkannya.


Terpaksa Ara diam, tidak bisa mengelak lagi jika sudah bertemu Abi-nya yang meminta duduk diam.


"Dimana Delvin?" Dean menundukkan kedua putrinya di kursi untuk memakai sepatu, tapi tidak melihat keberadaan putranya.


"Delvin ... Vin, cepat ke sinI," panggil Isel, tapi yang dipanggil tidak terdengar suaranya.


Dean mengikat tali sepatu kuat, memasangkan kaos tangan di jari mungil Ira karena dia sangat sensitif dengan kotor.


Selesai pasang sepatu, Dean melangkah ke kamar melihat putranya yang lanjut tidur lagi. Tidak ingin menganggu maka Dean membiarkan.


Tidak ingin mengambil pusing Dean menggendong putranya melangkah keluar untuk untuk segera berangkat ke tempat tujuan.

__ADS_1


Di depan rumah sudah ramai mobil yang tersusun di setiap rumah satu persatu anak-anak berlarian menuju mobil masing-masing.


Kereta dorong bayi Ara dan Ira sudah siap tapi terjadi keributan karena Ara dan Ira menolong berpisah dari Umi dan Abi yang sudah menggendong Delvin.


Dean tidak mungkin menggedong ketiganya, tidak mungkin juga Isel mampu menjaga tiga anak dalam satu mobil.


"Ira bersama Nenda Di, nanti setelah sampai bersama Abi,'' rayu Diana berharap si kecil bersedia.


Kepala Ira mengeleng, mengulurkan tangannya meminta Dean menyambutnya tanpa peduli adiknya masih tidur.


"Kak Di ikut mobil kita saja, susah jika mereka bertiga di paksa."


Kepala Mama Di mengangguk, meminta suaminya pindah mobil. Dikarenakan Lea dan Juan juga membawa anak kecil maka Mami dan Papi Altha ikut mobil Juan.


Aira dan Angga juga membawa tiga anak satu mobil bersama Mommy dan Daddy Dimas Terlalu banyak anak-anak terpaksa semuanya ikut pergi.


Dari mobil lain juga rusuh sampai mobil bergoyang karena Tika mengejar Ajun yang luar biasa jahilnya.


"Mira ikut siapa?"


"Masuk mobil Kakek sini," panggil Altha.


"Mora tidak mau pisah." Tatapan tajam dari si kembar beda rahim karena tidak muat satu mobil dua keluarga.


"Ajun, kamu ikut Papi Juna," pinta Tika karena pusing melihat anaknya.


"Kamu saja yang membawa Ajun, di sini ada Vino, dan Hasan Husein." Shin mana Tika membawa Ajun.


"Kenapa tidak ada yang mau membawa Ajun?" tangisan terdengar berlari ke arah Altha langsung memeluk erat kakeknya mengadukan Mama dan Maminya yang jahat.


Senyuman Tika terlihat langsung masuk mobil merasa aman karena Ajun ikut Kakeknya. Dia tidak mungkin nakal jika bersama Altha.


Lima mobil meninggalkan rumah menuju pantai yang sudah dikosongkan karena demi keamanan Aira dan Angga yang bersatu selebriti.


"Andra kamu lagi apa?" Ajun melihat Andra yang duduk di belakang sekali sibuk sendiri.


"Bukan urusan kamu?" jawab Andra sinis.


Tangan Ajun panjang ingin memukul, tapi tidak sampai, teguran dari Mami terdengar. Meminta Ajun duduk tenang karena Era tidur.


Senyuman Ajun terlihat pindah duduk ke belakan sekali untuk melihat apa yang sedang Andra mainkan diponsel.


Keduanya rebutan mainan, Ajun memaksa ingin mengajarinya bermain game, tapi Andra menolak.

__ADS_1


Suara pukul-pukulan terdengar, Andra mengigit Ajun, rambut Andra juga dijambak. Keduanya bertengkar sampai baju Ajun sobek.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Lea menoleh ke belakang setelah menyusui Era.


Rambut Andra acak-acakan, baju Ajun sobek sebelum sampai tujuan. Kepala Lea dan Anggun geleng-geleng.


"Kak Ajun ini bodoh, suka sekali menganggu orang seperti kurang pekerjaan saja. Benci sekali Andra melihatnya," ujar Andra kesal.


"Kamu yang mulai duluan mengigit aku sampai bolong begini, jahat sekali seperti vampir." Ajun menggeser tempat duduknya menutupi bajunya yang sobek.


Aliya memijit pelipisnya karena kehabisan kata-kata, menahan tawa melihat keduanya saling sindir.


Lelah bertengkar akhirnya tidur, barulah keadaan mobil tenang hanya ada obrolan ringan.


"Saat kecil begini pusing melihat anak bertengkar, tapi saat nanti mereka dewasa baru tahu rasanya kehilangan moment ini, pasti kalian akan merindukannya." Mami meminta Lea lebih sabar karena apa yang dilihatnya saat ini persis seperti yang dulu Aliya rasakan.


"Era terlampau nakal, bersyukurnya hanya satu."


"Makanya, bagaimana dengan Mama dulu, ada satu remaja, satu sedang nakal-nakalnya, dan dua masih kecil. Saat Ai sudah mulai aktif mulai pertengkaran dengan Tika, saat itu Mami stres," ujar Aliya, tapi dia tidak pernah memukul anak-anaknya apalagi Tika.


"Mami dari dulu lebih sayang Kak Tika," sindir Lea karena tahu dari Aira yang merasa cemburu.


"Bukan Mami sayang Tika, tentu Mami juga sayang Aira, tapi Kak Tika pernah patah dan hatinya memiliki luka, tidak ingin luka masa lalunya terkoyak kembali." Mami mengucapkan terima kasih karena Juan, Andriana Aira Rahendra selalu memaklumi.


Senyuman Juan terlihat, dirinya tahu tanpa harus diperjelas karena Juan juga sangat menyayangi Kakak perempuannya.


"Kira-kira tingkah Ajun mirip siapa Mi?"


"Mami, tapi sepertinya Askara juga nakal. Lihat saja gerakan tangannya yang tidur sambil main, Ajun juga seperti ini waktu bayi." Papi Altha menunjukkan Kara.


"Papi, jangan begitu membuat Lea panik saja."


"Aman sayang, dia punya Kakak perempuan sehingga bisa dikontrol, lihat Ajun yang takut dengan Mimor." Ajun tidak masalah anaknya nakal, paling penting sehat.


***


jangan tanya novel lain karena aku lagi update habis novel ini.


SALAH KAMAR OM DAN ASISTENKU GADIS BUTA kemungkinan up malam.


SEKOLAH, TAPI MENIKAH kemungkinan mulai besok.


tahu info lainnya follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2