
Pintu apartemen terbuka, Aira masuk ke apartemen lama Black. Membuka laci yang terkunci, mengambil sebuah kotak kecil yang berisikan jam tangan.
Black meninggalkan hadiah kecil untuk ulang tahun Aira, selama dua tahun Ai tidak membukanya karena tidak siap dengan apa yang akan dia lihat.
"Kak, Ai datang untuk mengucapkan perpisahan." Aira membuka selembaran surat.
Air mata Aira langsung tumpah, melihat foto kebersamaan Black dan Aira saat mereka shooting pertama kalinya.
Beberapa foto berukuran kecil terlihat, Ai menyusunnya sangat rapi dan melihat kenangan lama membuat hatinya semakin hancur.
Bibir Aira bergetar, rasa kehilangannya tidak terbendung. Dia sangat mencintai Black, bahkan belum sedikitpun melupakannya.
"Aira kangen, Aira ingin bertemu meksipun hanya di dalam mimpi." Tangisan Ai semakin terdengar, hatinya hancur berkeping-keping karena perginya Blackat bukan mimpi.
Sebuah surat Blackat tinggalkan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ai dua tahun yang lalu. Black mengakui jika dia mencintai Aira, namun tidak ingin Aira membalasnya.
Black ingin sembuh, dia juga ingin terus berkarir, namun tidak ingin memaksa kehendak takdir.
"Ternyata takdir memisahkan kita,"
Permintaan terakhir Blackat mengejutkan Aira, dia ingin Ai menerima cinta Dean, membuka hatinya untuk mencintai lelaki yang tulus kepadanya.
Tidak ada pria yang bisa Blackat percaya selain Dean, dia satu-satunya lelaki yang bisa memberikan cinta yang tulus.
"Ai sudah berusaha menghilangkan perasaan ini, namun gagal. Ai mati rasa Kakak hitam, jika menikah dengan Dean bisa membahagiakan semua orang dan tidak mengkhawatirkan lagi, akan aku lakukan." Kedua tangan Ai menutup matanya yang penuh air mata.
Tidak ada yang boleh tahu jika hati Ai sudah tertutup, tidak ingin menyakiti perasaan Dean, Aira akan mengorbankan perasaannya.
Mencintai Dean dan menerimanya sebagai seorang suami, meksipun hati Ai sudah mati bersama Blackat.
"Aku akan menikah, selamat tinggal Kakak hitam. Kita kubur perasaan ini di sini, maafkan Aira jika harus menyimpan perasaan ini di lubuk hati terdalam. Demi kebahagiaan keluarga Ai agar tidak khawatir lagi, Ai pamit pergi bersama lelaki lain." Tangisan Aira langsung histeris, memeluk foto Blackat dengan sangat erat.
Hati dan pikirannya bertentangan, takdir begitu kejam tidak mengizinkan Aira melihat Black untuk terakhir kalinya.
Kotak hadiah ditutup kembali Ai meninggalkan semua kenangan bersama Black untuk selamanya.
Tangisan Aira tidak bisa dirinya tahan, mencoba menaklukkan hatinya untuk melupakan Blackat di depan banyak orang.
Panggilan dari Isel masuk, Ai tidak menjawab. Isel mengirimkan pesan meminta Aira menemuinya di jembatan.
__ADS_1
Ai langsung keluar, mengunci pintu apartemen, bergegas menemui Isel padahal hari sudah malam.
Air mata Aira masih menetes di matanya, bekali-kali ditepis namun tidak berhasil meluluhkan hatinya yang sedang hancur.
Kedua tangan Isel tergempal, mengusap air matanya merasa marah kepada Aira yang menerima lamaran.
"Kenapa harus saling menyakiti jika memang tahu tidak bisa bersama,"
"Kenapa kamu ingin bertemu aku? jawaban aku kemarin malam cukup jelas." Aira menutup pintu mobilnya melihat Isel yang mengusap air matanya.
"Kenapa diterima? Kak Aira tidak mencintai Uncle," teriak Isel kuat.
"Lalu aku harus bagaimana? aku akan mencintai Dean sebisa aku. Apa kamu pikir ini mudah bagi aku? perasaan Aira juga hancur, tapi aku harus berpura-pura baik agar keluarga kita tidak khawatir." Ai meminta Isel menyudahi kesedihan yang membuat kedua orangtuanya merasa kehilangan.
Apa yang Isel lakukan bukan solusi, namun dia menghacurkan perasaan keluarganya karena tidak bisa melupakan masa lalu.
"Luka ini cukup tersimpan di lubuk hati terdalam, tidak perlu banyak orang yan tahu,"
Pukulan tangan Isel kuat menghantam wajah Aira, tendangan Isel juga memuat tubuh Aira terpental.
Pertarungan keduanya tidak bisa dihentikan, Isel yang memiliki emosi menggebu, ditambah lagi Aira yang mencari pelampiasan.
"Apa kamu masih ingin maju?"
"Aku akan membunuh kamu!" Isel langsung maju, serangannya lebih cepat sehingga sulit bagi Aira untuk menghindar.
Mobil Dean berhenti, dia mengetahui jika Isel akan bertarung bersama Aira dari Lea yang mendengar ucapan Isel.
Pukulan Isel menghantam Ai yang hanya tersenyum mendapatkan pukulan bertubi-tubi, Dean menahan tangan Isel yang penuh darah.
"Kalian berdua gila!"
"Lepaskan Uncle,"
"Kenapa berhenti? apa hanya sebegitu batas kemapuan kamu?" Ai tertawa menyentuh darah di wajahnya.
"Sialan kamu Aira!" Isel ingin menginjak tubuh Aira.
Dorongan Dean kuat, tubuh Isel terlempar sampai terjatuh. Kepala Isel terbentur kuat, pertama kalinya Dean mendorongnya sekuat tenaga.
__ADS_1
Air mata Isel mengalir di pelipis mata, cahaya bulan terlihat terang, penglihatan Isel sayu hingga gelap dan matanya tertutup sepenuhnya.
Dean memilih mengangkat tubuh Aira yang jatuh pingsan, memindahkan ke dalam mobil begitupun dengan Isel yang tidak membuka matanya sama sekali.
Keduanya dilarikan ke rumah sakit, Dean tidak tahu apa masalah keduanya sehingga memutuskan bertengkar.
"Kenapa keadaan semakin kacau? kenapa tidak bisa damai seperti dahulu?" Dean berteriak kuat merasa amarah.
Beberapa dokter membawa ke ruangan rawat, Diana sudah berlari kencang saat tahu kabar dari Dean.
Aliya juga tiba, menatap Dean yang juga tidak tahu menahu penyebab keduanya bertengkar. Al dan Diana meneteskan air mata karena anak mereka bertengkar sampai hampir membunuh.
"Ada apa ini." Gemal menatap istrinya yang sudah menangis.
Shin dan Tika saling pandang, mereka juga sering bertengkar, namun tidak berniat membunuh seperti Isel dan Aira.
"Kenapa menjadi semakin tidak terkendali?" Juna masuk ke dalam ruangan rawat menatap wajah Aira yang babak belur.
Diana teriak histeris tidak berani masuk ke dalam ruangan Isel melihat wajah Putrinya babak belur, bahkan gegar otak.
"Cari tahu apa penyebab mereka bertengkar?" Altha terduduk melihat dua putri yang begitu berharga saling menyakiti.
"Aku rasa keduanya meluapkan emosi masing-masing, sehingga lepas kendali. Jangan terlalu ditanggapi berlebihan, sekalipun hampir membunuh, keadaan akan kembali normal." Anggun mengusap punggung Aliya dan Diana yang sama-sama cemas.
"Aku baru tahu jika mereka berdua petarung hebat?" Shin menatap Tika yang menghela napasnya.
Mata Aira tidak bisa terbuka, wajahnya membengkak karena pukulan brutal Isel yang bertenaga.
Isel menolak bertemu siapapun kecuali kedua orangtuanya, Diana menangis memeluk putrinya yang akhirnya bangun.
"Maafkan Isel Mama, Papa. Sampai saat ini Isel hanya beban untuk kalian, izinkan Isel pergi sementara waktu." Tangisan Isel terdengar memeluk Mama dan Papanya.
"Iya sayang, Papa akan mengantar kamu untuk tinggal bersama kakek dan nenek,"
"Isel ingin pergi sendiri Pa, Isel ingin pergi secepatnya. Hari ini juga Isel ingin segera pergi."Kedua tangan Isel menggenggam tangan kedua orangtuanya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1