SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
AKHIRNYA (TAMAT)


__ADS_3

Berjam-jam main air sampai langit Senja menghilang barulah semua keluarga kembali ke villa.


"Sayang, Ara sudah tidur." Dean melangkah masuk kamar melihat Isel meletakkan jari telunjuknya mengisyaratkan agar tidak berisik dikarenakan Ira sedang menyusu perlahan ingin tidur.


Pelan-pelan Dean meletakkan Putrinya di samping Delvin yang sudah tidur lebih dulu karena lelah bermain air.


Setelah Ira tidur nyenyak barulah Isel memindahkan secara perlahan, tidur di samping adiknya.


"Aman, tiga buntut tidur." Isel memeluk suaminya yang naik ke atas ranjang.


"Capek tidak sayang?"


Kepala Isel mengangguk pelan, tapi Isel sedikit kesal karena Aira dan Angga menjadi pasangan paling kompak karena bisa melakukan segala hal bersama.


"Sayang, aku sudah tua tidak punya waktu untuk bermain selancar. Kita main kuda-kudaan saja." Senyuman Dean terlihat memeluk erat istrinya yang ngambek manja tidak bisa berselancar bersama.


Dean menasihati karena setiap pasangan memiliki cara bahagia sendiri, tidak harus sama. Meksipun kekurangan di mata orang lain, tapi belum tentu di mata pasangan.


"Abi kebalik, di mata orang lain istimewa, di mata pasangan biasa saja," ucap Isel dengan nada pelan.


"Tidak sayang, di mata aku apa yang orang pandang buruk tidak pernah buruk di mataku karena cinta yang dimiliki tulus menerima kekurangan."


Senyuman Isel terlihat, begitulah suaminya. Isel tidak menyangka hidup berumah tangga sungguh luar biasa indahnya.


Awalnya berpikir jika hal mustahil hidup bersama karena hubungan keluarga, tapi siapa yang menyangka jika tidak ada yang mustahil.


"Sel, apa kamu bahagia? Bagiamana perasaan kamu sekarang?"


"Pertanyaan apa itu Bi?"


"Terkadang aku masih sering binggung, canggung dengan hubungan keluarga kita. Satu sisi aku menyayangi Kak Di sebagai Kakak, tapi aku mencintai Putrinya keponakan sendiri." Dean tersenyum kecil karena ada banyak orang berkomentar soal hubungan mereka yang menikahi hubungan darah.


Sebenarnya Dean tidak mempermasalahkan karena keluarganya tahu jika pernikahan bersaudara tidak benar.


"Bi, jika kita mendengarkan ucapan orang maka tidak mungkin maju. Isel juga canggung kepada Nenda dan Kakek karena satu sisi mereka mertua aku, tapi tidak peduli apapun panggilan paling penting kita bahagia dan tidak menyakiti pihak manapun." Tubuh Isel menghadap suaminya, hubungan yang membingungkan, tapi tidak harus dibuat binggung cukup bahagia.


Kepala Dean mengangguk, sebenarnya hubungan mereka bukan hanya membingungkan banyak orang, tapi anak-anak.


"Bagaimana mereka memanggil Kak Di dan Mommy?"

__ADS_1


"Tidak mungkin binggung karena sudah terbiasa sejak kecil, apa yang dibiasakan pasti lekat di kepala."


"Sekarang Isel si pengacau yang nakal sudah dewasa, pembicaraan kita bukan lagi ocehan, tapi berbagi banyak hal dan mencari solusi dari setiap konflik." Dean mengusap wajah istrinya yang sangat dicintainya.


Dulu, Dean selalu khawatir karena Isel yang suka bolos sekolah, keluyuran, pertemanannya yang tidak sehat, bahkan tidak menyukai sekolah.


Tidak disangka keponakan yang dijaga menjadi ibu dari anak-anaknya yang pasti Dean akan mengulangi kecemasan yang sama.


"Ara dan Ira apa mungkin nakal seperti Umi-nya?"


"Panggil saja Rara, artinya Ara dan Ira. Mereka berdua kembar yang saling mengimbangi, Isel perhatikan Ira penakut dengan hal kotor, Ara kebalikannya, Ira suka makan apapun, Ara kebalikannya, satu suka tidur kanan, satu kiri, Ira elegan, Ara amburadul." Isel tertawa jika teringat perkembangan dua bayinya yang sudah mulai eksplor banyak hal.


Kepala Dean mengangguk, tidak menyangka jika Isel juga memperhatikan perkembangan anak-anaknya.


Ara lebih kalem, tapi Ira sangat sinis, kesukaan dan yang tidak disukai berlawanan sehingga Dean dan Isel harus antisipasi.


"Bi, jika Ira sakit maka Ara juga, aku melihat Ira jatuh tangannya berdarah, tapi Ara yang menangis menunjukkan jika tangannya sakit." Isel sedang mencari tahu kenapa ikatan begitu kuat.


"Aku juga menyadari itu sayang, berbeda dengan Delvin yang tidak terikat. Delvin seperti terbuang dari keduanya, tapi Rara takut dengan Delvin." Tanpa sengaja Dean melihat tatapan mata tajam Delvin saat Rara bertengkar rebutan mainan.


Senyuman Isel terlihat, ada banyak hal yang harus mereka pelajari dari karakter anaknya. Berusaha menjadi orang tua yang siaga, bisa menjaga, melindungi, memahami, hingga tidak ada yang lepas dari perhatian.


"Setuju, tidak peduli apapun masalah kita, sekalipun sedang tidak bertegur sapa, saling marah, sempatkan tidur di ranjang yang sama untuk membicarakan anak-anak." Dean mengecup kening istrinya mengucapkan terima kasih karena Isel sudah berjuang untuk bersama, dan menjadi ibu yang luar biasa.


Jika Isel tidak berjuang dari awal mungkin Dean tidak akan berani memperdalam rasa, tidak mungkin membiarkan perasaannya ada.


"Bukan Isel yang berjuang, tapi Abi yang memberikan jalan juga ruang. Jika saja Abi menjauhi dan memilih orang lain mungkin kita akan tetap menjadi Uncle dan keponakan." Pelukan Isel erat mengucapkan terima kasih karena Dean sangat mencintainya.


"Ayo kita tidur, besok pagi kita melihat matahari terbit bersama anak-anak dan keluarga."


"Bi, maafkan Isel jika pernah membuat Abi kecewa, bisa tidak temani Isel bukan hanya hari ini, tapi seumur hidup?"


"Tidak perlu kamu minta, sampai ajal menjemput kamu satu-satunya wanita yang bisa menatap aku sedekat ini." Dean tidak bisa mengutarakan betapa besar cintanya.


Ada kalanya cerita berakhir, ada kala juga hubungan berakhir, tapi kenangan akan selalu ada meksipun tidak pernah teringat.


"Sayang, aku tidak bisa seromantis Kak Gemal, tidak bisa juga sebaik Daddy, tapi aku akan berusaha membahagiakan kamu dan ketiga anak kita." Kepala Dean mengangguk, matanya berkaca-kaca karena terlalu takut mencintai begitu besarnya.


"Abi sudah menjadi Uncle yang hebat, suaminya yang luar biasa, bahkan menjadi ayah yang sangat dicintai oleh anak-anak. Terima kasih Abi sudah menghadirkan anak-anak," ucap Isel.

__ADS_1


"Kamu yang melahirkan mereka."


"Abi yang semprot sampai membuncit," teriakan Isel terdengar melihat ada tiga kepala sedang memandangi mereka.


Tawa Dean terdengar melihat ketiga anaknya bangun menatap dari ranjang bawah kedua orangtuanya sedang mengobrol.


"Abi, mereka bangun." Isel memukul dada suaminya yang masih tertawa.


Dean mengangkat satu-persatu ke atas, meminta tidur kembali. Satu ranjang lima orang, jarak Dean dan Isel ujung ke ujung.


"Abi Umi," panggil Ara.


"Tidur, sekarang waktunya tidur." Isel menarik selimut.


Dean mengecup kening keempat hartanya, melihat anak-anak memejamkan mata kembali barulah Isel dan Dean pindah ke ranjang bawah.


Tawa Isel dan Dean terdengar karena kedua putrinya ikutan turun meninggalkan Delvin sendirian.


Isel naik lagi ke atas, tidur memeluk Putranya, sedangkan Dean memeluk kedua putrinya yang masih mengantuk.


"Sayang, I Love you," ucap Dean.


"I love you too Abi." Isel tersenyum manis tidak menyangka kebahagiaan begitu besar.


Tidak ada cerita lagi yang bisa ditulis karena hanya ada bahagia dan tidak semua bahagia harus dibagikan.


Ujian dan masalah menjadi masa lalu, sedangkan bahagia masa depan.


***


TAMAT.


***


Jangan bersedih masih bisa menikmati kisah keluarga ini di novel terbaru ASISTENKU GADIS BUTA kisah Ghiandra, Ghiondra, dan Senja.


Aku tunggu pembaca setia di sana, terimakasih semuanya sudah mengikuti cerita ini.


💛

__ADS_1


__ADS_2