SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
ANGGOTA BARU


__ADS_3

Pertemuan Dean dengan tim diadakan tertutup, hanya ada dua orang tambahan untuk membuktikan jika Bian terlibat dengan penculikan beberapa wanita yang sedang mereka selidiki.


"Kenapa bisa kamu yang di sini Vio?" Dean menatap dingin.


"Kamu pikir aku mau, ini sangat menyebalkan Dean, seharusnya orang yang dikirim Hairin, tapi dia tersandung kasus. Kepala divisi sialan mengirim aku ke sini." Vio tahu jika mereka datang untuk mati karena ada surat perjanjian tidak ada tuntutan jika nyawa melayang.


Kepala Vio menoleh ke arah seorang polisi baru, tidak memiliki pengalaman, cupu, pendiam, dan Vio tidak tahu bakatnya.


Dean menarik napas panjang, ucapan Vio ada benarnya jika mereka dikirim bukan untuk menyelamatkan kasus, tapi penambahan anggota hanya untuk menjaga citra saja.


"Bertahanlah setidaknya tiga bulan karena kita akan selesaikan sampai di situ. Aku juga malas berlama-lama mengurus Bian." Dean meminta Vio dan Ren berhati-hati karena kedatangannya mereka masih di rahasiakan jika sampai ketahuan ternyata memang ada orang dalam yang ingin menggagalkan.


Kepala Vio dan Ren mengangguk, mereka harap bisa kembali dalam keadaan hidup juga tidak melihat wajah Bian lagi.


"Maaf Pak, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Apa?" Dean menatap Ren yang terlihat masih kebingungan.


"Kenapa seorang Jaksa terlibat, bukannya seharusnya ini tugas divisi kejahatan?" tanya Ren yang melirik ke arah Vio.


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Dean.


Kepala Vio geleng-geleng karena Ren bodoh sekali, dia tidak tahu tugas Jaksa, apalagi Dean bukan orang sembarangan.


Dean melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Vio yang sudah menyamar menjadi wanita yang akan bersantai di bar untuk melihat korban selanjutnya.


Informasi hilangnya wanita beberapa bulan lalu terdengar, seorang wanita cantik tidak pernah muncul lagi setelah berkenalan dengan Bian.


"Siapa nama wanita ...." Ren menatap Vio yang menutup mulutnya.


"Dia mungkin sedang liburan bersama tuan muda Bian," ucap Vio mencoba menimpali obrolan para pria.


"Tidak mungkin, kenapa Bian ada di sini, tapi Glora tidak ada?"


Mulut Ren terbuka, dia baru paham jika dia tidak boleh bertanya namun harus berpura-pura mengenalnya.

__ADS_1


Tatapan Vio terdengar, ingin sekali rasanya dia memecahkan kepala Ren yang tidak berpikir terlebih dahulu.


"Sel, aku ada di kota yang sama, kamu di mana?" Vio bicara di panggilan untuk bertemu dengan sahabatnya.


"Benarkan, aku kirim alamat." Isel tersenyum lebar karena akan bertemu temannya.


Vio meninggalkan Ren begitu saja, langsung menuju lokasi Isel karena sangat membosankan bekerja tanpa bersenang-senang.


Sampai di apartemen mewah, Vio menghubungi Isel kembali, di manapun Isel berada dia selalu tinggal di tempat mewah bahkan saat mereka kecil Isel menolak tidur di tenda, lebih pilih di atas pohon karena tidak suka berada di bawah.


"Sel, kangen." Vio langsung lari memeluk pria yang berdiri di hadapan Isel.


Tatapan Vio tajam langsung membanting Brayen, teriakkan Brayen terdengar karena dia hanya ingin melindungi Isel, bukan melecehkan.


"Lepaskan dia Vio," pinta Isel sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apa dia suami kamu, kenapa mencari lelaki cupu dan tidak berguna?" Vio melepaskan Brayen yang sudah manyun.


Kepala Isel menggeleng, meminta Vio masuk, dan beristirahat di rumahnya. Isel yakin pasti Vio sedang menyelidiki seseorang karena dia sangat benci bertugas ke luar negeri.


"Ada kasus apa kali ini?"


"Apa ini kasusnya Bian?" tanya Isel yang membuka pintu mempersilahkan Vio masuk.


Kepala Vio mengangguk, tidak menyangka jika Isel juga mengenal Bian yang menjadi target mereka karena selama sepuluh tahun Bian sudah menjadi incaran, tapi belum ada satupun yang berhasil menahannya.


"Kenapa semua orang tertarik dengan Bian, apa istimewanya dia?"


"Pertama dia kaya, tampan juga perkasa, tidak seperti kamu yang tidak punya duit, jelek, dan lemah." Vio melirik Brayen dengan tatapan mematikan.


"Jaga ucapan kamu, jika aku berhasil membuat kamu keenakan dia atas tempat tidur baru tahu betapa perkasanya aku," ujar Brayen yang tidak menyukai Vio, dia memiliki mulut yang tidak beretika.


"Kenapa kalian berdua bertengkar?" Isel meminta Vio mengabaikan Brayen karena bicara dengannya tidak ada untungnya.


Bibir Vio manyun, dia masih kesal karena ditugaskan dengan rekan yang tidak berpengalaman dan tidak memiliki bakat.

__ADS_1


"Kamu ada rekan?"


"Ya, kepala divisi mengirim aku hanya untuk hilang tanpa jejak." Vio tidak ada jalan untuk lari karena mereka melakukan misi rahasia.


"Kamu menjalankan misi rahasia, tapi membocorkan kepada Isel, lalu itu apa namanya?" Brayen setuju dengan atasan Vio untuk mengirimnya ke tempat berbahaya karena mulut Vio tidak ada adab.


Isel menarik napas panjang, mereka ada di negara yang isinya tidak ada sisi baik, selama tinggal di kota Isel tidak menemukan yang namanya orang susah, rasanya mereka masuk ke kota yang dikuasai oleh Bian.


"Selama tidak tahu kelemahan dia, maka tidak ada gunanya. Bian kalah di negara lain, tapi tidak di negara yang memujanya."


"Aku juga memikirkan itu Sel, lima puluh persen ada di sisi Bian. Dia tidak takut apapun di sini karena tidak akan ada yang mampu mengungkap siapa dirinya, meskipun tahu tetap saja semua orang tutup mulut,, mata dan telinga." Vio sudah mengatakan kepada atasnya, tapi mereka tetap memerintahkan untuk datang dan membawa warga yang hilang kembali.


Kepala Isel menatap lantai, dia sangat mengkhawatirkan Dean, jika Bian sampai menyentuh suaminya maka akan tahu kekejaman Isel. Tidak peduli berada di manapun, Isel tidak akan tinggal diam.


Suara pintu terbuka terdengar, Vio tersenyum mantap Isel karena suami Isel pulang.Vio sangat penasaran dengan suami Isel karena dia tidak sempat datang karena ada tugas.


"Sel, kamu sudah makan belum?" tanya Dean yang berjalan masuk, tapi langkahnya terhenti sesaat melihat ada satu sepatu wanita.


"Malam Kak Dean," sapa Brayen.


"Sepatu siapa itu Brayen, apa kamu membawa pacar atau Isel ada tamu?" Tangan Dean menunjuk ke arah sepatu.


Kedua tangan Isel memeluk Dean karena sangat merindukan suaminya meskipun hanya beberapa jam tidak berjumpa.


"Isel tanggung jawab kamu, aku harus pergi bekerja sekarang." Brayen langsung melangkah pergi karena dia tidak ingin mendengar Dean marah.


Wajah Vio termenung melihat suami Isel karena tidak pernah terpikirkan saat tahu Dean Dirgantara menikah dengan Ghiselin Leondra.


"Sial, aku baru ingat jika nama Isel ternyata Ghiselin. Seharusnya dirinya tidak datang ke rumah Jaksa yang memimpin misi mereka.


"Kenapa kamu di sini Vio, aku minta kamu menyelidiki keberadaan korban terakhir Bian?" Dean menatap istrinya yang tersenyum manis.


"Sudah Pak, namanya Grace Graham ...."


" Glora," ucap Isel membantu Vio yang lupa.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2