
Helaan napas Isel terdengar mendengar suara anaknya rebutan mainan, hanya duduk santai menonton dua gadis kecilnya yang berusia satu tahun bertengkar.
"Eh stop, tidak boleh bertengkar. Siapa yang cantik harus senyum?" Dean menatap dua gadisnya tersenyum manis ke arahnya.
"Siapa yang jelek ayo berantem," ucap Isel sambil tertawa.
Dean sungguh luar biasa sabarnya, kenakalan anaknya tidak membuatnya stres sama sekali, tapi bisa mengimbangi tindakan dua gadis kecil.
"Abi, Abi." Ara mulai manja memeluk karena mulai belajar bicara.
"Abi." Ira juga melangkah perlahan meminta peluk.
Tawa Dean terlihat menyambut dua putrinya yang memeluk erat berbeda jauh dengan Delvin yang belum bisa bicara, tapi jalannya sudah lancar.
"Peluk mereka terus, lupa dengan Isel." Bibir Isel manyun karena suaminya sering melupakannya.
"Sini, cemburuan sama anak sendiri." Dean memeluk istrinya, tapi rambut Isel dijambak oleh Ira dan Ara.
"Anak durhaka, aku yang melahirkan bukan Abi." Isel mendengar suara teriakan dari luar rumah.
Cepat Isel berlari karena Lea sudah kejar-kejaran dengan putrinya yang sudah lancar berjalan, dan sangat aktif.
Tawa Aira terdengar sampai terpingkal-pingkal, akhirnya Lea bisa merasakan hidup tidak tenang karena anaknya sudah mulai aktif. Ai sudah bebas karena kedua putranya masih menjadi bayi normal.
"Kak Juan, tolongin." Lea memegang putrinya yang sudah masuk ke dalam air mengenang karena hujan.
Juan berlari kecil melihat putrinya Era mengamuk tidak mau diangkat. Lea sudah kewalahan dari subuh menjaganya.
"Tidak boleh Nak, air kotor." Juan mengajari Era untuk merasa jijik dengan tanah.
Tangan Era memukul becek sampai megenai wajahnya, tawa cekikikan terdengar merasa senang.
"Biarkan saja Juan, namanya juga anak kecil sedang ekplorasi.
Dari jauh Isel tertawa terbahak-bahak karena Lea terlihat stres ulah bayinya yang super aktif. Bersama Ayahnya tenang, tapi jika bersama Bundanya langsung mencari kucing garong.
"Sel, anak kamu!" Lea berteriak melihat Ira atau Ara tidak bisa dibedakan karena wajahnya bagaikan pinang di belah dua.
"Ira jangan, itu kotor Nak." Dean begegas mendekati putrinya.
Tubuh Ira merinding saat tangannya menyentuh genangan air yang ada di rerumputan.
Wajahnya panik saat kakinya menginjak rerumputan, langsung bergantung di tanah Abi Dean meminta digendong.
__ADS_1
"Abi, atut." Wajah Ira meringis panik.
"Mampus, makanya jangan kepo." Isel melangkah mendekat membersihkan kaki putrinya, memasukkan sepatu kecil agar bisa berjalan.
Dean ingin menurunkan Ira, tapi menolak karena masih basah setelah hujan. Meminta tetap digendong.
Tanpa ada yang tahu, Ara sudah merangkak cepat saat tahu pintu terbuka, tidak peduli banyak air diterabas semua, bahkan berguling-guling.
"Sel, lihat satunya sudah kotor." Ai tertawa terpingkal-pingkal sampai duduk di tanah merasa lucu.
Tepaksa Isel berlari mengejar Ara yang jalan menggunakan kaki dan tangannya melihat ke arah Era.
Wajah Era langsung direbus, pipi Ara juga diremas balik. Juan dan Lea berusaha memisahkan keduanya yang saling cakar.
"Ara gemes sama adik Era, jarang main bareng. Ayo duduk manis, bermain bersama." Juan mengusap kepala Ara dan Era yang sama-sama memukuli air kotor.
Senyuman Juan terlihat, tidak menyangka dirinya memiliki putri yang tidak kalah membuatnya tarik napas panjang.
"Pagi-pagi sudah main air, jangan sampai masuk mulut." Diana tersenyum melihat cucunya yang menunjukkan rerumputan.
Secara tiba-tiba hujan turun, Lea berlari masuk meninggalkan putrinya. Juan ingin mengendong Era, tapi mengamuk meminta turun.
Kepala Ara celingak-celinguk karena semua orang pergi meninggalkannya yang terkena hujan sendiri.
"Astaghfirullah Al azim, kenapa lucu sekali?" Ai capek tertawa ulah Ara yang ketinggalan.
Dean berlari kencang membawa payung, memayungi Putri kesayangannya yang tertawa saat Abi datang.
"Abi," panggil Ara yang memainkan air.
"Maaf ya sayang, Abi nakal karena tidak melindungi Ara dari hujan." Dean mengusap rambut putrinya yang basah.
"Ujan," ucap Ara mengulangi ucapan Abi.
Tangan Dean menadah di payung, Ara juga melakukan hal yang sama. Merasakan tetesan air hujan yang datang menyapa.
"Dingin tidak?"
Kepala Ara mengangguk, tapi tidak menjauhkan tangannya masih tetap main air hujan.
"Jika hujan turun, Ara harus bersyukur karena hujan memiliki banyak manfaat, baik bagi manusia, tumbuhan juga hewan." Tangan Dean mengusap kepala putrinya yang tersenyum manis.
"Ingin Abi," ucap Ara masih memainkan tangannya di tetesan hujan.
__ADS_1
"Dingin, simpan tangan Ara. Sekarang coba berdoa ucapakan rasa syukur karena rumput dan buah-buahan di rumah Ara tumbuh subur " Senyuman Dean terlihat menatap putrinya yang sedang menadahkan tangan, lalu mengusap wajahnya.
Kepala Dean mengangguk, meminta Ara segera berjalan pulang untuk mandi karena badannya kotor.
Tangan kecil meyambut telapak tangan besar, berjalan bersama dibawah hujan gerimis, terlihat sangat romantis berpayung berdua.
"Lambai tangan dulu ke Nenda Di," pinta Dean menatap Diana yang tersenyum lebar.
"Dada." Tangan Ara melambai.
Air mata Diana menetes karena terharu sekali melihat adik lelakinya yang menjadi lelaki luar biasa.
"Dean hebat sekali yan Ma, dia mampu menjinakkan kucing nakal." Aira kagum dengan sahabatnya yang begitu lembut menghadapi putrinya.
"Iya, Dean menjadi cinta pertama Ara dan Ira, Isel tidak salah memilih lelaki." Mama Di mengusap air matanya.
Kepala Ai mengangguk, sedari dulu Dean memang selalu ada di tengah Isel, Aira, kakaknya, dan para wanita lain. Dia mampu tenang sama seperti Daddy-nya.
Suara Ura mengomel terdengar, memarahi maid yang lambat. Mencium tangan Mimi dan Nenda, langsung jalan menerabas hujan.
"Ura, kenapa main hujan?" Ai melotot.
"Siapa yang main, Ura mau pergi sekolah," jawabnya sinis.
"Kamu tidak melihat itu hujan, pakai payung. Mobil juga belum keluar kamu sudah main hujan."
"Kenapa menyalahkan Ura, salah hujan turun disaat Ura mau sekolah."
Tangan Aira menujuk meminta segera berlindung dari hujan, banyak sekali alasannya karena tidak ingin pergi sekolah.
Ura kembali lagi ke rumahnya membuang tas di depan Pipinya yang penuh kesabaran memungut tas.
"Sekolah salah tidak sekolah salah, Ura sudah bangun pagi, tapi hujan turun jadinya Ura mengantuk lagi." Hentakan kaki terdengar mengamuk.
"Ya sudah, sini pergi sekolah sama Pipi, Ura tidur sebentar di mobil baru belajar." Angga menggedong putrinya untuk pergi sekolah.
"Semua anak-anak sudah pergi sekolah, dia saja yang belum berangkat. Banyak sekali drama kamu Ura?"
Kepala Angga menggeleng, meminta Aira diam dan tidak berdebat lagi. Membawa Ura ke mobil untuk segera pergi sekolah.
"Semua anak Daddy Dimas sabar, hanya aku saja yang tidak ada sabarnya." Diana tertawa melihat tingkah Ura.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira