
Sampai di hotel Angga tidak menemukan keberadaan Ai sama sekali, apalagi hujan turun lebat.
Ponselnya juga tidak aktif, pengawal yang mengantar juga menghilang secara tiba-tiba. Angga langsung bergegas keluar, meminjam kunci mobil.
"Ada apa Uncle?"
"Aira tidak ada di hotel? kamu menemukan Isel tidak?"
Kepala Gion menggeleng, ikut masuk ke dalam mobil kembali ke tempat latihan mencari keberadaan Aira.
"Kita pergi ke lokasi sini saja Kak,"
Gion sudah memasang penyadap di ponsel Ben, masalahnya ponsel tidak aktif lagi. Mereka hanya bisa menuju tempat terakhir dikunjungi.
"Ini area hutan, meksipun melewati jalanan umum." Gion menghubungi Aira namun tidak ada jawaban.
Mobil yang Angga kemudi kebut-kebutan di jalanan, saat tujuan hampir dekat jantungnya berdegup kencang sampai tidak bisa konsentrasi.
Kepala Angga menggeleng, menepis pikiran buruknya jika wanita yang dicintainya bersama Ben.
"Uncle awas." Gion teriak histeris sambil berpegangan.
Angga membanting setir mobil sampai berputar-putar, mobil mengerem sampai jalan yang licik berbentuk ban yang tergesek.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, sekarang aku di mana? ini dunia atau akhirat. Kenapa sekarang? Gion belum menikah." Tangisan Gion terdengar memanggil Mama dan Papanya.
"Jangan lebai Gion, kita masih hidup. Siapa dia?" Angga menatap ke depan ada orang yang berjalan tertatih di bawah hujan deras hampir membuat mereka kecelakaan.
Gion meraba seluruh tubuhnya, lalu menyentuh mobil bahkan mengusap wajah Angga barulah tersenyum ternyata dia belum mati.
"Ben," Angga dan Gion menyebut secara bersamaan karena sangat terkejut melihat di depan mereka ada Ben dalam keadaan mengenaskan.
Tawa Gion langsung pecah, menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kelepasan. Ben babak belur karena berurusan dengan Aira.
Harapan Gion, Unclenya tidak tahu betapa kejamnya Aira jika sedang marah, Ai jarang marah karena hidupnya selalu bersenang-senang, tapi jika marah hancur masa depan.
Pintu mobil terbuka, Angga keluar sambil hujan-hujanan melihat Ben menarik kakinya juga matanya yang membiru, jari jemarinya membengkak.
"Siapa yang melakukan penyiksaan?"
"A A Aira." Tangan Ben menunjuk ke depan jalan.
__ADS_1
Angga salah menangapi, dia berpikir Aira dalam bahaya langsung berlari ke arah hutan meninggalkan Ben yang membutuhkan pertolongan.
"Sorry Uncle, cari bantuan lain saja." Gion juga langsung masuk mobil untuk menuju ke jalan yang dihampiri oleh Angga.
Mobil yang Gion kendarai berhenti, melihat satu tubuh manusia terbang bebas setelah ada mobil besar lewat dengan kecepatan tinggi.
"Waduh, Uncle Ben bisa terbang." Gion menjalankan mobil kembali sampai berhenti di satu mobil yang terparkir.
Angga berteriak memanggil Aira, mengintip ke dalam mobil yang kosong. Angga menggelengkan kepalanya saat Gion memaksa membuka mobil.
Di dalam mobil penuh dengan makanan yang beraneka ragam, Gion memegang identitas Isel yang menyamarkan usianya agar bisa mengemudi.
"Pengendara mobil ini Isel, pantas saja dia cepat meninggalkan Bar,"
"Di mana mereka sekarang?" Angga mengusap wajahnya yang penuh air hujan.
Keduanya melangkah maju saat melihat puing-puing mobil yang sudah terbakar, tidak ada menyisakan apapun.
"Uncle ada rumah, mereka mungkin di dalam." Gion mengikuti Angga yang sudah berlari lebih dulu.
Pintu rumah terbuka, melihat dua wanita sedang asik tidur dengan cemilan yang masih di mulut.
Angga langsung terduduk, mengusap wajah Aira yang tidur dengan pulas. Senyuman Angga terlihat mengecup kening Ai yang membuatnya hampir mati.
Teriakan Angga terdengar, meminta Gion menjaga ucapannya karena Ai masih bernapas dengan sangat baik.
Mata Aira terbuka, melihat Angga ada di hadapannya langsung berpura-pura tidur lagi. Suara Isel terdengar, Angga langsung mengecek kondisinya.
Mulut Isel penuh coklat sampai semut juga menggerogotinya, rambutnya penuh dengan Snack kentang yang tumpah karena dia ketiduran.
"Astaga, ini moments lucu." Gion menyesali karena kameranya ada di mobil.
Tangan Aira tergempal, Angga membersihkan rambut Isel juga bibirnya yang penuh semut meggunakan bajunya. Tempat tidur Isel juga dipindahkan.
"Aira bangun,"
"Kenapa aku dibangunkan? kenapa bukan Isel?" Ai tidak bergerak sama sekali, hatinya menangis karena tidak dipedulikan sama sekali.
Perlahan Isel yang terbangun, melihat Kakak juga Uncle basah kuyup. Isel melihat sekitarnya yang belum berubah.
"Ayo pulang, Isel butuh ranjang." Mata Isel terpejam memeluk lengan Angga meminta gendong.
__ADS_1
"Gion, pindahkan Isel ke mobil, aku akan membawa Aira." Angga menggendong Aira yang tidak ingin bangun membawanya keluar meskipun masih hujan agar mereka bisa pulang.
Dua mobil pergi meninggalkan lokasi, Angga tidak melihat lagi keberadaan Ben padahal Angga berniat membawanya rumah sakit.
Tawa Isel terdengar saat Kakaknya bercerita soal Ben yang terbang, dia saudara kembar mentertawakan orang yang bernasib sial.
"Lalu, di mana dia sekarang Kak?"
"Hilang, tidak tahu dibawa mobil itu atau tidak. Dia mirip zombi yang di film bisa terbang,"
"Kak, bagaimana jika dia meninggal? lalu kita dihantui." Isel memukul lengan Gion yang mengajarinya tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Kamu yang jangan bicara sembarangan, nanti dia ada di belakang kita." Teriakan Gion diikuti oleh Isel terdengar, mobil langsung melaju dengan kecepatan tinggi melewati mobil Angga yang terlihat jalan santai karena masih panik hampir kecelakaan.
Kening Angga berkerut melihat mobil di depannya, Aira yang menyadari mobil kebut-kebutan langsung tertawa.
"Kamu sudah bangun Ai? kenapa dengan mereka?"
Aira menahan tawa melihat mobil yang Gion kemudikan mengebut hanya karena mereka takut hantu, Ai melepaskan earphone di telinganya lanjut tidur lagi.
Tangan Angga mengenggam tangan Ai, merasa Aira sedang marah kepadanya karena tidak terlihat seperti biasanya.
Perlahan tangan Angga dilepaskan, Ai melipat tangannya di dada. Sebenarnya Aira sedih karena tangan Angga sangat dingin, dia khawatir dan mencemaskan.
"Kamu sedang marah Ai? apa salah aku?"
Pertanyaan Angga tidak ditanggapi, saat wanita marah Angga tidak tahu harus melakukan apa? dia tidak memiliki pengalaman soal cinta hanya bisa pasrah saja apa yang akan terjadi.
"Jika kamu marah, aku tidak tahu harus bagaimana? jika memang salah, katakan saja. Aku mengkhawatirkan kamu Ai,"
"Bagaimana jika juga putus saja? Ai mulai tidak nyaman dengan hubungan ini. Kita bisa bersikap profesional, meksipun tanpa hubungan?" Ai spontan megeluarkan kata-kata yang paling dia benci.
"Kamu ingin putus, berikan alasan logisnya." Angga menhela napasnya, tapi masih menunjukkan senyuman.
Hatinya sakit mendengar ucapan Aira, tapi Angga tahu ada salah dirinya sehingga membuat kecewa.
"Aku minta maaf jika salah, kita bicara lagi nanti." Angga memutuskan diam hingga sampai ke hotel.
Aira keluar mobil, tanpa menoleh sedikitpun. Langsung menuju kamarnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira