
Pelukan Angga lembut kepada istrinya yang sedang tidur di kamar Isel, membangunkannya tidak tega karena Ai terlihat sangat nyaman.
"Ayang, jangan sentuh Ai. Sekarang Aira sedang melakukan relaksasi," ucap Ai pelan.
"Kamu tidur sayang, kita pulang ke rumah. Tidur di rumah saja," pinta Angga menggedong istrinya, tapi Aira tetap menolak.
Dari balik pintu Isel melihat pasangan suami istri yang masih sangat ceria, tapi banyak orang luar yang mengusik merusak tawa.
Keduanya tidak pernah terburu-buru untuk memiliki momongan, namun pertanyaan orang yang membuat hati patah.
"Kalian berdua pulang saja, aku ingin istirahat." Isel menatap Aira yang bangun dengan ekspresi kesal.
Suara panggilan di ponsel Angga terdengar, dia langsung keluar lebih dulu membiarkan Aira terguling kembali.
Tangan Isel menyentuh perut Aira yang membuncit kecil, padahal Aira memiliki tubuh yang sangat bagus, perutnya rata.
"Kak Ai sekarang buncit, perut Isel juga rata dan ingin aku buat berotot." Isel menujukkan perutnya.
"Aku lagi malas olahraga, dan banyak makan. Lagian tubuh aku tidak terlihat gemuk hanya membuncit sedikit." Ai tidak ambil pusing karena dirinya nyaman dengan tubuhnya.
"Kak Ai kapan terakhir haid?"
Mata Aira memicing, pertanyaan Isel tidak biasanya. Gadis pengacau mencoba bicara dari hati ke hati. Ai langsung duduk tenang, dia anggap Isel memang psikiater handal yang mulai belajar.
Ai mencoba berpikir, jika dirinya tidak begitu lancar bulanan, satu bulan datang bulan depan tidak, bulan depan lagi flek selama satu minggu.
"Kak Ai tidak memeriksa diri?"
"Tidak merasakan sakit apapun, mungkin ini juga sebabnya aku belum hamil karena tidak subur." Kepala Ai tertunduk hanya bisa menahan air matanya.
Kepala Isel geleng-geleng, rasanya ingin sekali Isel tendang kepala Aira. Di keluarga ada banyak dokter, tapi tidak ada satupun yang menyadari.
"Sudah berapa lama seperti itu?" tanya Isel dengan penuh sabar.
"Lima bulanan, tapi kamu tahu sendiri saat Kak Ai belum menikah pernah tidak datang tamu selama enam bulan, kamu juga pernah tiga bulan." Ai tidak ingin menanggapi serius, dia hanya sedang mengumpulkan keberanian untuk memeriksa diri ke dokter agar bisa program punya anak.
"Kak Ai, rasanya Isel ingin melenyapkan orang," sindir Isel meminta Aira peka.
"Siapa, butuh bantuan tidak? meskipun begini aku ahlinya bela diri." Tawa Aira terdengar langsung melangkah keluar mendengar suara suaminya.
__ADS_1
Helaan napas Isel terdengar Uncle, suami istri tidak ada yang menyadari, tapi Isel juga masih ragu karena ukuran perut Aira sangat kecil.
Isel melangkah keluar, langsung ke rumah sebelahnya untuk menemui wanita kesayangannya, tapi ternyata Mommy Anggun ada sidang di pengadilan.
"Siapa yang harus Isel hubungi? terpaksa menunggu hasil tes darah." Isel kembali ke kamar emasnya.
Tatapan mata Isel tajam, pintu tidak terkunci lagi langsung masuk dan melihat isinya dalam keadaan aman.
"Aku rasa ada yang masuk ke dalam sini, pasti ulah Aira?" Isel membuka seprai yang menutupi emas, dugaannya tepat ditengah ranjangnya bolong.
Kedua tangan Isel tergempal, teriakkan menggema menyebut nama Aira yang sudah mencuri emasnya.
Aira terselamatkan karena Isel mendapatkan panggilan dari rumah sakit, terpaksa dia harus pergi. Isel pastikan Aira dalam masalah jika emasnya sampai hilang.
Diana pulang ke rumah tidak melihat keberadaan Isel padahal Diana memintanya pulang untuk bicara serius.
"Di mana anak satu ini?" Di masuk ke dalam laboratorium miliknya.
Mata Diana tajam melihat sesuatu yang bukan miliknya, mengecek CCTV ternyata milik Putrinya.
"Sore sayang, kenapa masih di sini?" Gemal memeluk istrinya sangat erat, mengecup pipinya.
"Kak Gem, di laboratorium ada darah yang sedang dicek. Diana rasa milik Isel," ucap Di menatap suaminya yang baru selesai mandi.
"Sejujurnya aku cemas kepulangan Isel kali ini, masih ingat keinginan dia dua tahun lalu untuk menikah, tapi belum ada calon yang dia kenalkan. Aku tidak nyaman jika Isel memilih lelaki luar." Gemal menggeleng belum siap melihat Putrinya menikah.
Senyuman Diana terlihat, Putri mereka bukan lagi remaja. Dia membutuhkan seorang pria yang mampu membimbingnya.
"Haruskah kita menjodohkan Isel dengan anaknya Uncle Dika?" Diana melangkah keluar kamar untuk kembali ke lab.
"Boleh itu sayang, dia juga calon Dokter. Aku suka sikap sopan dan ramahnya, tapi aku dengar kabar dia playboy?" Gemal mengikuti istrinya yang melihat hasil tes darah.
Awalnya Diana berpikir tes darah untuk mengetahui penyakit, tapi apa yang Diana temukan sangat mengejutkan.
Jantung Diana berasa berhenti berdetak, wajahnya langsung pucat pasi takut jika Gemal sampai tahu.
"Sayang ... tidak masalah playboy nanti bisa berubah jika mendapatkan wanita yang tepat, seperti aku." Tawa Gemal terdengar, langsung diam melihat istrinya senyum terpaksa.
Diana meyembunyikan hasil tes, tangan Gemal menadah meminta Diana menyerahkan hasil tes yang membuat wajahnya pucat.
__ADS_1
Tidak berani membantah, Diana memberikan hasil tes darah yang diambil. Mata Gemal memicing karena tidak ada gejala serius, tapi satu hal yang membuatnya terdiam.
"Milik siapa ini sayang?"
"Tidak tahu Kak ... oh sepertinya punya pasien Diana." Di berusaha bohong.
"Ini milik Isel, di mana dia sekarang? ini alasan dia ingin menikah." Tangan Gemal meremas langsung melangkah keluar menghubungi Putrinya untuk kembali.
Diana langsung menangis, meminta suaminya tenang dulu mungkin bukan milik Isel. Diana tahu Putrinya nakal, tapi tidak mungkin keluar jalur.
Perasaan Diana takut, menghubungi adiknya yang dikabarkan sudah pulang. Hanya Dean yang berani kepada Gemal jika bersangkutan dengan Isel.
"Dean, kamu di mana? bukannya hari ini sampai rumah?"
"Sebentar lagi pulang Kak, sekarang di kantor Mommy baru selesai sidang. Ada apa, kenapa Kak Di menangis?"
"Tidak perlu tahu, kamu pulang cepat. Isel membuat masalah baru, Kak Gemal marah melihat hasil tes darah milik Isel yang positif." Tangan Diana sampai gemetaran karena Gemal sudah debat dengan Isel melalui panggilan.
"Positif apa, langsung aja intinya jangan membuat Dean khawatir?"
"Positif hamil Dean," ucap Di di dalam panggilan.
"Gila! tidak mungkin." Dean mematikan panggilan bergegas pulang.
Diana tidak berani mendekati Gemal yang membaca hasil berkali-kali dengan tatapan tidak percaya.
Suasana terasa dingin, Diana hanya bisa berdoa Dean datang lebih dulu dibandingkan Isel. Hal gila yang mustahil terjadi di dalam keluarga mereka.
Isel sangat dijaga, Diana tidak percaya jika Putrinya melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa termaafkan.
"Diana, pinta tim IT mengirimkan semua data ponsel Isel, siapa yang berani berhubungan dengannya," pinta Gemal.
"Jangan bicara sembarangan Kak, tidak mungkin Isel." Diana sangat mempercayai Putrinya.
"Aku akan melenyapkan kalian jika menyentuh putriku," gumam Gemal penuh amarah.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1