SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TERLUKA


__ADS_3

Tangan Tika menarik kerah baju Black mendekati bibirnya kembali, tapi kepala Black terus menjauh.


Cengkraman terlepas, Aira mengibaskan rambutnya berjalan santai kembali ke kamarnya.


Kepala Lea geleng-geleng melihat Aira yang memang gila, rencana mereka hanya mencari tahu hubungan Blackat dan Silvi, bukan Aira ikut-ikutan masuk.


"Ai, kamu tidak ragu sama sekali mencium Black?"


"Itu bukan pertama kalinya." Tawa Aira terdengar menatap Lea yang sudah terduduk kaget mendengar ucapan sahabatnya.


Kedua tangan Lea memegang kepalanya, Aira memang wanita sinting yang mencium aktor paling berpengaruh dengan ciuman gilanya.


"Ai, kamu harus jaga diri,"


"Aku tahu, tapi tidak tahu mengapa aku merasa Blackat pria yang polos, tapi bergaya paling cool." Ai memejamkan matanya kembali merasa puas jika sudah membuat Blackat seperti orang gila.


Senyuman Lea terlihat, naik ke tempat tidur memeluk erat Aira. Jika Ai memiliki feeling baik, maka Lea juga sependapat. Black akan aman jika dia memiliki hubungan dengan Aira, tidak takut harus didekati banyak wanita karena dukungan pengemar Ai sangat kuat.


Di dalamnya, Blackat tidak berkesudahan menggosok bibirnya. Dicium pipi bisa dimaklumi, tapi jika menyentuh bibir tidak bisa Blackat maklumi.


"Kenapa kamu Black?"


"Bukan urusan kamu, kapan shooting ini selesai?"


Gilang mengerutkan keningnya memberikan air minum, tidak ada yang bisa memancing amarah Black kecuali Aira. Dia sangat kuat mental dalam merusak mood.


"Apa lagi yang Aira lakukan? kenapa kamu bisa berduaan di hutan?"


"Di hutan bukan masalah, tapi kali ini dia gila." Black mengusap bibirnya.


"Demi apa kamu dicium di bibir? Aira berani sekali. Lalu bagaimana respon kamu? melanjutkan pastinya,"


Tendangan Blackat menghantam perut Gilang, meminta keluar karena Black tidak ingin membahas Aira lagi.


Pintu ditutup kuat sampai kuncinya terlepas, Black langsung berbaring memejamkan matanya, tapi bayangan bibir Aira menyentuh membuat tidak bisa tidur.


Mata Black terbuka, teringat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu saat Aira kecelakaan bersama Anggrek.


Tidak ada kata baik yang keluar dari mulut Ai, dia menghina Anggrek penyakitan dan menyalakan atas kecelakaan yang menimpa.


Saat itu Black memaafkan, keluarga Aira bertanggung jawab bahkan menolong kesulitan perekonomian keluarga Blackat yang hidup kekurangan.

__ADS_1


Black berpikir semuanya berakhir di hari itu, tapi ternyata itu barulah awal keterlibatan Aira.


"Kenapa dulu kalian bersahabat? kenapa Anggrek begitu setia padahal Aira penyebab kematian ibu?" mata Black terpejam, memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.


Cengkraman tangan Black kuat, mencari obatnya agar bisa tenang. Jika memikirkan Ibunya Black langsung gemetaran, kejadian itu membuat trauma besar baginya.


Setelah minum obat, barulah mata Black terpejam. Tidurnya lebih tenang, dan tidak bangun sampai matahari terbit.


***


Gilang yang mengetahui jika Black meminum obat, membiarkan tidur lebih lama. Tidak mengizinkan ada yang masuk apalagi Aira wanita sinting yang sudah melecehkan artisnya.


Di tempat shooting semua artis sudah berkumpul kecuali Blackat dan Silvia, beberapa orang mulai bergosip membicarakan keduanya jika sempat bertemu.


Dengan tenang Aira duduk santai sambil minum susu pisangnya, tidak terganggu dengan pembicaraan banyak orang yang mulai mengatakan ada cinlok kembali.


"Ai, kamu baik-baik saja kemarin?" Delon duduk di samping Aira yang hanya membalas sambil mengangguk.


Lea hanya bisa menggeleng melihat tingkah Aira, jika ada pria yang mengangumi dan mencoba mendekatinya pasti tidak ditanggapi. Ai lebih menyukai seseorang yang tidak mempedulikannya, terlihat cuek dan selalu mengabaikannya.


Shooting akhirnya di mulai, Aira banyak tertawa bersama artis yang lain. Candaan terlihat saat Aira melakukan kesalahan, tapi Delon lebih banyak membantunya.


"Kenapa Blackat belum muncul? dia harus shooting bersama Aira,"


Tidak berapa lama Silvia muncul, meminta maaf dirinya terlambat karena sedang mengalami sakit perut.


"Maaf ya Aira menunggu lama,"


"Bisa aku maklum kalian artis senior, junior memiliki banyak waktu untuk menunggu." Ai tersenyum manis untuk ambil posisi.


"Mereka sedang bahagia Ai karena bertemu kembali," suara mengejek terdengar mendukung hubungan Blackat dan Silvi.


Kepala Silvi tertunduk, bersiap untuk mengambil gambar. Belum sempat Aira menyerang, Silvi sudah terduduk lemas.


"Kenapa dengan peran ini? aku memiliki banyak pekerjaan di luar sana, bukan membuang waktu menunggu kalian." Ai langsung keluar dari lapangan, menolak melanjutkan.


Suara langkah kaki Blackat terdengar menyindir Aira yang hanya artis baru, tapi bergaya seperti paling profesional.


"Kita selesaikan syuting hari ini, jangan membuang waktu lagi hanya untuk menunggu kamu." Black menatap Aira yang menatapnya sinis.


"Bukannya tuan muda Blackat yang terlambat. Kenapa bisa datang selama ini? oh iya lupa, baru saja bertemu dan melepaskan rindu akhirnya bangun kesiangan. Ya ya ya, artis baru harus memaklumi." Ai tersenyum manis kembali lagi untuk melanjutkan.

__ADS_1


Shooting dilanjutkan, tubuh Aira terlempar tanpa pengaman karena serangan Blackat. Silvia kebingungan melihat keduanya bertarung sungguhan.


Manager sudah beberapa kali meminta keduanya berhenti, pertandingan tidak sesuai arahan.


"Sudah cukup." Teriakan Silvi terdengar, meminta Black profesional.


"Kita ulangi sekali lagi," sutradara meminta semaunya kembali.


Aira yang terjatuh kesekian kalinya berusaha untuk berdiri, mengepal tangannya mencari cara untuk membalas Blackat.


Tidak ada peluang bagi Ai, akhirnya sampai shooting selesai dirinya tidak berhasil memberikan pelajaran kepada Black.


"Ai, kamu baik-baik saja?" Silvi mendekati Aira yang hanya membalas dengan senyuman..


Tidak ingin berlama-lama, Aira langsung melangkah pergi meninggalkan lokasi shooting. Duduk di bawah pohon menatap tangannya yang terluka, saat dirinya berdarah Ai merindukan Maminya.


Air mata Aira menetes, secara tiba-tiba dia ingin menangis. Aira ingin berlari ke dalam pelukan Maminya karena tidak bisa meluapkan amarahnya.


"Mami, kangen." Aira menatap tangannya yang berdarah.


Setiap bicara dengan Maminya, tidak ada kata akur antar keduanya. Selalu saja berakhir dengan perdebatan.


"Mami benar, berjuang itu sakit. Aira terluka Mi, jika mengalah Ai akan semakin ditindas, tapi jika melawan Aira memiliki banyak musuh." Ai mengusap air matanya langsung menghubungi Maminya.


Mendengar suara Mami Aliya, senyuman Aira terlihat. Hatinya yang marah langsung merasa baik-baik mendengar suara wanita yang sangat dicintainya.


[Ria, kamu baik-baik saja?]


[Ya, Aira sangat baik. Mami masih marah? kapan Aira akan mendapatkan fasilitas lagi? Mami Ria kangen." Tangisan Ria terdengar, dia ingin pulang.


Dari jauh Blackat memperhatikan Aira, menatap tangan Ai yang berdarah sambil menangis sesenggukan.


"Apa aku keterlaluan? tangisannya terlihat sangat terpukul. Apa tangannya juga sakit?" Black ingin mendekat, tapi melangkah mundur lagi. Dirinya tidak boleh bersikap baik dengan Ai.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2