SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
LAHIR DADAKAN


__ADS_3

Perumahan sepi hanya ada Isel dan Dean yang terlambat pergi ke luar kota untuk datang ke pesta pernikahan Devan dan Vio.


"Kita seriusan pergi terakhir, rasanya Isel malas pergi, tapi ini pernikahan Vio." Tatapan Isel melihat suaminya yang menyiapkan barang untuk tidur di hotel selama acara.


Dean duduk mendekat, mengusap perut Isel yang sangat besar karena sudah masuk tiga puluh enam minggu


"Sayang, meskipun dokter mengizinkan pergi cukup jauh aku masih tidak tenang, kita di rumah saja." Dean bukan tidak ingin bergabung dengan keluarga besar, tapi takut melihat perut besar Isel.


Lirikan mata Isel tajam, dia tetap ingin pergi karena sudah persiapan untuk merayakan ulang tahun pertamanya di usia dua puluhan.


"Kamu sudah dia puluh tahun bulan kemarin."


"Tahu, tapi Kak Ghion sudah berjanji akan datang dan merayakan ulang tahun bertiga, kemarin Isel merayakan sendiri karena dua G masih di luar negeri." Wajah Isel cemberut berjalan ke kamar mandi.


Kepala Dean geleng-geleng, melihat jam sudah pukul empat pagi, mereka harus segera berangkat karena acara akan dimulai jam sepuluhan.


Suara Isel mengomel masih terdengar karena Dean penyebab terlambat pergi, sibuk kerja. Seharusnya mereka sudah berangkat sejak kemarin, tapi terlambat sehingga harus menyusul.


"Masih lama tidak sayang, kita sholat dulu baru berangkat," ucap Dean memanggil istrinya.


"Abi, tolongin." Isel menatap takut saat melihat ada banyak air yang mengalir dari sela pahanya.


Isel dijadwalkan akan melakukan operasi sesar dua minggu lagi karena kandungnya baru jalan tiga enam minggu.


Diana tidak ingin kurang bulan karena ada tiga bayi yang harus diperjuangkan keselamatannya, selain bayi ada ibunya juga.


"Abi, cepat!"


"Ada apa?" Dean yang sudah siap untuk beribadah tersentak kaget melihat Isel mengeluarkan banyak air.


"Tenang, atur napas. Kita berdua tidak boleh panik, sekarang langsung ke rumah sakit." Isel tersenyum karena mulai merasakan kontraksi.


Tangan Dean gemetaran, tapi benar kata Isel mereka harus tenang tidak ada gunanya tergesa-gesa dan panik.


"Aku harus bagaimana sayang?"


"Minta mbak bawa koper bayi yang sudah disiapkan oleh Nenda, Abi hubungan dokter kandungan Isel katakan jika air ketuban sudah keluar banyak." Isel berjalan pelan dibantu oleh Dean yang menopang tubuh istrinya

__ADS_1


Dean memanggil maid menujuk ke arah koper, supir juga diminta bersiap. Isel masih sempat ganti baju, memoles tipis wajahnya.


Senyuman Isel terlihat, digendong oleh Dean menuju mobil karena terlihat sekali Isel menahan sakit.


"Bi, kita gagal ke pesta," ucap Isel mencoba menghibur suaminya.


"Jangan pikirkan pesta, kita banyak berdoa saja semoga baby dalam keadaan baik, kamu juga sehat." Dean menahan air matanya karena membayangkan saja begitu menakutkan.


"Uncle Dean, jangan takut. Kita pasti akan keluar dengan selamat, bukan hanya Isel, tapi ketiga anak kita." Isel mengusap air mata suaminya yang sudah menetas di pipi.


Kepala Dean mengangguk, meminta laju mobil dipercepat. Dean juga menghubungi Dokter mejelaskan kondisi Isel yang sudah megeluarkan air ketuban.


"Aku temani kamu sampai akhir. Isel kesayangan Uncle yang paling kuat, kamu pasti bisa berjuang melahirkan buah cinta kita. Meksipun Uncle tidak bisa membantu." Dean mengusap perut Isel lembut, meminta anaknya baik dan sehat selalu.


Senyuman Isel terlihat dirinya tidak menyangka akan mendapatkan Dean, bahkan menjadi istrinya.


Isle masih sangat tenang meksipun rasa sakit ingin mengoyak tubuhnya, sebagai dokter gila dirinya tidak boleh kalah dengan rasa sakit, harus menjaga ekpresi, penampilan juga wibawanya.


"Sialan ini bocah bertiga tidak paham jika Uminya ingin makan daging, kenapa harus sekarang?" Isel garuk-garuk kepala karena pusing.


Sampai di rumah sakit masih gelap, matahari belum menampakkan diri karena masih jam lima pagi. Isel keluar mobil digendong oleh Dean.


Tangan dokter menyentuh perut Isel, meminta ke ruangan persalinan karena ketuban pecah, diusahakan untuk lahiran normal.


"Normal Dok, ini ada tiga bayi." Dean semakin cemas.


"Abi tenang saja, dokter tahu yang terbaik. Isel bersedia lahiran normal karena prosesnya lebih cepat." Isel mengenggam tangan suaminya.


Dokter mengecek pembukaan, sudah menyentuh kepala bayi yang siap lahir karena Isel juga sudah memberikan peringatan jika bayinya ingin keluar.


"Giliran bocah, ya Allah sakit." Isel menarik tangan Dean yang masih memiliki ketakutan saat Diana lahiran kembar tiga.


Sekarang Isel juga harus berjuang melahirkan tiga bayinya sama seperti Mamanya dua puluh tahun yang lalu.


"Sel, tarik napas perlahan. Jika sanggup lanjut, tapi jika tidak bicara saja karena ruangan operasi juga sudah dipersiapkan.


Teriakkan Isel terdengar karena merasakan sakit yang luar biasa, Dean melihat langsung perjuangan istrinya.

__ADS_1


"Abi, jika tidak kuat jangan dipaksa." Isel melihat wajah Dean pucat.


Tetesan air mata menetes, Dean memejamkan matanya sesaat mengenggam tangan Isel yang juga mengenggam erat tangannya.


Dua kali mendorong bayi tidak ingin keluar, dokter bahkan menggunting jalan keluar, tapi masih gagal.


Keringat sudah bercucuran membasahi kening, usapan lembut Dean terasa dikenang Isel tanpa bisa menahan air matanya.


"Sayang, aku sangat mencintai kamu."


"Jangan bicara soal cinta, dokter di sini jomblo semua." Isel langsung menangis memanggil Papa Mamanya karena takut dirinya gagal melahirkan anaknya.


Dokter juga merasakan kecemasan Isel dan Dean, apalagi kelahiran pertama dengan tiga bayi sekaligus.


"Mama, maafkan Isel jika tidak bisa menjadi Putri yang penurut, Isel tahu perjuangan Mama membawa Isel ke dunia mempertaruhkan nyawa." Isel menyebut nama mamanya berkali-kali di dalam hati.


Dokter meminta Isel mendorong bagi keluar sekali lagi, jika tidak lahir maka akan pindah ke ruangan operasi karena darah dan air ketuban banyak keluar.


Perawat sudah memasang infus darah, Isel mendorong sekuat mungkin sampai tubuhnya lemas.


Suara tangisan bayi pertama terdengar, dokter memastikan kondisi Isel terlebih dahulu karena jika tidak mampu lagi maka dia harus operasi.


"Kenapa aku harus merasakan sakit kontraksi juga sakit dibedah, cepat dokter. Apa aku harus menariknya sendiri agar dua bayi itu keluar." Teriakan Isel kuat karena merasakan ada yang ingin keluar.


Dean melihat ke arah satu bayi yang masih diabaikan, sibuk sendiri menggerakkan tangan dan kakinya.


Tangisan Isel terdengar bersama dengan bayi kedua yang menangis sangat kencang membuat bayi pertama terkejut.


Suara Dean menangis terdengar menatap dua bayi yang sudah berada di boks masing-masing.


"Selesai." Isel terkulai lemas tidak bertenaga lagi menatap wajah suaminya yang melihat ke arah bayinya.


Tangisan bayi ketiga tidak Dean dengarkan hanya bisa terdiam melihat keajaiban, dan hebatnya seorang wanita mengeluarkan tiga bayi sekaligus.


"Begitu sempurnanya sang pencinta mengatur posisi kalian, terima kasih sayang," ujar Dean yang langsung bersujud tidak bisa berkata-kata lagi betapa dirinya bersyukur kepada sang maha kuasa.


Air mata Isel menetes, jatuh pingsan karena tubuhnya terlalu lemas kehabisan tenaga juga darah.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2