SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERGILAH


__ADS_3

Dengan pelan Angga meminta Dean dan kedua orangtuanya pergi, tidak ada yang perlu mereka bicarakan karena Angga tidak ingin membahas masalahnya.


Ketukan pintu terdengar, Mommy juga bicara dengan sangat lembut berharap Angga mengizinkan mereka untuk masuk.


"Pergi, pergi dari sini. Aku mohon pergilah, tidak ada yang perlu diluruskan, kalian hanya akan terluka. Aku mohon pergi." Angga berteriak tidak kuasa menahan air matanya.


"Nak, Mommy ingin bicara, kita tahu semuanya. Kita luruskan masalah ini, Mommy mohon buka pintunya," pinta Anggun tidak kuasa menahan air matanya.


Suara tangisan dari dalam terdengar, tidak ada suara dan jawaban dari dalam. Hanya tangisan yang berusaha ditahan, namun begitu menyakitkan.


"Angga, Daddy ingin bicara. Kamu tidak pernah menyakiti kami, Daddy yang datang ingin meminta maaf. Buka pintu izinkan menjelaskan yang terjadi." Air mata Dimas juga menetes, meminta maaf karena dirinya begitu lama dan sudah terlambat.


Usia Dimas tidak muda lagi, dia tidak ingin di usia tuanya menyakiti siapapun. Jika salah, Dimas bersedia meminta maaf dan menembus kesalahannya.


"Pergilah, tidak ada yang salah. Tolong jangan dibahas lagi, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Tinggalkan aku sendiri, pergi." Suara Angga terdengar meninggalkan pintu memilih tiduran di sofa sambil menangis.


Angga tidak ingin melihat wajah Dimas yang bahkan tidak tahu apapun tentang dirinya, Shena benar munculnya hanya akan menghancurkan rumah tangga orang.


"Pergilah, aku salah. Maafkan aku, pergilah." Mata Angga terpejam, meremas dadanya yang merasakan sesak karena terlalu banyak menahan kesedihan.


"Kita akan menunggu kamu sampai keluar, jangan terlalu sedih sendirian. Kamu memiliki kita sebagai keluarga." Mommy menyentuh pintu, tidak mendengar suara apapun.


Dengan sabar, Dean bersama kedua orangtuanya menunggu di luar sampai hati Angga luluh dan menerima mereka untuk menjelaskan dan meluruskan semuanya.


Lama menunggu sampai berjam-jam, langit juga sudah gelap. Dimas hanya menyempatkan membeli makanan, melihat istrinya yang menyempatkan beribadah menggunakan lapisan koran.


Air mata Dean menetes kasihan melihat Mommynya yang sangat baik, tidak ada keluhan sama sekali.


"Dean, kamu makan dulu Nak,"


"Iya Pi, Dean kasihan kepada Mommy karena sangat berharap kedatangan kita tidak sia-sia." Dean menatap pintu mencoba mengetuk kembali.

__ADS_1


Selesai beribadah Anggun mendekati pintu kembali, dia yakin menyelipkan doa untuk Angga agar terbuka pintu hatinya untuk memberikan mereka kesempatan untuk bicara.


"Sayang kamu makan dulu,"


"Nanti saja Dad, Angga mungkin di dalam sedang menangis meraung-raung membenci dirinya sendiri, bagaimana kita bisa makan di sini." Senyuman Anggun terlihat membunyikan bel pintu kembali sambil mengetuk pelan.


Dugaan Anggun benar, di dalam Angga sedang menangis. Masih mendengar suara pelan yang menunggu sampai Angga siap untuk bertemu.


Dobrakan pintu kuat, suara bel ditekan berkali-kali secara paksa. Teriakan Dean terdengar, memaksa Angga untuk membuka pintu. Mommynya tidak kuat dengan dingin, jika sampai Mommynya sakit Angga harus bertanggung jawab.


"Kak buka, Mommy kedinginan." Teriak Dean sambil memukuli pintu.


"Dean tidak boleh seperti itu Nak,"


Perlahan pintu terbuka, Angga melihat Mommy Anggun yang menggunakan jaket tebal karena memang sedang cuaca dingin.


"Kenapa lama sekali? kaki Dean keram." Pintu didorong oleh Dean langsung bergegas masuk mencari jaket karena dia juga kedinginan.


Angga juga berjalan ke arah sofa, membiarkan Daddy dan Mommy masuk. Duduk dihadapan Angga yang hanya diam menatap ke bawah.


"Tidak ada, koper aku ketinggalan di bandara." Kepala Angga masih tertunduk tidak melihat ke arah Daddy Mommy yang menatapnya.


Sesekali Angga mengusap matanya, tidak ada suara tangisan atau air mata yang terlihat karena kepala tertunduk dalam.


Anggun berjalan mendekat, duduk di samping Angga menyentuh keningnya yang panas. Mommy langsung mengambil obat penurunan panas, meminta Angga meminumnya.


"Aku tidak bisa minum obat demam karena harus minum obat lain," ucap Angga pelan menolak.


"Maaf, Mommy tidak tahu. Di mana obat kamu?"


Kepala Angga menggeleng, obat-obatan ada di koper. Dia tidak bisa keluar karena ada beberapa wartawan yang mengetahui dia tinggal di apartemen.

__ADS_1


Tangan Mommy mengusap punggung Angga, memintanya mengangkat kepala agar bisa bicara dengan jelas.


"Aku minta maaf jika membuat Tante sakit hati, tidak ada sedikitpun niat aku menyakiti kalian. Aku yang salah karena lahir, tidak ada sangkut-pautnya dengan siapapun." Air mata Angga menetes langsung cepat ditepis.


"Kenapa meminta maaf? apa salah kamu? kedatangan kita bukan menginginkan permintaan maaf, kita hanya ingin membawa kamu pulang." Anggun juga menangis mengusap wajah Angga yang penuh air matanya.


Matanya yang indah sayup karena terlalu banyak menangis, Anggun tidak kuasa melihat bekas darah yang ada di baju.


"Maafkan aku yang menjadi penyebab air mata kalian, aku tidak ingin menyakiti tidak ada niat. Pergilah dari sini setelah matahari terbit, maaf karena aku menggoreskan luka." Angga berdiri dari duduknya, tidak tega melihat Mommy Anggun menangis sesenggukan.


Mata Angga tidak berani menatap mata Dimas, hatinya hancur jika melihatnya karena hadirnya dia tidak diketahui.


Bukan terbuang karena kekurangan materi, ataupun perpisahan suami istri, Angga lahir dari wanita yang tidak bersuami bahkan hanya sebuah kesalahan.


Dimas tidak salah apapun, pasti sangat mengejutkannya baginya secara tiba-tiba memiliki anak dari wanita yang tidak dicintai bahkan seorang pengkhianatan.


"Angga, duduklah. Daddy ingin bicara dan meluruskan kesalahpahaman kamu. Daddy memang tidak tahu jika Shena hamil apalagi melahirkan anak ...."


"Angga tahu Om, maafkan Angga yang menyakiti keluarga Om, kalian tidak perlu khawatir karena aku tidak akan menuntut apapun. Om tidak salah, Om tidak tahu apapun. Angga yang salah seharusnya tidak penasaran soal kedua orang tua kandung. Kenyataannya aku memang tidak memilikinya," ucap Angga dengan suara pelan.


Air mata Dimas juga menetes, melihat di atas meja yang hanya ada makanan kemasan. Baju tidak diganti. Dimas merasa teriris melihat kondisi anaknya yang menyedihkan.


"Daddy datang ingin membawa kamu pulang, kita mulai dari awal. Kamu dan Dean saudara kandung ...."


"Tidak Om, kami bukan saudara. Anak kalian hanya Dean, jangan akui aku, Om. Angga hanya anak yang lahir tanpa ikatan, Om tidak harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Tante Shena sudah bahagia, Om juga. Maka Angga harus bahagia juga karena aku memang lahir tanpa orang tua." Angga berjalan ke kamar tidak ingin mendengar ucapan Dimas dan Anggun.


Langkah Angga terhenti melihat Dean yang membawa mie, asik makan tanpa banyak pikiran.


"Kak Angga ingin mie?"


"Makalah, ambilkan minuman hangat untuk orang tua kamu, besok pergilah dari sini. Dean aku mohon pergilah, dan maaf jika aku membuat kamu terluka." Angga langsung masuk kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2