
Pelan-pelan Juan melangkah turun dari lantai atas rumahnya sudah siap dengan baju untuk ke kampus, Juan ada jadwal pagi.
"Kenapa kamu berjalan pelan sekali? ciri-ciri melakukan kesalahan seperti ini." Al menatap tajam Juan meminta mengikuti ke ruang makan.
Sudah Juan duga, dia akan mendapatkan seribu pertanyaan dari Maminya soal hubungan bersama Lea.
Senyuman Juan terlihat duduk santai di meja makan, ada dua kurcaci yang ikut makan karena sedang bertengkar dengan Maminya.
"Makan Uncle, jangan malu-malu lihat Mira tidak tahu malu." Tawa Mira terdengar mengunyah roti yang disiapkan untuknya.
"Mau susu tidak Uncle, Mora baik hati jadi bagi sedikit buat Uncle." Susu di gelas dituangkan hanya setetes di cangkir Juan.
Senyuman Juan terlihat, merasa senang melihat dua anak kecil yang nampak bahagia dengan sikap jahilnya.
"Siapa wanita itu Juan? kenapa tidak diperkenalkan dengan Mami? apa pekerjaannya?" banyak sekali pertanyaan Aliya termasuk bibit, bobot dan bebet.
Belum sempat Juan menjawab, pertanyaan yang lain juga sudah ditanyakan membuat Juan pusing.
"Nenda, tanya satu-satu. Mora juga pusing mendengarnya,"
"Betul Nenda, satu-satu aku sayang Mama, dua-dua sayang juga Papa. Begitulah Nenda,"
"Ya sudah jawab Juan, siapa wanita itu?"
"Mi, dia bukan siapa-siapa, maka tidak ada pertanyaan lain." Senyuman Juan terlihat, dia tidak memiliki banyak jawaban untuk rasa penasaran Maminya.
Aliya langsung cemberut, ngambek karena tidak menemukan jawaban yang bisa memuaskan hatinya. Melihat Maminya mulai drama menangis, membuat Juan tidak tega.
"Dia Lea, Juan tahu dia sejak kecil, tapi baru bertemu setelah dewasa. Lea itu managernya Aira." Akhirnya Juan mengungkap juga identitas Lea.
"Bagaimana keluarganya?"
"Bagaimana ya Mi? Juan juga masih binggung cara menjelaskannya." Secara sengaja Juan meminta di skip soal keluarga Lea.
Sepanjang apapun penjelasan, Aliya siap mendengarkan ditemani oleh Mira dan Mora yang juga cukup serius memperhatikan.
Pelan-pelan Juan menjelaskan soal Lea yang cukup menyedihkan dia memiliki saudara kandung, namun layaknya musuh. Keduanya dibesarkan dengan cara yang berbeda, dan dicintai juga berbeda.
__ADS_1
"Lea masih terlalu yakin jika adiknya akan kembali, tapi Mami tahu sendiri bagaimana keluarga Taher?"
"Kenapa dengan keluarga itu? mereka hanya kebanyakan mengumbar, tapi mental kerupuk." Ai tidak pernah menganggap keluarga Taher orang yang kuat.
Juan tersenyum begitulah Maminya yang dia kenal, tidak takut dengan apapun selalu memprioritaskan bahagia, daripada sibuk mengurus lawan siapa yang lebih kuat.
"Dia pacar kamu apa bukan? kenapa terlihat mesra sekali?"
"Bukan Mi, dia itu agensi artis pastinya pintar akting. Dia hanya meminta bantuan Juan untuk jadi pacarnya selama di pesta,"
"Nak, Mami pastikan dia suka kamu. Untuk apa membawa pacar, dia bisa pergi bersama artisnya Blackat dan Aira. Kenapa harus ada kamu? itu artinya dia menunjukkan kepada banyak orang jika sudah ada yang memilikinya." Aira tersenyum malu-malu diikuti oleh dua cucu yang tersenyum gemes tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Tawa Juan terdengar, menggelengkan kepalanya memastikan jika memang tidak ada apapun.
Obrolan disudahi, Juan buru-buru harus ke kampus karena ada jadwal mengajar pagi. Selesai dari kampus ada acara seminar di rumah sakit.
"Juan, bawa dia bertemu Mami." Al menatap Putranya yang menggelengkan kepalanya.
"Mi, apa Mami mengizinkannya?"
"Bawa saja dulu menemui Mami, setelahnya baru Mami akan menilai." Senyuman Aliya terlihat meminta Juan segera pergi bekerja.
Keduanya tidak bisa pergi sekolah karena diusir oleh Shin membanting Adiknya, dan menjadi kebahagiaan bisa bebas bermain di rumah neneknya.
"Nenda, Uncle love love sama Kak Lea,"
"Bukan love love Mira, tapi cinta." Mora tersenyum sangat lebar.
Tamparan Mira mendarat hingga senyuman lebar berubah menjadi tangisan histeris, aksi pukul terjadi hanya karena love dan cinta padahal memiliki arti yang sama.
Tangan Mora sudah menjambak rambut, Aliya teriak meminta keduanya pulang jika ingin bertengkar.
"Nenda tidak boleh mengusir kita, ayo Mira kita berenang saja." Mulut Mora penuh langsung berjalan ke area kolam, diikuti oleh Mira yang masih membawa susunya.
Senyuman Al terlihat, rindu Tika dan Ria masih kecil keduanya yang tidak bisa diam. Bahkan Aliya mulutnya bisa sobek.
Secara tiba-tiba Juan memeluk Maminya dari belakang, meminta maaf karena mereka semua lupa jika Maminya kesepian.
__ADS_1
Sekarang ada Mira dan Mora yang akan menghibur Maminya, mereka yang selalu takut dengan Mami Al berbeda dengan dua kurcaci yang tidak ada takutnya.
"Kenapa balik lagi?"
"Kangen sama Mami, Juan pergi kerja dulu Mi."
"Ya sudah kamu menikah saja agar Mami punya teman, kalian harus tinggal di rumah ini." Al berteriak kuat saat Dean menunjukkan kelima jarinya.
Dia akan menikah lima tahu lagi, Al tidak bisa terima jika harus menunggu lima tahun.Teriakan Al terdengar menbuat Mira dan Mora yang sudah basah masuk ke dalam rumah.
"Nenda kenapa? ayo mandi lagi." Mora berlari dan terhentak karena licin.
"Astaghfirullah Mora, tidak sekalian kamu berguling-guling." Al membantu Mora berdiri.
Tawa Mira terdengar langsung lompat ke air, mengejek Mora yang terkekeh tertawa merasa lucu padahal kepalanya berdarah.
Panggilan dari Aira terdengar, Al langsung menjawabnya mendengar suara Putrinya yang meminta bantuan soal kasus Papinya Lea.
[Kenapa meminta bantuan Mami? sudah Mami katakan tidak ada bantu membantu, urus saja sendiri.] Al menolak secara langsung tanpa mendengarkan apa yang Ai inginkan.
[Mami tega sekali, ini bersangkutan dengan masa depannya Kak Juan. Demi restu yang akan berjalan lancar, tolonglah Mami kerja samanya.] Ai menahan tawa melihat Lea yang sudah mengerutkan keningnya.
Panggilan mati sepihak, Aira gagal mendapatkan respon baik dari Maminya. Dia tidak berniat membantu.
"Mami kamu tidak setuju karena calon menantunya model aku, coba saja wanita Solehah pasti langsung yes." Lea menatap sinis Aira yang sudah terpingkal-pingkal tertawa.
"Memangnya Mami perempuan Solehah, kerjanya Mami selalu ingin pergi ke bar,"
"Bar-bar juga Mami kamu." Tawa Lea terdengar langsung diam lagi.
Keduanya masih sempat tertawa, padahal kasus Papinya Lea sedang dalam sidang. Secara tiba-tiba pengacara keluarga mengundurkan diri, sedangkan Aira tidak bisa menghubungi Dean.
"Bagaimana dengan persidangan?" Black datang dengan wajahnya yang tertutup.
"Masih ditunda sementara Kak karena tidak ada pengacara pembela, kita sedang berusaha menghubungi pengacara umum." Lea mengenggam kedua tangannya merasa khawatir memikirkan kasus Papinya.
Tangan Black mengusap punggung Lea, melihat dari jauh Mami Lea sudah menangis menatap suaminya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira