
Perlahan Lea keluar dari kamar bersama Aira dan Mami Al untuk turun, keluarga lain juga sudah berkumpul begitupun dengan Juan yang sudah duduk tenang didampingi oleh Kakak lelaki dan perempuannya.
Kedua tangan Juan dingin, merasakan jantungnya berdegup kencang. Tika menggenggam tangan Adiknya memintanya untuk tenang.
"Santai saja Juan, kenapa kamu seperti ayam kedinginan?" Juna menggoda adiknya yang akan segera mengucapkan ijab kabul.
"Jangan mengejek kak Juna, seharusnya menenangkan Juan," ekspresi Juan memucat karena merasa cemas.
Altha meminta Putranya untuk segera duduk di tempat yang disediakan, Juan menggenggam tangan Papinya merasa khawatir.
Tawa kecil Altha terdengar, merangkul anak lelakinya yang akhirnya menyusul kedua kakaknya untuk menikah.
Alt mengusap punggung Juan, membaca doa yang juga diikuti oleh Juan agar tenang hatinya sehingga bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
"Ini hari bahagia Juan, namun ini juga menegangkan untuk kamu karena hanya hitungan menit akan segera berganti status sebagai suami. Tanggung jawab dan kewajiban harus ada dipundak. Ayo tersenyum, Juan pasti lancar." Kedua tangan Altha memegang kuat lengan Putranya untuk segera melangsungkan ijab kabul.
Suara beberapa orang terdengar saat Lea juga dibawa keluar, senyuman Lea terlihat sangat lebar. Tidak ada sedikitpun ketegangan di wajahnya hanya cengengesan.
Kecantikan Lea semakin terlihat saat dia joget-joget bersiap untuk segera mendengarkan Juan mengucapkan ijab kabul.
"Perempuan aneh, biasanya orang tegang, cemas, tapi dia asik joget-joget dan tersenyum lebar tidak sabar lagi." Diana tersenyum melihat Lea yang duduk manis di antara Aliya dan Anggun.
Kepala Juan menoleh ke arah Lea yang tersenyum manis tidak sabaran, senyuman Juan juga terlihat sambil geleng-geleng karena calon istrinya sangat bersemangat.
"Wanita pilihan kamu Juan, sama gilanya dengan para wanita di keluarga kita." Dimas menggeleng karena ada lagi calon pengacau.
"Tidak apa Daddy, Juan bahagia melihatnya senyum lebar." Juan mencari keberadaan Dean yang belum terlihat sama sekali karena sibuk mengurus keamanan yang sempat ada kendala.
Penghulu yang mewakili sebagai wali nikah Lea mulai membacakan doa, suasana mendadak hening.
Tangan penghulu terulur meminta Juan untuk segera melangsungkan ijab kabul, menjadikan Lea sebagai istrinya sah secara hukum dan agama.
"Bagaimana Nak Juan sudah bisa dimulai?"
"Sudah Pak, Juan siap," jawab Juan penuh keyakinan. Perasaan yang awalnya tegang sedikit tenang sehingga Juan tidak ragu mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan kawinkan ...." Jabatan tangan penghulu erat, mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan didengar oleh banyak orang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anggia ... dengan mas ... seperangkat alat sholat dibayar tunai." Genggaman Juan juga erat mengucapkan ijab dengan satu tarikan napas.
Suasana masih hening, penghulu menatap para saksi yang mengatakan sah secara bersamaan. Suara rusuh terdengar terutama Shin dan Tika yang rindu menikah lagi.
Tatapan Juna DNA Gemal tajam melihat ke arah istrinya yang lupa dengan anak, bahkan Mora dan Mira juga hilang tidak tahu keberadaannya sibuk berkeliling tempat pesta.
Senyuman Lea terlihat, menatap ke arah seorang pelayan lelaki yang meneteskan air matanya melihat Lea sah menjadi seorang istri.
Air mata Lea juga menetes, melihat keluarga menangis saat bersalaman tidak membuat air matanya terjatuh, tapi saat melihat seorang pelayan dada Lea terasa sesak.
"Kakak," panggil Lea pelan.
"Lea, jangan menangis sayang, kamu maju ke depan untuk duduk di samping suami kamu." Al mengusap air mata Lea meggunakan tisu.
Saat Lea menatap kembali ke arah pelayan ternyata sudah pergi, Lea mengatur napasnya untuk tidak mengingat kakaknya lagi kemungkinan hanya wajah saja yang mirip.
"Kenapa Lea?"
"Tidak Kak, Lea hanya seperti melihat Kakak Black," jawab Lea.
"Senyum sedikit saja,"
Senyuman Lea lebar, mengecup bibir Juan membuat heboh semua orang. Seharusnya Juan yang mengecup kening, bukan Lea yang mencium duluan.
"Astaga Lea membuat malu saja, kenapa dia mirip Kak Rindi?" Ai menepuk keningnya melihat ke arah Rindi yang juga datang bersama keluarga kecilnya.
Wajah Juan tersipu malu, mengucapkan doa bersama Lea agar mereka menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.
Senyuman Angga terlihat, langsung berbalik badan untuk pergi. Tanpa sengaja berhadapan dengan Hendrik dan Rindi yang datang terlambat.
"Uncle Black super Hero Haidir." Teriakkan Haidir terdengar membuat seluruh orang melihat ke arahnya.
Tangan Hendrik langsung menutup mulut anaknya, Rindi memperhatikan wajah Angga yang bergegas pergi.
__ADS_1
Teriakan Shin dan Atika terdengar, keduanya langsung berdiri menyambut kedatangan Rindi. Ketiganya berpelukan seperti Teletubbies yang sudah satu abad tidak bertemu.
Seluruh keluarga berdiri dari kursi menyambut kedatangan Hendrik dan keluarga kecilnya.
Mam Jes juga langsung mengambil si kecil yang berada dalam gendongan Hendrik. Anak kedua Rindi yang berjenis kelamin wanita.
"Ini baby Rara, pipinya gembul sekali?" Aliya gemes melihat anak kecil berusia dua tahun.
"Dia gemuk karena banyak makan, sebentar lagi daging Rindi juga habis dia kunyah,"
Hendrik menarik baju istrinya untuk memberikan selamat kepada Juan dan Lea yang sedang berbahagia.
"Selamat ya Juan, maaf Uncle datang terlambat." Hendrik memeluk Juan, menatap istrinya yang menjadi alasan Angga kembali.
"Istrinya Juan cantik sekali, kamu sangat pintar memilih wanita." Rindi memeluk Lea yang tersenyum manis.
Suara tangisan terdengar, Rindi melihat Putranya berjalan mendekati dalam keadaan hidungnya berdarah.
"Ayah, tolong. Lihat mereka berdua pukul Haidir." Tangisan terdengar kuat, sambil tangan menujuk ke arah Mora dan Mira yang berdiri. Mulut keduanya penuh makanan.
Tawa Rindi terdengar, mengambil tisu membersihkan darah, Rindi tidak heran jika keturunan Shin dan Tika bersaksi babak belur anaknya.
"Aunty Rindi maafkan Mora, niatnya tadi ingin peluk Kakak Haidir, tapi kepala Mora menghantam hidung dia, langsung keluar darah." Mora tertawa mengejek kakaknya yang penuh darah, Rindi juga ikutan tertawa.
"Kepala kamu terbuat dari besi ya Mora, kenapa keras sekali?" Tika memukul pelan kepala Mora, menatap hidung Haidir yang mimisan.
Senyuman Hendrik terlihat menatap Mira yang menjadi pelaku sebenarnya hanya diam saja mengunyah makanannya. Dia pasti yang mendorong Mora sampai terbentur.
"Kakak Haidir cengeng sekali, lemah." Mira menjulurkan lidahnya langsung melangkah pergi diikuti oleh Mora yang juga mengatakan lemah.
Tanpa kesal, Haidir berjalan mengikuti dua anak nakal yang lanjut mencicipi makanan. Haidir bercerita jika dia bertemu dengan Blackat.
Dari jauh Dean berjalan mendekat, menyapa seluruh keluarga jika area pesta untuk menyambut tamu dipastikan aman. Tidak akan ada satupun orang yang bisa menghindari pemeriksaan sampai acara selesai.
Penjagaan diperketat, Isel tidak bisa keluar bersama Angga dan Putri sehingga mereka harus bersembunyi sampai acara selesai.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira