
Kembalinya Angga tidak diketahui oleh media karena melewati jalur khusus demi keamanannya. Meskipun banyak penggemar yang kecewa tidak bisa bertemu langsung, Angga mengirimkan pesan jika dirinya telah kembali.
Beberapa mobil mengawal sampai perumahan, seluruh orang sudah menunggu dengan perasaan tidak sabar.
"Kak Black," panggil Lea menatap lelaki yang keluar dari mobil.
Lea ragu untuk memeluknya karena dia tidak memiliki memori apapun, melihat lelaki yang menganggap dirinya adik meskipun tidak terikat darah.
"Bagaimana kabar kamu Lea? maafkan Kakak yang tidak bisa melindungi kamu," ucap Angga tulus merasa sedih karena Lea tidak memiliki ingatan apapun.
"Baik, Kakak baik-baik saja?" air mata Lea langsung menetes, cepat ditepis meggunakan tangannya.
Tatapan Angga melihat ke arah Juan, meminta izin untuk memeluk Lea. Kepala Juan mengangguk memberikan izin.
Kedua tangan Angga memeluk lembut, mengusap kepala Adiknya. Lelaki yang menikahi Lea, satu-satunya orang yang dapat Angga percaya.
Suara tangisan Lea sangat menyayat hati, dirinya merasa bersalah karena penyebab Angga terluka saudara kembarnya.
"Maafkan Lea kak,"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kakak ingin kamu bahagia bersama keluarga kecil kamu. Kita bukan orang yang beruntung, tapi tidak selamanya kita sial." Kedua tangan Angga menakup wajah Lea mengusap air mata yang mengalir.
"Uncle, akhirnya Uncle pulang." Mora dan Mira berlari memeluk Angga yang juga berjongkok menyambut keduanya.
Senyuman Shin terlihat, tidak kuasa menahan air matanya. Memeluk Angga yang langsung menangis melihat wajah Shin yang sudah penuh air mata.
"Kenapa lama sekali pulangnya? semua manusia di dunia memang akan berpulang, tapi jangan dengan cara yang sangat memilukan." Shin mengusap pelan kepala Angga karena merasa sangat kehilangan sosok adik.
Air mata Shin diusap, Angga tidak ingin melihat ada air mata lagi. Dirinya meminta maaf karena sudah membuat sedih.
Semua orang tersenyum meminta Angga segera masuk karena dia masih harus beristirahat.
Mata Angga berkeliling mencari seseorang yang tidak terlihat, Mami Aliya tahu siapa yang sedang Angga cari.
"Uncle cari Aunty Ai? dia lagi tidur karena dua malam begadang menunggu Uncle." Mira kaget melihat Aira muncul dengan wajahnya yang masih bengkak karena bangun tidur.
Kepala Angga geleng-geleng, Aira masih saja suka bergadang. Tangan Angga terulur sambil tersenyum ingin menyapa Aira sebagai rekan.
Tangan Angga ditepis, Aira langsung memeluknya sangat erat sampai tidak ada jarak diantara keduanya.
Tatapan Angga ke arah Altha yang memberikan senyuman barulah Angga berani mengusap punggung Aira lembut.
__ADS_1
"Ai, pelukannya terlalu lama,"
"Kenapa? dua tahun tidak menyentuh, jadinya serakah." Aira melepaskan pelukan, memegang wajah Angga langsung mencium bibir membuat suara teriakan histeris.
"Astaghfirullah Aira." Mami Al langsung memukul punggung Putrinya yang berani mencium lelaki di depan seluruh orang.
Senyuman Aliya terlihat, menatap suaminya yang berubah tajam. Aira memang memang tidak pernah tahu tempat.
"Astaghfirullah Al azim, kita tidak lihat apapun." Shin dan Tika menutup mata Mira dan Mora yang sudah melotot.
"Kenapa Aunty cium Uncle dibibir? Mira juga tidak boleh cium bibir Papa," protes Mira karena selain pasangan suami istri dilarang.
Masih sama seperti dahulu, Angga menjadi patung jika Aira menyerangnya. Apalagi kali ini di depan orang tua Aira langsung, Angga merasa malu karena belum direstui sudah memberikan contoh buruk.
"Aira, kamu tidak malu?" Juna menatap adik perempuannya.
"Kak Tika sama Mami juga begitu," jawab Ai sambil menahan senyum.
Mommy Angga mengusap punggung Angga, memintanya masuk ke rumah karena Aira memang sangat jahil berharap Angga memaklumi.
"Kenapa anak kamu Altha?"
Dean menatap Isel yang masih tidur, melihat semua orang yang sudah masuk ke dalam rumah. Langsung mengendong Isel yang sangat berat padahal badannya kecil.
"Berapa berat kamu Sel?" Dean ngos-ngosan menggendong ke kamar langsung melempar Isel.
Dean tersentak kaget mendengar teriakkan Isel. Dean lupa jika tempat tidur Isel terbuat dari batu bukan ranjang yang empuk.
"Uncle tidak punya akal sehat lagi, Isel dilempar. Sakit pinggang Isel,"
"Iya maaf, lupa jika ini batu." Tawa Dean langsung pecah mengusap punggung Isel yang hampir menangis karena tubuhnya terlempar cukup kuat.
"Ini emas tahu, jangan katakan Uncle jual. Isel tuntun sampai tujuh turunan tidak ikhlas." Tatapan Isel tajam langsung turun mengecek emasnya yang masih aman.
Pintu tertutup, Dean melangkah keluar. Telinganya sakit mendengar suara Isel yang sangat nyaring.
"Kak Angga tidur bersama Dean saja,"
"Bersama Aira juga tidak masalah," timpal Aira membuat tawa.
"Bagaimana jika kita tidur bertiga? ini pasti menyenangkan. Kita harus mencobanya, jika dulu aku, kamu dan Juan sekarang kita bertiga." Tangan Dean merangkul Aira yang menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Dean.
__ADS_1
"Aku pulang ke apartemen saja." Kepala Angga tertunduk tidak menyukai candaan Dean dan Aira.
Tawa Dean terdengar mengacak rambut Aira, Diana sampai memukul punggung keduanya yang sangat jahil.
"Kamar kamu sudah disiapkan, jangan terpengaruh dengan kejahilan mereka berdua." Diana memberikan obat di telapak tangan Angga.
Suara Mora menangis terdengar, sedih melihat Angga yang akan minun obat. Hatinya tidak tega karena tahu jika Uncle Angga sudah bosan dengan obat.
"Sabar ya Uncle, coba Mora cicip dulu." Mora menjilat obat, ekspresi wajahnya tersenyum.
"Bagaimana rasanya?"
"Manis Uncle, ayo di minum,"
Angga langsung meminum obatnya, Mora langsung meludah berlari mencari minum karena obat rasanya sangat pahit.
Senyuman Angga terlihat, merasa terharu dengan gadis kecil yang dulu membuatnya pingsan sudah tumbuh menjadi gadis yang baik dan penyayang.
"Di mana Isel Dean?" Gemal menyapa Angga yang akhirnya pulang.
"Ada di kamarnya Kak, baru saja aku banting dia." Tawa Dean terdengar melihat Isel keluar dari kamar memegang pinggangnya.
Mata Angga dan Aira bertemu, tatapan mata keduanya menujukkan rasa rindu yang sangat besar.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Aira sangat tersiksa tanpa Angga. Hubungan keduanya memang sebatas pacaran untuk pekerjaan, namun setulus hati keduanya saling mencintai.
"Kita pamit pulang dulu? soalnya kita si sini ngontrak." Shin dan Tika langsung memeluk lengan suami masing-masing membawa keenam anak mereka.
Kepala Angga menoleh, melihat ke arah Dean yang terlihat biasa saja. Melihatnya menuju kamar langsung Angga ikuti.
"Dean, Kakak tahu kamu kecewa?"
"Soal apa Kak?"
"Maaf, aku menyakiti kamu karena belum bisa melupakan Aira padahal Kakak pernah berjanji akan melepaskan Ai." Angga duduk di samping Dean yang cengengesan.
"Kak Angga percaya tidak, jika perasaan sudah berakhir saat ditolak. Dean tidak memiliki perasaan itu lagi, majulah untuk mengambil hati keluarga Ai. Ingat Dean ada di belakang Kakak." Tawa Dean terlebih, berani bersumpah jika dirinya baik sehingga Angga tidak harus mencemaskan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1