
Tangisan Ura tidak ingin berhenti, Weni sudah berusaha mendiamkannya, tapi masih belum berhasil.
"Kamu mau susu tidak, jangan menangis," pinta Weni menatap Isel yang mengangkat kedua pundaknya.
Suara tangisan semakin besar karena Ura malu di depan Weni jatuh tersungkur, dari lantai atas Aira memanggil Ura untuk pulang karena melihat putrinya menangis.
"Mimi, Ura malu."
"Kenapa malu? dulu waktu Aunty kecil juga sering jatuh di depan banyak orang. Tanya saka sama Isel, waktu sekolah aku jatuh dari lantai dua sekolah gara-gara mengintip cowok ganteng main basket." Bibir Weni cemberut karena seumur hidupnya tidak akan bertemu lagi karena malu.
Tawa Ura terdengar membayangkan saja lucu apalagi melihat langsung, Isel dan kedua temannya juga tertawa teringat kejadian paling memalukan.
"Siapa yang datang?" Tangan Weni menunjuk ke arah mobil.
"Ini hari apa Umi, Ura lupa?"
"Hari ini jadwal semua anak-anak pulang cepat, kecuali Ura yang jarang sekolah." Isel melihat jam di tangannya karena mobil twins A pulang.
Tangan Ura melambai melihat Andra Andri pulang mendukung tas masing-masing, Andri berlari ke arah Ura untuk menyapu semua orang, berbeda dengan Andra yang langsung pulang ke rumahnya.
"Dia cuek sekali?" Laura menatap Andra yang menghilang masuk rumah.
"Halo Aunty, salam kenal." Andri menyalami tangan, pamit pulang karena harus ganti baju.
"Jangan heran Laura, keluarga Isel memang seperti itu." Vio sudah melihat langsung Kakak pertama dan kedua Isel yang sangat berbeda.
"Lihat itu Aunty Weni, mobilnya Kakak Ajun sama Vino." Ura melambaikan tangannya melihat Kakaknya pulang.
Senyuman Vino lebar membawakan Ura cemilan, Ajun yang melihatnya langsung merampas meminta bagian.
"Ajun, tidak boleh begitu. Ini punya Ura," ujar Vino melarang adik lelakinya merebut.
Ura memeluk bungkusan ke dalam bajunya membuat Ajun terdiam karena mereka dilarang menyentuh anak perempuan di dalam baju.
"Lihat Ura, Kakak Ajun hanya ingin mengintip sedikit."
"Tidak boleh, Kakak Vino beli untuk Ura!"
Tatapan mata Ajun tajam, mencari sesuatu untuk meluncurkan niat jahatnya. Isel langsung menegur Ajun untuk tidak menyakiti.
Dua anak laki-laki pamit pulang ke rumah mewah yang tidak terlalu jauh, suara Ajun marah-marah terdengar karena Vino tidak membelikan untuknya.
"Ternyata si baik dan si jahat dalam film nyata adanya, lanjut siapa lagi." Weni tersenyum merasa nyaman melihat keluarga Isel.
__ADS_1
Mobil mewah datang, Ura memilih diam tidak menyapa sama sekali melihat dua lelaki tampan melangkah keluar.
"Kenapa dengan dua anak itu?" Laura tidak melihat Ura yang heboh.
Sampai Hasan Husein masuk ke dalam rumah yang sama dengan Vino dan Ajun barulah Ura tarik napas lega.
"Ada apa Sel?" Tatapan Vio binggung karena Hasan Husein anak yang baik.
"Mereka berdua itu memiliki karakter yang sama. Sama-sama suka ceramah, tidak sanggup debat dengan mereka makanya jarang ada yang mengajaknya bicara, takut keluar asap dari kepala." Tawa Isel terdengar melihat satu mobil lagi sampai.
Pintu mobil terbuka, langsung dibanting kuat. Dua singa keluar dalam keadaan berantakan karena habis bertengkar.
Suara Shin marah terdengar, mendorong keduanya masuk ke dalam rumah. Baju Mira penuh darah, begitupun dengan Mora yang kotor.
"Cepat masuk sekarang, sudah puas belum membuat masalah sampai di skor!"
Semuanya hening melihat dua wanita cantik dimarah habis-habisan, tapi keduanya santai saja berjalan sambil menarik tas.
"Pertama si dingin dan si ramah, kedua si baik dan si jahat, ketiga tidak paham, sekali keempat pengacau." Kedua tangan Weni bertepuk diikuti oleh Ura yang bangga Kakaknya sudah pulang semua.
Senyuman Isel terlihat, keluarganya memang ramai, apalagi jika ditambah enam bayi. Karakter belum diketahui, Isel berharap lebih banyak sisi baiknya.
Tangan Weni mengusap kepala Ura yang tertidur di pangkuannya, kedua tangan Ura memeluk hadiah dari Vino.
Tawa Laura terdengar, melihat ke arah sahabatnya yang sedang dibuat kacau oleh seorang pria.
"Aku rasa ada yang kalian sembunyikan dari aku, apa kamu menjalin hubungan dengan Bian?"
"Diamlah Sel, mendengar namanya saja membuat telingaku panas." Weni menggosok telinganya.
Dikarenakan Isel tidak keluar rumah, ada banyak hal yang tidak dia ketahui. Bian mengacau di bar milik Weni, membuat banyak orang takut untuk datang karena dia setiap hari muncul.
Belum tahu apa tujuan Bian, Weni menolak mundur, sedangkan Bian semakin menarik dengan wanita tangguh.
"Ada masalah dengan janji kemarin?" Isel menatap Weni yang terlihat pusing.
"Aku sudah membayar janji, tapi dia terus datang. Seluruh pelanggan aku hampir hilang ulahnya."
"Wen, jangan terlalu membencinya. Lihat Vio akhirnya bisa bahagia. Aku juga ingin melihat kamu bahagia," ucap Isel tulus.
"Aku tidak akan menikahinya, tidak akan."
Ketiga wanita terkejut, baru tahu jika keinginan Bian menikah. Hanya Isel yang mampu memancing Weni bicara jujur.
__ADS_1
"Kenapa tidak ingin menikah?" tanya Laura.
"Aku tidak pernah mengatakan jika aku wanita baik, tapi bukan berarti memilih pendamping yang jahat. Kalian bertiga juga tahu berapa banyak istrinya?"
"Jangan menikah Wen, nanti menjadi janda seperti aku." Tatapan Laura masih sedih karena kisah percintaannya tidak berjalan baik.
Lirikan mata Isel dan Vio bertemu, dua sahabatnya yang masih belum menemukan pasangan hidup yang sesuai.
Pelayan memberitahu Isel jika makanan sudah siap, Isel meminta masuk dan makan siang terlebih dahulu.
"Sel, anak satu ini bagaimana?" Weni melihat Ura yang masih tidur nyaman.
"Bawa ke dalam, dia biasanya bisa satu minggu di sini, satu minggu bersama Mimi Pipinya." Isel meminta Ura diletakkan di kamar bayi karena ada khusus ranjang miliknya.
"Bagaimana Sel rasanya menjadi ibu?" Weni mengusap kepala Ura lembut.
"Pusing, mau pacaran saja susah." Isel meletakkan bayinya yang sudah tidur.
Vio dan Laura juga meletakkan perlahan, Isel meminta baby sitter mengawasi anak-anaknya.
Makanan di atas meja sudah siap, Isel melihat Vio yang menutup hidungnya, pikiran langsung berkenalan ke mana-mana.
"Sehari berapa kali Vi?" tatapan Isel tajam.
"Maksudnya?"
"Jangan minta aku bertanya vulgar, segeralah periksakan diri. Siapa tahu dikasih cepat," ucap Isel tersenyum bahagia.
Kepala Laura dan Weni melihat tajam, senyuman keduanya terlihat membuat Vio menjadi malu.
Mommy Anggun pulang ke rumah, mendengar suara ramai di ruang makan. Ada empat wanita sedang tertawa saling mengejek.
"Isel berhasil memiliki pertemanan yang saling setia, berharap kedua putrinya mengikuti jejak Isel yang mampu mengimbangi siapapun, meksipun orang mengatakan keburukan, tetap pada pendiriannya." Mommy tersenyum melihat Isel memanggilnya.
"Nenda perkenalkan teman-teman Isel."
"Astaghfirullah Al azim, kenapa pakaiannya terbuka semua? Daddy sebentar lagi datang Sel." Mommy terkejut saat semuanya berdiri apalagi baju Weni yang kurang bahan.
"Mana ada pemilik bar memakai gamis," gumam Weni melihat tubuhnya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1