SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PANGGILAN KHUSUS


__ADS_3

Saat tiba Vio kaget karena ada tim khusus yang bekerja dengan Dean, tim Repsol sembunyikan hanya Dean yang informasikan.


Keberadaan Vio dan Ren hanya untuk mengecoh saja, Ren juga sangat kehabisan kata-kata melihat banyak pasukan bersenjata.


Tidak butuh waktu lama, Dean juga sampai untuk menggeledah markas. Dugaan Dean kemungkinan penjara ada di rumah Bian, tapi ternyata salah.


"Vio, Ren ikut aku." Dean berlari ke dalam diikuti oleh Vio dan Ren yang berjalan menyusuri lokasi.


"Malam Dean, aku rasa semua tahanan sudah dipindahkan." Ketua yang memimpin pengerebekan menggeleng kepala.


"Kejar mereka, tidak mungkin dalam hitungan detik semuanya menghilang." Dean memberikan instruksi untuk semua orang keluar dan mencari keberadaan tahanan yang disembunyikan oleh Bian.


Ren ingin ikut mengejar, tapi Vio menahan bajunya untuk tetap diam di tempat. Tim khusus akan menyelidiki kembali secara diam-diam.


"Jangan percaya siapapun di sini." Vio menarik tangan Ren untuk mengikuti Dean yang berjalan masuk ke lorong-lorong.


"Tempat apa ini?" Ren jalan jongkok menyusuri jalan yang tidak ditemukan oleh tim khusus karena hanya fokus kepada korban.


Tangan Dean terangkat, melihat ponselnya yang tidak ada sinyal. Brayen pasti tahu jalur yang harus Dean pilih karena dia yang memberitahu jika ada jalan rahasia milik Bian.


"Kak Dean jalan kanan," ujar Brayen yang sudah ada di belakang.


"Dari mana kamu kenapa lama sekali?"


"Ada penumpang sedang mabuk, lumayan antar jarak dekat. Cuan dapet, aku juga sampai di sini." Senyuman Brayen terlihat mengikuti jalan yang dipimpin oleh Dean.


Sekitar satu jam jalan, langkah Dean terhenti saat melihat seorang wanita tergeletak di bangunan bawah tanah.


"Bagaimana cara membawanya, kita jalan saja sulit?" tanya Vio karena Dean melewati begitu saja.


Vio juga lewat, hanya Ren yang berhenti mengecek denyut nadi. Ternyata wanita yang tergeletak masih hidup.


"Dia Glora, wanita terakhir yang menghilang." Ren menepuk wajah Glora yang perlahan membuka matanya.


"Iya dia masih hidup, mana cantik lagi." Brayen mengusap wajah.

__ADS_1


Pukulan tangan Vio terdengar meminta Ren membawa wanita yang ditinggalkan untuk segera keluar.


Dean dan Vio yang melangkah masuk, sedangkan Ren dan Brayen kembali ke tempat semula.


Tubuh Dean berdiri, melihat kastil yang kosong. Tidak ada satupun barang yang ada di dalam kastil, hanya bangunan mewah dan tua.


"Tempat sebagus ini, tapi tidak ada apapun." Vio meraba dinding namun tidak ada ruangan apapun.


Dean melangkah ke arah satu-satunya kamar yang tersedia. Tidak ada siapapun, hanya ada bekas alat make up dan ranjang yang berantakan.


Dean melakukan panggilan kepada nomor yang selalu menghubungi Isel. Suara getaran terdengar, Dean mengangkat kasur melihat satu lagi barang bukti dari korban.


"Jika aku lepas maka wanita selanjutnya yang menggantikan, apa maksudnya?" Dean ingin keluar, tapi langkah kakinya terhenti.


Dinding tergeser, Dean terhentak duduk di pinggir ranjang saat melihat deretan wanita yang menjadi korban dari Bian. Para istri tersembunyi memang tidak akan pernah diketahui oleh siapapun karena saat sudah bosan atau menemukan wanita cantik lain dan membuat Bian jatuh cinta maka dia akan meninggal istrinya.


"Berarti Bian tidak membunuh mereka, lalu di mana para wanita ini?" Dean menyentuh setiap sisi dinding.


"Dean, maaf Pak Dean salah panggil tadi. Lihat foto ini." Vio menujukkan foto Isel yang sedang bekerja di bar.


"Sial!" Dean langsung melangkah cepat untuk keluar, Vio juga mengikuti Dean yang nampak panik karena Isel tidak menjawab panggilannya.


"Pak, kita ingin pergi ke mana?"


"Kamu punya nomor Isel, dia memiliki dua ponsel yang sengaja di sembunyikan." Dean meminta Vio menghubungi istrinya kemungkinan Isel sedang keluar rumah.


"Isel memiliki sepuluh ponsel, tapi semuanya terhubung di jam tangan Isel. Siapa yang melakukan panggilan atau mengirim pesan di sepuluh ponsel dia pasti tahu karena sekalipun tidak membawanya tetap bisa dia kendalikan." Vio menghubungi Isel, tapi tidak ada jawaban.


Secara tiba-tiba ponsel Vio mati, layar ponselnya langsung merah memberikan peringatan bahaya.


Vio diam menyembunyikan ponselnya, teman-teman yang lain juga pasti mendapatkan alarm peringatan. Isel mengumpulkan teman-teman untuk menyerang.


Suara Brayen berlari terdengar, napasnya ngos-ngosan kesulitan mengatur karena lari seperti dikejar setan.


"Kak Dean kita kecolongan, itu Kak." Tangan Brayen memukul dadanya karena sesak.

__ADS_1


"Bicaralah dengan jelas, aku tidak mengerti." Dean membentak dengan nada tinggi.


Pukulan Vio kuat menghantam punggung Brayen, meminta berhenti ngos-ngosan. Ucapan tidak bisa dimengerti oleh siapapun.


"Glora bebas, digantikan oleh Isel. Aku menghubungi penjaga apartemen dan menginformasikan jika Isel diculik oleh beberapa orang. Tidak ada yang bisa mendekat karena mereka bersenjata." Brayen hampir menangis karena ketakutan soal Isel terjadi apalagi Bian jatuh cinta.


Tawa Vio terdengar karena merasa lucu dengan kepanikan Brayen, wanita yang dibawa oleh Bian bukan wanita lemah, tapi wanita gila.


"Apa yang membuat kamu tertawa Vio?" nada Dean sangat dingin.


"Aku tidak khawatir kepada Isel, tapi lebih cemas kepada Bian yang kemungkinan nyawanya diujung tanduk. Dia tidak tahu siapa Isel, lima puluh orang saja Isel lawan tanpa ragu, apalagi Bian yang bisa dilenyapkan dengan mudah." Vio tertawa lucu melangkah keluar dari kastil.


Dean menghubungi kantor, meminta kastil di jaga ketat dan cari bukti yang tertinggal agar bisa menuntut Bian seumur hidup.


Brayen melihat mata Dean yang mencemaskan Isel, pikiran Dean tidak bisa fokus karena target Bian gadis kecil kesayangannya.


Meksipun Dean tahu sekuat apapun Isel, tetap saja membuat jantung Dean tidak bisa berdegup tenang.


"Cari keberadaan Isel," ujar Dean yang matanya tidak bisa menatap tenang.


"Aku pikir kamu tidak mencintai Isel, tapi ternyata salah. Aku yakin Isel ada di lubuk hati paling dalam, dan dia satu-satunya orang yang tidak akan pernah asing bagi Kak Dean." Brayen mengejar Dean yang sudah berlari ke markas untuk mengambil mobilnya.


Pencarian korban ditunda, Dean ingin menemukan Isel terlebih dahulu. Sedikit saja Bian melukainya maka Dean pastikan nyawanya melayang.


"Mengapa kamu begitu tenang padahal sahabat kamu ditahan oleh pria gila?"


"Isel jauh lebih gila, dia manusia paling gila yang aku temukan." Vio tersenyum sinis mengecek lokasi teman-temannya yang sudah jalan semua untuk menemui panggilan Isel.


"Kalian teman atau musuh?" tanya Brayen aneh.


"Kami tim, apapun yang terjadi kami pasti akan muncul di hadapan kamu Sel." Vio masih bisa tersenyum karena posisi Isel masih tenang, dan tidak melakukan apapun.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2