SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SAUDARA KANDUNG


__ADS_3

Tangan Anggun gemetaran saat mengetahui hasil tes pemeriksaan Blackat, tidak bisa membayangkan betapa sakitnya dia bertahan sendiri tanpa satupun keluarga yang mendampingi dirinya melewati operasi.


Mengeluarkan dua peluru dari tubuhnya, melalui proses operasi yang penyembuhan lama, air mata Anggun tidak terbendung. Air matanya menetes merasakan sakitnya berada di posisi Black.


"Kejamnya orang dewasa menjadikan dia korban, mungkin jika aku tidak ingin bertahan lagi untuk menanggung sakit ini.


Dimas dan Altha datang ke rumah sakit mengikuti Anggun dan Aliya yang mengambil pilihan untuk melakukan tes DNA.


"Kak Anggun tidak merasa bersalah dan kecewa jika hasilnya positif?" Al meminta maaf bukan maksud dirinya memberikan duri di dalam rumah tangga bahagia Anggun.


"Kenapa aku harus kecewa dan menyalakan masa lalu, apa yang terjadi bukan kesalahan Dimas. Dia ingin menjebak Altha, tapi Dimas yang terkena batunya." Senyuman Anggun terlihat.


Anggun sudah lama tahu soal kasus Shena yang menjebak Altha agar tidur bersamanya, namun Dimas yang menjadi korban. Misi gagal karena Shena melepaskan tahanan demi bisa menjalankan rencana jahatnya.


"Daddy, lihatlah. Kasihan sekali dia yang menanggung rasa sakit sejak remaja, bukan remaja, tapi sejak lahir." Anggun mengusap air matanya tidak tega jika melihat anak di sia-siakan.


Panggilan di ponsel Altha masuk, bawahannya menemukan keberadaan Shena, dia sedang liburan bersama keluarga kecilnya di negara yang pernah dia dikhianati.


"Aku tahu di mana Shena sekarang? Kita hanya punya waktu dua hari untuk bertemu dia, kemungkinan mereka akan kembali ke negara suaminya." Alt mentap Dimas yang masih terdiam menatap laporan soal Blackat yang bisa bangun setelah melewati dua tahun dengan rasa sakit.


Genggaman tangan Anggun erat, mendukung suaminya untuk segera masuk ke ruangan agar bisa melakukan tes DNA.


"Maafkan aku Anggun, mungkin kamu dan Dean akan kecewa, tapi aku tidak tahu apapun soal ini" Dimas mencemaskan Putranya, tidak tahu cara mengatakan kepada Dean jika dia melakukan kesalahan di masa lalu.


"Kenapa mencemaskan aku dan Dean, kita tidak akan menyalahkan Daddy yang sudah berusaha membahagiakan kami. Kita hanya melakukan yang terbaik untuk menebus dosa lama yang terjadi karena takdir membuatnya seperti ini." Air mata Anggun menetes tidak dapat terbendung lagi.


Dimas memeluk istrinya yang memiliki hati sangat baik, juga sikap yaang lembut. Tidak kuat menahan air matanya jika anak dan istrinya akan terluka.


"Ayo, Anggun temani. Percaya sama Anggun, semuanya akan baik-baik saja. Kita terima apapun nanti hasilnya." Mata Anggun memancarkan ketulusan yang sangat besar.


Kepala Dimas mengangguk, masuk ke dalam ruangan untuk mengambil darah, dia juga ingin tahu apa dosa yang dilakukan di masa lalu merusak hidup seorang anak muda yang tidaak bersalah.

__ADS_1


Aliya dan Altha menunggu di luar sambil menahan air mata, tidak terbayangkan bagaiman perasaan Dean jika semuanya terbukti. Berharap Dean bisa menerima kebenaran yang tidak mereka harapkan namun harus diungkapkan.


"Maafkan Uncle Dean, kamu mungkin akan tersakiti, tapi jika Blackat tahu mungkin jauh lebih sakit lagi." Air mata Altha menetes langung terduduk tidak kuasa membayangkan wajah Black jika dia tahu hadirnya dia sebuah kesalahan.


Tangisan Aliya juga pecah, kasus Dimas dan Shena cukup menghebohkan namun Shena tiba-tiba menghilang.


Dia mencintai Altha namun tidur bersama Dimas yang dia anggap kakak juga pelarian dari rasa sakitnya tidak mendapatkan tanggapan dari Altha yang sudah beristri.


"Kita ke villa sekarang untuk menemui Shena yang sedang liburan bersama keluarganya." Dimas berjalan lebih dulu diikuti oleh Anggun.


Altha merangkul Aliya untuk segera pergi karena perjalanan mereka cukup jauh untuk keluar kota.


***


Juan membawa beberapa berkas dari ruangan kerja papinya, Lea dan Aira yang baru pulang dari perusahan menatap binggung.


"Apa yang Kak Juan lakukan di ruangan Papi?"


Ai dan Lea langsung mengejar Juan yang berjalan ke rumah Dean, memberikan identitas Shena yang sudah meninggalkan negara puluhan tahun yang lalu.


"Siapa Shena?" Aira duduk di samping Dean yang sudah berkutik di komputernya.


"Dia kemungkinan orang tua kandung Kak Black, dan buruknya kemungkinan keluarga kita terlibat. Aku yakin alasan utama kak Black pergi pasti wanita ini." Dean melihat pemberitaan dan kasus yang menyebabkan Shena angkat kaki dari kepolisian.


Nama Altha dan dan Dimas terseret, jantung Aliya dan Dean berdegup bersamaan. Juan menatap adiknya yang langsung pucat.


Shena bercinta dengan salah satu rekannya yang dia jebak sehingga misi gagal. Shena dipecat secara tidak terhormat.


"Biar Aira yang mencari keberadaannya, di negara mana dia tinggal saat ini." Ai mencuri data scream ilegal.


Shena sudah menikahi dengan seorang pengusaha dan politikus, dia memiliki dua anak berjenis kelamin laki-laki. Anaknya berusia lima belas tahun dan sepuluh tahun.

__ADS_1


"Kehidupannya terlihat sangat bahagia, apa kak Juan tidak salah informasi?"


"Bahagia dia setelah meninggalkan darah dagingnya menjadi penanggung dosanya. Jika terbukti dia ibu kandung Kak Black, dia ibu paling kejam di dunia ini." Air mata Juan menetes, merasa binggung apa yang harus mereka lakukan.


"Apa kemungkinan kalian bersaudara?" Lea menatap Juan, Aira dan Dean.


Kepala Dean mengangguk, mereka harus menemukan Shena jika ingin tahu jawabannya.


"Kemungkinan aku atau Juan saudara kandung dari Blackat, kita satu ayah, tapi beda Ibu. Ini gila, temukan alamat Shena sekarang, Aira." Air mata Dean menetes, langsung cepat ditepisnya.


Ai langsung mencari alamat, mereka bernasib baik karena ada sosial media milik putra Shena yang memposting jika mereka sedang liburan di villa.


Dean langsung bangkit, dia ingin bertemu langsung dengan Shena apa alasan dia membuang Blackat, dan berharap jika Black bukan anak Shena sehingga tidak ada sangkut paut dengan keluarga mereka.


Akhirnya keempatnya pergi untuk menemukan keberadaan Shena, dia kunci dari masalah yang sedang dihadapi.


Ai menatap Dean berkali-kali mengusap matanya, meksipun air mata tidak sempat mengalir, tapi Ai tahu Dean sedang menangis.


Bukan hanya Dean, Juan juga memilih diam, hati mereka sakit mengetahui kebenarannya yan tidak jelas, tapi lebih sakit lagi posisi Black yang tidak diakui dan dianggap tiada.


"Dean, biar aku saja yang membawa mobil?"


"Tidak Ai, aku hanya tidak menyangka saja akhirnya kebenaran seperti ini terungkap. Kenapa takdir begitu kejam? Bagaiman jika aku dan Black bersaudara dan alasan dia pergi tidak ingin terluka lebih dalam. Tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga kami." Pukulan Dean kuat menghantam setir mobil, mengusap air matanya yang tumpah.


"Lalu bagaimana jika aku yang bersaudara dengan dia, mungkin itu alasan dia tidak ingin ada cinta di antara kami." Ai mengusap air matanya yang sudah tumpah.


Lea meminta semuanya diam, mereka akan menemukan jawabannya jika bertemu dengan Shena. Tidak ada gunanya menembak sesuatu yang tidak pasti.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2