
Isel berteriak saat Aura mengigit lehernya meskipun belum tumbuh gigi, Aira menarik pelan rambut Aura untuk tidak mengusik Isel.
"Apa kamu anaknya drakula?" Isel menciumi perut Aura membuatnya tertawa.
"Berhentilah Sel, dia semakin aktif." Aira menghentikan mobilnya meminta Isel yang turun membeli susu Aura.
Cepat Isel keluar membawa Aura tanpa peduli ucapan Aira melarangnya. Isel bernyanyi kecil bersama Aura untuk mengambil beberapa kotak susu.
Tanpa sengaja Isel bertemu dengan seseorang yang sedang dirinya cari, saya melihat Isel langsung menghindar.
"Jika aku ingin melenyapkan kamu sudah lama tersingkirkan, masalahnya aku hanya membutuhkan orang yang memberikan perintah, bukan yang disuruh." Isel membayar belanjaan langsung melangkah keluar.
Pintu mobil terbuka, Isel menyerahkan Aura kepada Aira. Tatapan Isel tajam ke arah seorang wanita yang memutuskan melarikan diri.
"Kak Ai duduk di sini aku yang menyetir," pinta Isel.
Aira langsung keluar, melangkah cepat sebelum ada penggemar yang melihatnya. Isel pindah tempat duduk mengambil alih mobil.
"Tunggu dulu Sel, jangan sampai anakku terluka." Ai memasangkan sabuk pengaman kepada putrinya.
Aura juga langsung mengerti, memeluk Miminya sangat erat. Isel menjalankan mobil mengejar mobil wanita yang hampir mencelakainya.
Senyuman Aira terlihat, menatap Isel yang nampak bermain-main di jalanan. Mobil di depan panik mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Belok Sel, hantam dari depan," ucap Ai melihat jalur jalan.
Isel membelikan mobil, kecepatan mobil cepat. Ai dan Aura hanya tersenyum santai tidak ada rasa takut sama sekali dengan kecepatan mobil.
Tangan Ai berpegang saat Isel banting setir ke jalan raya. Mobil yang Isel kejar tepat di depan matanya siap tabrak depan.
"Bersiap dua A, aku akan membuatnya mengerti cara mengemudi yang benar." Isel menambah kecepatan untuk menabrak mobil.
Mata Aira terpejam, memeluk erat anaknya saat Isel minggir ketika mobil yang dia siap tabrak hilang kendali langsung menghantam pohon dipinggir jalan.
"Begitu cara menyetir yang benar," ujar Isel keluar dari mobil menuju mobil yang sudah berasap
Pintu mobil terbuka, Isel tersenyum manis memberikan ponselnya untuk menghubungi siapa dalang yang ingin mencelakainya.
__ADS_1
"Beberapa malam lalu kita teman, tapi kamu mengkhianati aku. Katakan siapa yang memerintah?"
"Maafkan aku Sel, lebih baik kamu bunuh aku daripada bertanya siapa?"
"Hairin, apa ini ada sangkut-pautnya dengan pacar kamu yang ditahan karena obat terlarang. Katakan pada Hairin jika aku masih hidup, dan akan segera menikahi Dean." Senyuman Isel terlihat langsung melangkah pergi setelah melemparkan uang karena pertemanan mereka berakhir karena uang.
Mobil Isel melaju pergi, Aira hanya bisa geleng-geleng melihat Isel yang tidak mencerminkan dirinya seperti seorang putri konglomerat, tapi lebih mirip preman.
"Siapa dia?"
"Teman masa sekolah, tapi itu kemarin sekarang musuh." Isel memiliki banyak teman, tapi tidak ada satunya yang bisa masuk ke rumahnya karena kepercayaan Isel sangat kecil kepada manusia.
Tangan Aura bertepuk pelan, tersenyum ke arah Isel yang membuat lawannya lumpuh karena berani mengusiknya.
"Apa ada sangkut pautnya dengan Dean?"
"Iya, dia Putrinya Aunty Helen. Perempuan babi satu yang mengejar cinta Dean sampai tidak ada satupun wanita yang berani mendekati Uncle. Pantas saja selama ini Uncle jomblo," ujar Isel dengan wajah kesal.
"Kamu alasan Dean selama ini jomblo, dia tidak punya waktu serius dengan wanita karena lebih fokus menjaga kamu." Ai juga baru sadar jika prioritas utama Dean bukan dirinya, tapi Isel.
"Hmz, tapi cintanya sama Kak Ai." Bibir Isel cemberut.
Kepala Isel langsung mengangguk setuju, kebetulan jarak mereka tidak terlalu jauh. Ai hanya beberapa kali berkunjung karena dipaksa Mamanya.
"Isel belum pernah ke sana, mungkin dulu ada waktu masih kecil." Isel menatap kawasan elite.
"Beda Sel, rumah mereka sudah pindah. Lumayan besar dan banyak penjaganya," ujar Aira mengingat kembali rumah Yandi.
"Oh, kenapa rumah kita tidak ada pengawal dari kepolisian padahal ada banyak aparat di sana?"
Ai memukul punggung Isel, kawasan mereka bukan hanya ada polisi, tapi dokter, pengacara, pengusaha, jaksa, artis, hal yang tidak mungkin dipublikasikan soal status.
Keluarga mereka lebih pilih merakyat yang bisa hidup berdampingan dengan orang biasa. Saat Ai masih kecil banyak orang luar keluarga yang tinggal, Aira selalu ikut Tika dan Shin mencuri makanan milik tetangga.
"Berhenti Sel, itu rumahnya." Tangan Aira menunjuk ke arah rumah mewah.
"Ini bukan lumayan, tapi mewah." Isel menghentikan mobil setelah mendapatkan izin dari pemilik rumah barulah mobil boleh masuk.
__ADS_1
Teriakkan Helen terdengar, langsung menyambut Aura yang datang tanpa memberitahu.
"Masuk Aira, Isel. Kalian tidak biasanya datang sendiri?" Helen berjalan masuk diikuti oleh Aira dan Isel.
Mata Isel bekeliling melihat isi rumah, tidak ada foto Hairin sama sekali. Hanya ada foto Yandra, dan adiknya.
"Aunty, di mana Yandra?"
"Sedang bertugas, istrinya juga sedang liburan ke rumah orangtuanya." Helen meminta maid membawakan minuman.
Helaan napas Aira terdengar dia merasa nyaman ada di rumah Helen karena sangat bersih, apalagi tempatnya sejuk tidak pernah ada keributan. Berbanding terbalik dengan rumah mereka yang rusuh sekali.
"Aunty sendirian?" tanya Isel.
"Iya Sel, jika Uncle tidak di rumah Aunty sendiri. Anak-anak sudah besar semua, pastinya jarang di rumah," ucap Helen yang salut dengan keluarga Aira yang masih saja kumpul meskipun memiliki keluarga masing-masing.
"Di mana Hairin Aunty?" Aira tidak melihat adanya Hairin.
Helen langsung diam, hanya tersenyum kecil tidak menangapi pertanyaan. Masih jadi rahasia soal Hairin.
Delapan belas tahun Helen membesarkan Hairin, tapi sudah tahun Irin tidak pulang. Dia hanya datang saat ada acara penting, dan tidak pernah menyapa Helen.
Hanya Yandi yang masih berhubungan baik dengan Hairin, tidak ingin merusak nama baiknya juga keluarga sehingga membiarkan Hairin melakukan apapun yang dia inginkan.
"Maaf jika Isel lancang, kenapa Irin meminta dijodohkan dengan Uncle Dean?"
"Kenapa Sel kamu cemburu, bukannya kalian akan segera menikah?"
Senyuman Isel terlihat, dia tidak cemburu hanya saja keberadaan Hairin sangat mengganggunya.
"Maaf ya Aunty, bukan maksudnya Isel membuat tersinggung, tapi Hairin sudah keluar batasan. Dia ingin mencelakai Isel, jika tidak menghormati Aunty dan Uncle sudah lama aku mencabut nyawanya." Isel bicara tanpa rem, membuat Aira mencubit pahanya agar berhenti bicara.
"Hairin mencelakai kamu hanya karena kamu dan Dean akan menikah?"
"Iya Aunty, dia menyewa pembunuh tidak berpengalaman. Aku harus bagaimana mengatasi dia?" Isel meminta maaf jika suatu hari hubungan keluarga mereka yang baik akan ada konflik lagi sama seperti kejadian Juna.
Ai menarik lengan Isel untuk diam, tidak seharusnya bicara kasar kepada Helen yang tidak tahu apapun.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira