
Matahari sudah bersinar, Dean baru pulang sedangkan istrinya bersiap pergi. Keduanya saling tatap tajam.
"Abi, kenapa sudah pulang?"
"Baru kali suami pulang ditanya begitu?"
Tawa Isel terdengar, melangkah ingin memeluk, tapi ditahan karena Dean masih kotor.
Kedua kaki Isel lompat-lompat karena ingin pamit pergi, tapi tidak berani karena suaminya baru saja pulang.
"Sayang, bagaimana kondisi di rumah sakit?"
"Dua jam lagi Kak Di ke rumah sakit untuk mengecek, aku ingin tidur dulu selama dua jam." Dean menyempatkan menggedong ketiga anaknya yang seharian ditinggal.
Banyak pertanyaan yang ingin Isel tanyakan, tapi Dean terlihat sangat lelah setelah semalaman tidak pulang.
Mata Dean terpejam bersama tiga bayinya yang juga tidur di ranjang, Isel berguling di ranjang, memeluk lengan suaminya.
"Weni dan Bian memiliki konflik keluarga, penyebab Mama Bian gila keluarga Weni, tapi Weni juga yang memberikan informasi kepada Bian. Selama ini Bian membuat kekacauan di kediaman Weni karena membutuhkan informasi Mamanya." Dean mengusap kepala istrinya yang berisikan konflik orang lain.
"Sudah Isel duga, apa Bian menyakitinya?"
Kepala Dean mengangguk, Bian memperlakukan kasar, tapi tidak sekejam dulu. Demi mengendalikan hatinya dia rela pergi keluar ruangan.
"Syukurlah jika hati Bian sedikit tergerak, Weni wanita baik meksipun pakaiannya kurang bahan."
"Kamu tahu apa yang Weni katakan kepada Mamanya Bian?"
Tawa Isel langsung pecah karena Dean menceritakan ucapan Weni mengatai Bian boneka santet sampai di hukum jalan jongkok.
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Bagaimana bisa baik, saat wanita gila bertemu psikopat? Aku tidur dulu sayang, dua jam lagi bangunkan." Mata Dean terpejam kembali.
Senyuman Dean terlihat merasakan ada yang memeluk lengannya. Putri kecilnya sudah mulai terbiasa tidur memeluk lengan.
Lama Isel menunggu suaminya tidur sampai bosan, Isel tidak sabar lagi ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi di sana.
"Apa yang harus aku lakukan?" Isel mengecek stok ASI yang masih melimpah, mengecek cemilan miliknya masih penuh.
Suara Mama Diana memanggil Dean terdengar, Isel langsung bergegas menemui karena penasaran.
"Ada apa-apa Ma?"
__ADS_1
"Bicara apa kamu ini, di mana Dean?"
"Bicara saja sama Isel ma," pinta Isel karena suaminya masih tidur.
"Tidak ada kepentingan dengan kamu, Mama ingin membicarakan soal pasien yang baru saja siuman.
Isel langsung menarik tangan Mamanya, menjelaskan jika pasien yang sudah siuman pasien di rumah sakit jiwa, dia ternyata Mamanya Bian.
"Jelaskan kondisi kejiwaannya?"
Isel mengingat hasil laporan medis jika pasien memiliki penyakit tumor, operasi yang dilakukan berhasil namun tetap saja ada akar kangker yang sudah menjalar.
Meskipun bisa sadar tidak akan bertahan lama, tidak banyak saran dari dokter bahkan tim medis dari rumah sakit jiwa memutuskan untuk mematikan.
"Pihak rumah sakit kalian menyerah?"
"Iya Ma, dia sudah ada sekitar tiga puluh tahun, berarti seumur hidupnya ada di sana."
"Kenapa manusia punya hak memutuskan usia seseorang?"
"Menurut rapat kondisinya tidak bisa diobati, pernah dirawat lalu mengamuk hingga mencelakai banyak orang." Tidak ada yang bisa menjamin keadaan aman di rumah sakit.
Membiarkan mati kelaparan juga tidak mungkin karena bukan binatang dan membiarkan hidup dengan rasa sakit juga terlalu menyiksa.
"Mama akan pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya, semoga saja masih ada jalan untuk Bian bahagia. Dia dulu anak yang sangat lucu, tidak pernah disangka berubah menjadi penjahat, mungkin juga itu karena aku." Diana menundukkan kepalanya karena apa yang dulu dimulai harus segera diakhiri.
Tidak menunggu Dean bangun, Isel langsung pergi bersama Mamanya. Semangat Isel full ingin melihat Weni yang sudah membohonginya.
"Sel, kamu bawa mobil." Mama Di melempar kunci.
"Siap Nyonya besar, perasaan jarang sekali Isel keluar berdua dengan Mama."
Mobil melaju pergi, Diana menatap wajah Isel yang nampak bahagia. Dia masih nakal, tapi sangat taat dengan suami.
"Sel, Mama melihat kamu sedari tadi ingin pergi, tapi kenapa mengurungkan diri?"
"Abi baru pulang, tidak mungkin Isel pergi. Tidak sopan juga jika meninggalkan saat tidur, apalagi bertemu Bian. Isel menjaga perasaan Uncle," jelas Isel pelan karena sangat menghindari kesalahpahaman.
"Baguslah, sekarang kamu sudah banyak berubah. Mama juga selalu melawan Papa Gem bukan karena kita bertengkar, tapi pertemuan kita juga penuh keributan. Mencari seseorang yang pas di hati sulit, bukannya kita wajib bersyukur." Diana tersenyum kecil karena teringat Gemal yang dulu marah-marah karena Diana merusak motor kesayangannya.
"Kisah cinta Mama dan Papa memang sangat menyenangkan apalagi bisa bertualang bersama."
"Papa Gem selalu kalah dari Mama, tidak pernah aku bayangkan bisa menikahinya. Lelaki playboy yang materialistis." Tangan Diana tepuk jidat karena suaminya paling unik.
__ADS_1
Tawa Isel dan Diana terdengar, pria tampan yang selalu ada di hati istri dan putrinya. Cara Gemal memperlakukan dua wanita begitu spesial.
"Sel, beli makanan dulu. Bian pasti belum makan, dia terlalu khawatir kepada Mamanya tidak peduli dengan dirinya sendiri." Diana keluar untuk membeli makan dan beberapa cemilan.
"Ma, tahu tidak penyebab Bian menjadi seperti ini, apa dia bisa ditaklukkan dengan cinta?"
Helaan napas Diana terdengar, meminta Isel tidak memikirkan masalah percintaan orang lain karena rumah tangga sendiri belum sempurna.
"Bian akan menemukan rumahnya di saat yang tepat, bukan soal cinta namun waktu."
"Bian pasti akan menyiksa Weni," ucap Isel yang sangat yakin.
"Biarkan saja, bukannya kamu mengatakan jika Weni wanita kuat?"
Kepala Isel geleng-geleng, sekuat apapun jika kepala dibenturkan pasti pecah juga karena kepala isinya daging bukan besi.
Setelah membeli makanan barulah bergegas ke rumah sakit, Diana kaget melihat suaminya bersama seorang wanita.
"Ma sabar Ma, mungkin Papa sedikit amnesia." Isel berteriak meminta Papanya menghindar.
Gemal berhasil menghindari tendangan, menatap istrinya yang nampak marah karena Gemal membantu wanita seksi membawa keranjang.
"Cari mati kamu Gemal!" Diana menatap tajam.
Wajah Gemal panik, beberapa polisi keluar dari persembunyiannya, bukan menyelamatkan Gemal, tapi melarikan diri.
"Demi Allah ini hanya pelatihan sayang." Gemal berlutut di kaki istrinya.
Tawa Isel terdengar diikuti oleh Genta, keduanya menatap Gemal yang memohon maaf.
"Sudah aku peringatkan untuk membiarkan anggota lain yang melakukan praktek penyamaran, tapi Kak Gem memaksa agar dirinya." Genta melangkah keluar bersama Isel membiarkan Gemal di banting hidup-hidup.
Tawa Isel tidak bisa berhenti, ternyata anggota Gemal tahu semua dengan Mamanya yang memiliki kemampuan bela diri yang tinggi sehingga sangat ditakuti.
"Ampun, I love you Diana," ucap Gemal.
"Najis, ayo Isel kita pergi. Kamu tidak boleh pulang, awas saja jika aku melihat kamu di rumah. Sudah tua, jelek, punya banyak cucu masih saja banyak tingkah."
"Kamu mau ke mana sayang?"
"Cari suami baru," jawab Diana langsung masuk mobil.
Tawa Isel terpingkal-pingkal karena Papanya biang kerok selalu memancing emosi, sedangkan Mamanya setan bertanduk yang emosian.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira