SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DEMI KEBAIKAN


__ADS_3

Suara Aliya marah dari pagi sudah terdengar, membentak Juan yang seharusnya bertanggung jawab atas Adiknya. Aliya memberikan kepercayaan kepada Juan yang dengan percaya dirinya mengiyakan.


"Sekarang apa alasan kamu?"


"Juan mengaku salah Mi, siap menerima semua sangsi." Juan masih tertunduk berdiri di hadapan Maminya bersama Dean.


"Tanpa alasan, sengaja membiarkan Aira tanpa tindakan." Al meneteskan air matanya, cukup dirinya yang tidak mendapatkan kebebasan untuk sekolah, bahkan Al kuliah setelah menikah. Berharap anak-anaknya mengutamakan pendidikan.


Al sadar dia terlalu keras kepada Aira, sehingga dia sudah terbiasa Dengan hukuman, bukan hal yang menakutkan lagi baginya.


Berbeda dengan Juan yang tidak pernah membantah, tidak juga melakukan kesalahan. Semua yang Juan lakukan selalu benar.


"Kamu memiliki impian tidak Juan?"


"Apa yang Juan lakukan itu impian Mi,"


"Mulai hari ini kamu Mami pecat dari perusahaan, dan nama kamu akan dicoret dari penerus. Lakukan apa yang kamu inginkan! aku tidak membutuhkan pemimpin yang tidak konsisten terhadap ucapannya." Al meminta Juan pergi dari hadapannya.


Lama Juan tertunduk, Dean yang ingin melangkah pergi membatalkan niatnya berdiri kembali menunggu Juan.


"Apa kesalahan Juan begitu fatal Mi? aku melakukan yang terbaik dari aku untuk perusahaan, apa sangkut-pautnya dengan masalah Aira?" Juan masih tidak mengerti kesalahan begitu mengecewakan Maminya.


Papi Altha merangkul Juan untuk pergi dulu, Mami sedang marah karena cara Juan menutupi kesalahan Adiknya tidak wajar.


Ai harus memiliki pendidikan meksipun tidak ada keinginan, seharusnya Juan menegurnya sejak awal.


Juan menolak untuk pergi, dia bukan penjaga Aira, bukan hidup untuk selalu memprioritaskan Aira. Sebagai saudara tentu Juan menyayangi adiknya, tapi bukan berarti kesalahan Aira juga kelalaiannya.


Aira tidak menyukai pendidikan karena dia menguasai segala hal, hanya tidak tahu jalannya ke mana.


Bukan hanya Ai, Juan juga sama. Pendidikan sangat menyebalkan, apa yang diajarkan sudah diluar jangkauan.


"Juan selama ini ingin menjadi anak yang baik, cukup Ai yang menyusahkan. Juan ingin meninggalkan kuliahnya karena sudah menguasai semuanya, tapi jika menunjukkan kepada orang aku akan dianggap manusia aneh. Mami juga harus tahu, anak Mami bukan hanya Ai, tapi Juan juga." Teriakan Juan terdengar, menatap tajam Maminya yang juga tajam memandang.

__ADS_1


Dean dan Altha sama kagetnya, Juan tidak eemniziznkan menaikan suaranya kepada siapapun, tapi kali ini kepada Maminya.


"Jika anak tidak ingin kuliah biarkan saja, dia memiliki kemapuan lain. Tidak pintar pendidikan, tapi bukan berarti tidak berguna. Ai memiliki tujuan sendiri, begitupun aku. Jangan minta aku jadi anjing yang berjalan di belakang tuan." Juan langsung melangkah pergi membanting pintu dengan sangat kuat melangkah pergi dari rumahnya.


Senyuman Aliya terlihat, tawanya juga terdengar melihat anak yang dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya beberapa tahun yang lalu sudah menjadi lelaki sejati.


Al berpikir sebaik apa putranya, sampai tidak ada sedikitpun emosi di dalam dirinya. Aliya sampai ragu jika Arjuanda putranya.


"Kini kamu menunjukkan taring Juan, barulah Mami merasa jika kita memang ibu dan anak." Al menatap Dean yang masih diam.


"Mi, sebenarnya ...."


"Mami tahun sejak awal kamu sudah memberikan sinyal tentang kebohongan Aira, tapi tidak Mami sangka dia melakukan ini." Al memijit pelipisnya.


Saat Aliya sedang marah, Aira tidak terlihat sedikitpun batang hidungnya. Dengan penuh kebahagiaan dia kesenangan tidak memiliki beban lagi.


Dean menceritakan kasus yang baru saja menjadi pemberitaan besar, penangkapan pelaku setelah tujuh tahun.


"Maaf Mi, kita juga baru tahu setelah semester akhir. Kita berada di kampus yang berbeda, begitupun dengan Juan. Kita berdua juga sama kecewanya, tapi apa yang bisa kami lakukan." Dean yakin, Aira akan melanjutkan kuliahnya saat dirinya sendiri yang menginginkan bukan atas perintah atau paksaan.


Aliya menganggukkan kepalanya, dia mengerti jika Dean dan Juan tidak salah, tapi Aira yang memang tidak niat.


"Kenapa Mami melakukan itu kepada Juan? dia sudah berusaha memimpin perusahaan, menyempatkan dirinya ke kampus bahkan pelatihan di rumah sakit." Perasaan Dean juga sakit melihat sahabatnya diperlakukan tidak adil.


"Karena itu, dia terlalu sibuk dengan banyak hal. Juan masih muda, tapi sibuk bekerja. Mami ingin dia memiliki kehidupan pribadi, menikmati masa mudanya." Bagi Al menjadi pengusaha bisa kapanpun, Aliya juga masih mampu.


Banyak dokter yang memiliki usaha, banyak juga para petinggi negara yang memiliki bisnis sehingga menjalankan usaha bisa kapanpun.


Senyuman Dean terlihat, kagum dengan Mami Aliya yang menginginkan Juan melepaskan perusaha demi kebebasan.


Selama ini juga Dean kesal dengan kesibukan Juan, ternyata Mami Al hanya ingin anaknya sekali saja membantah hingga mendapatkan hukuman.


Di luar rumah Juan duduk di pinggir jalan, kepalanya tertuduk, tangan Juan memukul dadanya yang kesal kepada diri sendiri karena sudah membentak Maminya.

__ADS_1


Seumur hidup Juan, dia tidak pernah bersikap kasar kepada wanita yang sangat dicintainya. Air mata Juan menetes meminta maaf kepada Maminya.


Tangan Juan sudah berdarah memukuli mobilnya karena menyalahkan dirinya sendiri yang kurang ajar kepada wanita.


Dari jauh Juna melihat adik lelakinya menangis seperti anak kecil yang memainkan pasir.


"Kenapa kamu?"


"Kak, Juan ... Juan membentak Mami. Tanpa meminta maaf langsung pergi." Air mata Juan menetes, dia tidak percaya dengan dirinya sendiri.


"Baguslah, anak yang Mami perjuangan dengan mempertaruhkan nyawanya melukai hatinya. Dulu saat pertama melihat Mami aku juga membencinya, dia wanita hina, rendah, dan menjijikan." Juna memegang pipinya melihat Juan melayangkan pukulan kuat.


Senyuman Juna terlihat, itu hanya awal karena melihat dengan amarah. Setelah melepaskan amarah, di mata Juna Maminya bagaikan malaikat tanpa sayap, dan segalanya bagi Juna.


"Kamu berani melukai hatinya!" Pukulan Juna juga kuat menghantam adiknya.


Tika yang melihat Kakak dan adiknya saling memukul langsung berlari menahan keduanya. Tangisan Tika terdengar memohon apapun masalah jangan sampai Maminya tahu, pasti sangat kecewa jika sesama saudara bertengkar.


"Kak Juna, Juan masih muda jangan emosian. Kamu juga Juan, tidak sopan seperti itu kepada yang lebih tua." Tika memeluk adiknya yang sudah menangis.


"Kamu sudah dewasa sekarang, jika ada sesuatu dengarkan sampai habis baru disimpulkan. Mami mendidik kita berempat sangat keras agar kita tenang disetiap masalah." Juna mengusap wajah Adiknya. Bagaimana cara Maminya menyampaikan sesuatu pasti menyakitkan.


"Maafkan Juan Kak, Juan memukul Kakak,"


"Tidak masalah, pukulan kamu cukup kuat meskipun kita berdua sama-sama tidak bisa berkelahi." Juna merangkul Juan untuk meminta maaf kepada Maminya.


Hentakan kaki Tika terdengar, semuanya salah Aira yang membuat masalah. Mereka semua terbawa emosi karenanya.


"Kak Tika, Aira pergi sekolah dulu." Senyuman Aira terlihat lebar, Tika mengusap dadanya menahan emosi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2