
Hari bahagia yang dinantikan oleh Juan sisa hitungan jam, dia akan segera melangsungkan pernikahan bersama kekasihnya. Wanita yang sejak kecil menarik perhatiannya.
Ketukan pintu terdengar, Papi Altha masuk ke kamar Juan bersama dengan Juna. Senyuman Juan terlihat menatap dua lelaki kebanggaannya.
"Besok kamu akan melepaskan masa lajang, bagaimana rasanya?"
"Deg-degan Kak, Juan tidak menyangka akan menikah mendahului Dean dan Aira." Senyuman Juan tidak hilang dari wajahnya.
"Papi bahagia melihat kamu tersenyum seperti itu, sebelum bertemu Lea kamu seperti Juna yang sangat pendiam, tapi saat mengenal cinta langsung lupa cara untuk diam." Pukulan tangan Altha pelan di pundak Putranya.
Kepala Juna tertunduk, ucapan papinya benar. Cinta bisa mengubah karakter, awalnya nyaman dengan kesendirian, tapi akhirnya rindu kebersamaan.
"Kamu menginginkan hadiah apa?"
"Tidak ada Kak,"
"Yakin tidak menginginkan sesuatu?" Papi mengusap kepala Putranya yang selalu mengalah dari Aira.
Cepat Juan menganggukkan kepalanya, dia hanya menginginkan seluruh keluarganya kumpul. Tidak membutuhkan apapun harta dunia, sejak kecil hingga memutuskan menikah hidup Juan berkecukupan.
"Nak, Papi tahu hari ini akan datang. Satu-persatu dari kalian akan menikah, meksipun kalian berdua sudah memiliki keluarga sendiri jangan lupakan Mami dan Aira." Alt ingin kedua Putranya tetap menyempatkan waktu menyapa Maminya juga mengawasi Aira.
Meskipun Altha percaya Dean mampu membimbing Ai selama keduanya belum menikah tidak bisa membuat hati Alt tenang.
Kepergian Black belum sepenuhnya diterima oleh Aira, dia menyimpan kesedihan dibalik senyumannya.
"Jika Juna berada di posisi Ai juga tidak mampu Pi, kehilangan seseorang yang diharapkan menjadi masa depan. Meksipun takdir sudah ditentukan, rasanya tetap sakit." Juna memahami jika waktu dua tahun singkat dan cukup bagi orang yang menjalankan kebahagiaan, namun sangat lama dan membunuh hati secara perlahan.
"Juan setuju dengan Kak Juna, awalnya aku pikir Ai mengalami depresi. Dia berjuang untuk terlihat kuat di depan kita semua, tapi di lubuk hati terdalam sedang meraung-raung kesakitan." Pesan dari Dean masuk, Juna menyimpan ponselnya mengabaikan Dean yang selalu membahas soal keberadaan Black yang mungkin masih hidup.
Pembicaraan tiga pria Rahendra berlangsung lama, Papi Altha keluar lebih dulu untuk beristirahat sebelum sibuk untuk acara ijab kabul.
"Ada apa Juan, kamu terlihat menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak tahu Kak, Dean menemukan sesuatu yang janggal. Kemungkinan besar Black masih hidup, tapi sudah banyak orang yang dikirim untuk menyelidiki ulang tidak menemukan sedikitpun petunjuk." Juan menunjukan ponselnya.
Dean masih berharap Blackat ditemukan, dia ingin Aira mencintainya tanpa menyimpan kenangan Blackat. Jika Ai memilih Black, Dean mundur. Kehadiran Blackat menentukan masa depan rumah tangga yang akan Dean dan Aira jalani.
"Kak Juna yang akan bicara dengan Dean untuk berhenti mengharapakan kepulangan Black." Juna juga binggung dengan hubungan segitiga adik bungsunya.
__ADS_1
Kedua lelaki yang menginginkan Aira sama-sama memiliki nilai positif, Juna berharap takdir tidak mempermainkan perasaan.
"Kamu tidurlah, besok pagi harus ke hotel untuk ijab kabul." Juna melangkah keluar kamar adiknya.
Saat perjalanan pulang ke rumah, Juna melihat Aira dan Dean masih di lapangan bermain basket. Keduanya terlihat akur.
Biasanya Aira selalu marah-marah kepada Dean, tapi tidak biasanya keduanya menjadi sangat dekat.
Teriakkan Aira terdengar, mengejek Dean karena dirinya selalu menang. Dean tidak pernah menjadi lawan yang imbang.
"Kalian berdua terlihat akur, rasanya canggung sekali?" Juna duduk di kursi memperhatikan keduanya.
"Kak Juna dari mana?" Ai memeluk kakaknya erat.
Senyuman Dean terlihat, duduk di samping Juna yang menanyakan hubungan keduanya terlihat asing.
"Kita baik-baik saja Kak bahkan bahagia menyambut besok,"
"Dekat bukan berarti nyaman, baik bukan berarti sehat. Kedekatan kalian terlihat seperti sandiwara, kak Juna lebih suka hubungan sebelumnya yang selalu bertengkar." Tatapan Juna sini melihat keduanya yang memilih diam.
Aira tertawa melihat kakaknya yang sangat aneh, mereka lahir di hari yang sama, tumbuh dan besar bersama jika keduanya bermusuhan baru hal aneh.
"Dean juga pulang dulu Kak, badan Dean keringat semua,"
"Lepaskan jika kamu tidak yakin, jangan memaksa diri jika akhirnya akan patah hati. Hentikan pencarian soal Black kasihan Aira," ucap Juna dengan nada tenang.
Arjuna berjalan pulang meninggalkan Dean yang duduk kembali ke kursi memikirkan soal penyelidikan Black yang gagal.
***
Pesawat mendarat, Ghiselin menghubungi seseorang untuk menjemputnya dan membantu menjaga Angga.
"Isel," panggil Putri.
"Kamu sudah lama menunggu, kapan kamu tiba dari luar negeri?"
"Nanti saja dibahas, ada hal yang lebih penting pemberitaan sedang heboh pembebasan Silvia, dia dikabarkan akan terbang ke luar negeri sehingga banyak wartawan di sekitar bandara." Putri menatap Angga yang menundukkan kepalanya.
Tangan Putri terulur, memperkenalkan dirinya sebagai Putri Nenek Taher yang meninggal dua tahun lalu.
__ADS_1
Angga tersentak kaget, Nenek Taher meninggalkan seorang Putri yang sangat cantik juga cerdas.
Ketiganya melangkah perlahan mencari tempat aman untuk keluar dari bandara. Isel meminta Putri antisipasi karena Angga tidak sepenuhnya baik.
"Suara apa itu?" Isel melihat Angga menatap layar ponselnya.
Panggilan dari Aira, jantung Angga berdegup kencang. Isel langsung merampas ponsel menjawab panggilan.
Tawa Aira terdengar, dugaannya benar jika Isel yang mengambil ponsel Black. Kepulangan Isel juga Aira ketahui sehingga dia tidak harus datang menjemput Isel langsung.
"Siapa dia Sel?"
"Aira, dia sepertinya tahu keberadaan aku selama ini." Isel tersenyum sinis, membantu Angga masuk mobil.
Demi keamanan Angga, Isel memilih berhenti di taman. Meminta Putri membawa Angga ke hotel tempat pesta.
"Buktikan jika kamu hebat dalam menyembunyikan dan mengubah identitas. Jika sampai gagal aku gantung kamu seperti poster." Isel memberikan ancaman, meminta Angga beristirahat di hotel.
"Kamu akan pulang Sel?"
"Iya Kak, percuma aku sembunyi karena Aira sudah tahu." Senyuman Isel terlihat meminta Angga berhati-hati.
Mobil melaju pergi, Isel memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Berharap tidak akan bertemu Dean karena dia belum siap untuk bertemu.
Langkah Isel memasuki kawasan rumahnya, suara high heels terdengar. Langkah Isel terhenti saat melihat bayangan seseorang sedang duduk.
Di dalam hati Isel mengumpat, dia langsung tahu siapa yang duduk meksipun hanya bayangan hitam.
"Di mana kamu kuliah?"
Isel melanjutkan jalannya, tidak menjawab pertanyaan Uncle Dean sama sekali. Isel sangat membenci takdir yang tidak pernah sesuai harapannya.
"Ghiselin, kamu marah sama Uncle?"
"Siapa yang tidak marah? Uncle mendorong Isel sampai terbentur kuat demi wanita yang tidak mencintai uncle. Begitu berharganya dia, sehingga aku seperti penjahat di mata Uncle," balas Isel dengan ada tinggi.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1