
Kesepakatan terjadi, Lea akan mengatakan soal keberadaan anak nenek Taher jika Imel berhasil ditahan.
Di dalam mobil Isel sudah menghilang, Aira yang cukup kaget karena Adiknya lenyap dari mobil.
"Ada apa Ai?"
"Di mana Isel?" Ai menatap sekitar.
Tangan Aira mencari ponselnya mendengar suara ponsel Isel ada di dalam tasnya. Ai kebingungan, tidak boleh terjadi sesuatu kepada Isel.
"Kak Aira minggir,"
Ai dan Lea langsung menyingkir, Isel membukakan pintu untuk Nenek Taher dan seorang gadis membawanya masuk mobil.
"Apa yang membuat kalian berdua melamun? cepat pergi dari sini." Teriakan Isel terdengar, memukul kaca mobil barulah Aira dan Lea masuk mobil.
Mobil melaju pergi ke arah bandara, Isel meminta Lea mempercepat laju mobilnya untuk segera sampai bandara.
"Sel, apa ini?"
"Aku meminta bantuan Isel saat pertama bertemu di rumah sakit untuk melarikan diri dari Kevin dan Ken. Mereka manusia serakah,"
"Bukannya itu julukan untuk keluarga kalian?" Ai menatap Nenek yang mengenggam tangan wanita cantik.
Kepala Aira menoleh ke arah gadis yang duduk menatap keluar menanyakan siapa dirinya, meksipun Ai sudah tahu siapa dia.
"Aku bisa menghentikan pelarian ini, Isel tidak bisa melakukan apapun jika aku berniat melenyapkan kalian!?" Ai berteriak kuat membuat kaget semua yang ada di mobil kecuali Isel.
"Biarkan kami pergi Kakak, aku tidak membutuhkan harta, tapi bukan berarti mereka boleh memilikinya. Lebih baik ...."
"Diam!" Ai menujuk ke arah wajah gadis yang langsung menundukkan kepalanya.
"Kita ingin ke bandara atau tidak? keputusan ada di kamu Aira." Lea menghentikan laju mobil di persimpangan.
Tatapan mata Aira DNA dan Isel sama tajamnya, suatu beberapa mobil menghidupkan klakson terdengar ingin menghentikan mobil.
Isel melirik ke samping jika pelarian mereka ketahuan, bawahan Kevin sudah mengejar dan tidak mungkin mereka bisa lolos.
Tangan Ai menujuk jalur, Lea langsung menjalankan mobilnya. Isel memukul kursi Ai, Kakak sepupunya memang tidak bisa berkompromi.
Jalur yang dilewati mobil melawan arus, Aira tersenyum lucu karena tidak akan ada yang menemukan keberadaan mereka selama ada Aira di dalamnya.
__ADS_1
"Kak Ai ini di mana?"
"Jalur bawah tanah, jika ada kereta maka kita semua mati." Ai menghidupkan lampu mobil yang memiliki jarak jauh.
Tangan nenek Taher gemetaran karena berurusan dengan cucu psikopat, apalagi mereka hidup di zaman yang canggih.
"Nek, kenapa Nenek Ai menjadi psikopat? bahkan dia menyakiti Putrinya Alina yang dijadikan psikopat juga?"
"Kenapa mengungkit masa lalu? dia sudah meninggal dan Alina sudah hidup bahagia,"
"Ai hanya penasaran saja, ada darah psikopat di tubuh kami." Ai juga bisa mencelakai siapapun jika dia lepas kendali.
Nenek Taher menundukkan kepalanya, Nenek Aira dan Isel dulunya Putri tunggal yang sangat dicintainya, tapi mengalami trauma besar saat terjadinya pelecehan terhadap Ibunya sehingga dia membunuh Papa dan siapapun yang menodai mamanya.
Sikap gilanya hanya diketahui oleh nenek Taher karena pada masa itu menjadi pelayan keluarga Nenek Ai.
Siapapun yang menyakiti akan disingkirkan, kecerdasannya membuat hidupnya normal meksipun aslinya dia seorang psikopat.
"Biarkan kami pergi Aira, setidaknya Nenek dulu pernah memberikan kehidupan bebas kepada Nenek kamu,"
"Seandainya dia diobati bukan dibiarkan maka Mami dan Aunty Di akan memiliki seorang Ibu, dan malapetaka buruk tidak akan memisahkan mereka." Ai membanting setir mobil sambil menekan rem.
Semua yang ada di mobil memejamkan mata saat ada kereta bawah tanah melintas, mobil masuk gang sempit. Setelah kereta lewat barulah Lea mengeluarkan mobil perlahan.
"Bukannya ini menyenangkan." Ai pindah tempat duduk langsung menjalankan mobil yang keluar dari jalan bawah tanah.
Nenek Taher terduduk lemas, jantungnya hampir berhenti berdetak begitupun dengan Putrinya yang langsung menangis histeris.
Hanya Isel yang duduk santai, tidak ada keterkejutan sama sekali seperti tahu jika Ai tidak akan membiarkannya mati.
Sesampainya di bandara, Isel langsung keluar membantu Nenek yang langsung digendong oleh Putrinya.
Ai dan Lea tetap di mobil membiarkan Isel menyelematkan nenek Taher agar bisa menjalankan sisa hidupnya bersama Ibunya yang berusaha hampir ratusan tahun.
"Kamu baik-baik saja, aku memilih Isel daripada kamu?"
"Ya, kita cari jalan lain untuk menyelamatkan Imel, aku ingin dia ditahan agar terhindar dari kejahatan Kevin." Lea tersenyum bangga kepada gadis muda yang menggendong Ibunya.
Air mata Lea menetes merasa rindu Maminya, hubungan Ibu dan anak tidak bisa dipisahkan meksipun memiliki banyak jalan hingga lahir ke dunia.
Ai menepis air mata Lea, mengusap kepalanya agar bisa lebih kuat. Anak kecil yang baru beranjak remaja saja tahu cara melindungi.
__ADS_1
"Kangen Mami, kangen. Lea kangen Mami." Tangisan Lea terdengar membuat Aira juga meneteskan air matanya.
Ponsel Ai diarahkan kepada Lea, tangisan Lea langsung terhenti saat melihat Aliya yang sedang meeting di perusahaan menegurnya
[Kenapa menangis? bertengkar lagi?]
[Kangen Mami, Lea ingin dipeluk Mami.] Kedua tangan Lea menutup wajahnya.
Aliya tertawa, meminta Lea pulang ke rumah. Al akan memberikan pelukan kepadanya, meminta berhenti menangis karena wanita tidak boleh lemah.
Kepala Lea mengangguk, mengusap air matanya. Aira memeluk Lea menatap Maminya yang tersenyum manis.
Pintu mobil terbuka, Isel masuk bersama Gion. Ai menatap si kembar yang berhasil menerbangkan Nenek Taher dan Putrinya.
"Kamu memiliki hutang penjelasan, bocah tengil sialan?! aku harus berurusan dengan Kevin gara-gara kamu." Ai mengumpat Isel yang tersenyum sinis menjulurkan lidahnya.
"Bagaimana mereka bisa lolos?" Lea mengusap wajahnya yang ada air mata.
"Selama ada Gion kita bebas terbang ke manapun kecuali akhirat! pesawat itu milik keluarganya, dan Gion memiliki tanda pengenal." Ai menjalankan mobil untuk melenyapkan kendaraannya demi keamanan.
Suara Gion marah-marah terdengar, jika sampai Papanya tahu Gion menerbangkan seseorang tanpa pemberitahuan pasti akan di hukum.
Isel selalu membuat dirinya menjadi kambing hitam, Isel tidak pernah ditegur sedangkan Gion selalu dihukum.
"Ke mana mereka pergi?" Ai menatap Gion yang masih kesal.
"Ian yang akan mengurus mereka di sana?"
"Apa?" Aira menghentikan mobil, memukuli Isel yang menyebabkan kedua kakaknya dalam masalah.
Jika nenek Taher melakukan kesalahan, maka Ian yang bertanggung jawab. Aira yakin Ian pasti akan dikeluarkan dari sekolahnya karena kegilaan Isel.
"Apa yang kamu dapatkan dari mereka?"
"Ini," jawab Isel menyerahkan tasnya.
Beberapa batang emas Aira ditemukan, Gion terduduk lemas. Isel masih saja gila, dia mendapatkan sepuluh batang emas untuk menyelamatkan keluarga orang lain dan mengorbankan keluarganya.
Lea mengigit batang emas untuk memastikannya, Isel langsung menangis karena kepalanya dipukul menggunakan emas.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira