SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DISERANG


__ADS_3

Perasaan penasaran membuat Mora dan Mira kembali ke rumah Diana, mengintip keberadaan Black yang tidak terlihat.


"Kakak tadi kira-kira di mana?" Mora menatap saudaranya yang berjalan lebih dulu.


"Pastinya di ruangan rawat,"


Tangan Mora menahan Mira, melarangnya untuk masuk karena mereka tidak diizinkan masuk ke ruangan rawat karena banyak barang-barang berbahaya.


Mata Mira memicing, mencari cara agar bisa menemukan keberadaan Blackat. Pelan-pelan Mira mengetuk pintu, menunggu sampai ada yang membukanya.


"Kosong!" Mora menatap kecewa.


"Berisik, nanti kita di marah sama Aunty Di." Mira menjambak rambut Adiknya.


Mora yang tidak terima langsung meremas rambut Mira, menariknya kuat agar merasakan sakit yang sama.


Pintu terbuka, Blackat melangkah mundur melihat dua anak kecil saling menjambak. Melihat Black muncul langsung dilepaskan.


Mira dan Mora merapikan rambutnya, tersenyum manis melihat Blackat yang juga tersenyum.


"Hai kakak, perkenalkan nama aku Almira aaa apa ya? nama aku Almira siapa Mor?"


"Mora saja duluan. Perkenalan nama aku Almora ... Shinar Leondra Gen Gen ...."


Tangan Mira memukul kepala Mora karena terlalu lama menjawab dan berpikir membuat Mira dan Blackat lelah menunggu.


"Nama dia Almora Shinar Gentari Rahendra, nama aku, Mira lupa." Hentakan kaki terdengar marah.


"Jika lupa nanti saja, paling penting kalian Mora dan Mira,"


"Mora ingat, namanya dia Almira Citra Gentara Leondra. Kita lahir di hari yang sama beda 20 menit." Mora memonyongkan bibirnya karena Mira menutupnya sambil memukul.


Senyuman Mira terlihat, memperkenalkan jika nama Papanya Alfian Genta sedangkan ibunya Atika Cantika, Nenek dan Kakeknya Aliya dan Altha.


Mira juga memperkenalkan Aunty gilanya bernama Andriana Aira dan Uncle tampannya bernama Arjuanda.


Kepala Blackat berdenyut, tidak memiliki kesempatan untuk bicara karena kedua anak kecil di depannya memperkenalkan seluruh keluarganya secara detail, bahkan bergiliran menyebutkan nama-nama deretan keluarganya.


Tidak ketinggalan penjaga rumah, asisten, pengasuh, tukang kebun, dan semua orang yang pernah mereka temui.


Black akhirnya duduk berhadapan dengan Mira dan Mora yang juga duduk masih terus mengoceh tanpa rem.

__ADS_1


"Intinya kalian berdua tidak kembar?" Black memotong ucapan si kembar beda rahim.


"Iya, apa perlu kita jelaskan sekali lagi. Nama aku Almora Shinar Gentari Rahendra, Mami Arshinta Gentari dan Papi Arjuna Gentara eh salah maksudnya Rahendra." Mora komat-kamit masih mengingat.


"Oke sudah cukup, Kakak Black akan mengingatnya,"


"Belum selesai, kita belum memperkenalkan adik bayi." Wajah sedih keduanya terlihat membuat Black memijit pelipisnya mempersilahkan untuk melanjutkan.


Suara tawa terdengar, Mora dan Mira langsung berlari kencang melihat Aira pulang setelah sekian lama bekerja.


"Aunty, mana oleh-oleh?" dua anak kecil bergelantungan di kaki Aira membuat kepala Ai pusing.


"Bagaimana hampir gila?" Ai menatap Blackat yang mengangguk kepalanya cepat.


"Jika kalian berdua ingin oleh-oleh lihat di rumah." Ai menatap dua kembar beda rahim.


Aira juga berlari, menutup pintu cepat. Dia lupa membeli oleh-oleh karena terlalu sibuk bekerja. Ai mendengar dua anak kecil mengamuk di luar rumah memarahi Aira yang selalu menipu mereka.


Senyuman Black terlihat, kagum melihat keluarga besar Aira yang sangat banyak juga terlihat akur dan bahagia.


Beda jauh dengan keluarga Black, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya apalagi keluarganya. Hidup Black terbilang beruntung karena bisa hidup mewah.


"Aku baik-baik saja, tempat ini menyenangkan." Senyuman Black terlihat, menatap kulit Aira yang kering karena terlalu banyak shooting.


Sudah hampir satu minggu kondisi media belum juga pulih, Aira juga sudah melakukan konferensi pers jika tidak ada sangkut-pautnya dengan Black.


Hubungan mereka juga sudah diakhiri demi menjaga nama Aira, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan karir Black.


Banyak wartawan yang mencari di rumah sakit, kediaman lama Blackat bahkan kantor polisi.


Namun tidak ada yang menemukan hasilnya, Gilang sebagai manager Black juga sudah mengundurkan diri.


"Aku sudah menduganya,"


"Kamu tidak kaget sama sekali, dibalik hancurnya Blackat ada banyak pihak yang naik daun salah satunya aku." Ai dan Lea terpaksa mengambil posisi Blackat membuat banyak berita agar kasus Black perlahan tenggelam.


"Kalian sudah berusaha memberikan yang terbaik, aku merasa tenang beberapa hari ada di sini tanpa pekerjaan. Terima kasih Aira sudah membantu aku." Black akan segera pulih agar bisa menahan orang yang seharusnya bertanggung jawab.


Ai meminta Blackat tidak memaksakan diri. Aira sudah mendengar penjelasan Juan soal kondisi Blackat. Diana ingin Blackat melakukan operasi untuk dadanya yang pernah tertembak, namun Black masih menundanya.


"Aku tahu kamu sedang berusaha mendapatkan keadilan, tapi kesehatan ...."

__ADS_1


"Ai, operasi itu beresiko. Aku akan melakukan setelah membersihkan nama aku juga membongkar kasus Ibu." Black tidak ingin meninggal sebelum tujuannya tercapai.


Sia-sia dia merusak karir jika pada akhirnya hanya kabar kematian, Black akan dikenang oleh banyak orang dengan keburukan.


"Baiklah. Aku tidak memberitahu Lea soal ini, jadi kamu bisa tenang." Wajah Aira meringis kesakitan merasakan ada bola menghantam kepalanya.


Ai menoleh ke atas melihat si kembar beda rahim menatapnya penuh kemarahan. Satu kali lagi bola ditendang mengenai kening Aira.


Keduanya bergelantungan di tangga, Black langsung berdiri bersembunyi dibalik pintu melihat dua anak kecil memukul Aira habis-habisan.


Rambut Aira ditarik, tangan dan kaki digigit karena sudah berbohong soal oleh-oleh. Teriakkan Aira terdengar memangil Maminya karena diserang keroyokan.


"Mami." Suara tangisan Aira terdengar, wajahnya ditampar oleh Mora dan Mira sampai merah.


"Aunty pembohong!" teriakkan terdengar membuat telinga Black sakit.


"Mora Mira, kasihan Aunty." Black ragu ingin keluar menolong.


"Aunty bohong, kita dilarang bohong!"


"Kalian juga salah karena memukul yang lebih tua, tidak baik menyerang secara keroyokan." Black menutup pintu melihat Mira mengambil sapu.


Aira juga langsung berlari masuk ke kamar rawat Black, mendengar pintu dipukul menggunakan sapu.


"Sakit Ai?"


"Pakai nanya lagi? sakit banget. Jika bukan keponakan sudah aku cekik lehernya, sialan banget." Ai masih menangis karena kepalanya sakit.


Black mengusap kepala Ai lembut, salah Aira sendiri karena sudah berbohong kepada mereka. Seharusnya jujur saja jika lupa membeli hadiah, atau hadiahnya menyusul.


"Apa mereka jika marah seperti itu?"


"Iya, bahkan pernah membakar mobil hanya karena tidak diizinkan ke kebun binatang. Dihukum selama satu bulan tidak keluar rumah." Ai lebih baik berhadapan dengan Isel dari pada si kembar beda rahim.


Senyuman Black terlihat, kemungkinan kenakalan mereka karena tidak memiliki Adik sehingga dimanjakan.


"Mereka mempunyai adik." Tangan Aira menunjukkan angka dua.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2