SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KEMBALI


__ADS_3

Kepulangan Angga mejadi sorotan media, ribuan penggemar ada di bandara menyambut kedatangan Blackat, wartawan juga berbondong-bondong mengejar mobil.


"Dean, kenapa bisa ramai sekali? Apa ada adegan konser di sini?" Diana tersentak kaget melihat banyak manusia.


"Gila ramai sekali, aman tidak bodyguard kita?"


Tim di luar memberitahukan hampir seratus bodyguard untuk menjaga Angga yang perdana muncul kembali ke publik.


Pintu mobil terbuka, Angga tersenyum menyambut jutaan penggemarnya yang secara langsung maupun menonton dari internet.


Tangan Angga melambai, membuat teriakan histeris. Angga membuat gerakan ucapan terima kasih seperti yang dulu selalu dilakukan saat mengadakan konser.


"Semoga aman, kita keluar sekarang." Dean membantu kakaknya keluar agar duduk kursi roda.


"Kenapa mereka hanya teriak-teriak saja, tidak mendekat." Diana melihat tangan Angga memberikan ketenangan agar tidak ada yang mendekat.


Tangan Angga melambai, meminta salah satu bodyguard mendekat meminta bantuan mengambil bunga yang dibawa oleh penggemarnya dan beberapa hadiah untuk menghargai kedatangan mereka.


"Kita masuk sekarang Kak," ucap Dean yang mendorong kursi roda. cahaya kamera menyilaukan mata sampai kesulitan membuka mata karena terlalu banyak cahaya flash.


Melihat Angga terkena sinar cahaya membuat Dean kesal. Melepaskan kacamatanya dipasangkan kepada kakaknya agar matanya aman.


"Bisa tidak cahayanya dikurangi, sudah sakit sebentar lagi buta," suara Dean marah terdengar meminta wartawan menjaga etika.


Tangan Angga menepuk tangan adiknya agar tidak tersulut emosi karena banyak yang mengelilingi mereka.


Dari dalam pesawat Mommy dan Daddy tidak bisa duduk tenang karena mencemaskan ketiga anaknya yang terkurung oleh banyak manusia.


"Daddy, kenapa mereka terlambat sekali? Mommy tidak tega jika seperti ini." Kedua tangan Mommy dingin merasa khawatir memikirkan putra putrinya.


"Itu mereka Nenda,"


Senyuman Mommy Daddy terlihat melihat ketiganya berhasil menghindari wartawan yang penuh memotret dengan sangat lancang.


"Ramai sekali di luar mommy." Diana masuk ke dalam pesawat diikuti oleh Angga dan Dean.


"Merekaa tidak menggunakan otak, ini orang sakit diserang dengan cahaya seperti sedang ada di tempat dugem." Kepala Dean geleng-geleng menahan kesal.


"Uncle syirik saja sama Kak Angga karena tidak dipotret,,x

__ADS_1


"Mana kakak kamu, dia uncle bukan kakak." Dean menatap sinis tidak suka dengan Isel yang yang memanggil dirinya Uncle sedangkan Angga kakak.


Hadiah yang diambil dari penggemar dibawa masuk ke dalam, Isel langsung semangat menyambutnya. Tidak bisa Isel bayangkan jika Mora dan Mira melihatnya pasti sangat heboh.


"Boleh tidak Isel mengecek dalamnya?"


"Boleh Sel, ambil apa yang kamu suka, tapi suratnya berikan kepada Uncle." Senyuman Angga terlihat duduk bersama Isel untuk cek kado.


Dean ikut duduk di samping kakaknya, melihat senyuman Angga menatap isi surat yang sangt mengharukan.


Air mata Angga menetes, melihat tulisan tangan penuh support agar dirinya dalam keadaan baik.


"Kenapa menangis?"


"Aku pikir setelah kematian hari itu, hanya raga yang hidup namun semuanya sudah berakhir." Air mata menetes dengan sendirinya.


Senyuman Dean terlihat, mengagumi penggemar kakaknya yang sangat mencintai Blackat meskipun sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul.


Mata Dean melihat Isel yang sibuk memilih kado, memisahkan yang dia sukai dan tidak disukai.


"Sel, berikan itu pada Uncle," pinta Dean memancing keponakan yang kikir dan pelit.


"Tidak mau, itu banyak cari sendiri. Jangan menyusahkan orang." Tatapan sinis terlihat.


Tawa Dean terdengar, ucapan benar, dia memaksa Dean untuk membeli barang mewah hanya untuk Angga.


"Hadiah apa?" tanya Angga melihat Isel.


"Jam tangan ada, sepatu bahkan pernah dikirimkan saham." Kepala Dean geleng-geleng karena keponakannya yang gila.


Tawa Angga terdengar, dia masih menyimpan hadiah dari semua penggemarnya. Angga sepertinya ada merasa jika menerima surat tanah atau apartemen.


"Apartemen, jangan bilang apartemen yang kamu jual ternyata diberikan kepada Kak Angga?" Dean menarik rambut Isel.


"Iya, soalnya Uncle sudah beli apartemen baru." Tawa Isel terdengar menarik tangan Dean agar melepaskannya.


"Nanti kakak kembalikan." Angga meminta keduanya berhenti bertengkar.


Tawa Angga terdengar, Isel selalu menguras apa yang Dean miliki. Jam baru yang Dean beli diambil, di kadokan untuk Blackat.

__ADS_1


Ketiganya tidak berhenti tertawa membuat Mommy dan Daddy merasa bahagia, Isel menjadi perantara hubungan Dean dan Angga sejak lama.


'"Uncle, tunggu isel untuk menikah. Kita menikah bersama. Uncle Dean bersama Aira, dan Isel bersama Uncle Angga." Senyuman isel terlihat, namun Angga hanya menimpali dengan tawa kejahilan Isel yang suka membuat ribut.


"Mommy, lihat tingkah laku Isel, dia ingin menikahi Kak Angga,"


"Tidak boleh Ghiselin, kamu masih kecil,"


Lidah Dean terjulur , Isel langsung memukuli Dean menendang kuat agar menyingkir dari depannya karena sanagt menyebalkan.


"Apa yang membuat kalian ribut, nanti tangan kena dada Angga, turun dari sini masuk ruamh sakit lagi." Bentak Diana terdengar menatap tajam Dean dan Isel yang langsung duduk diam.


Angga hanya tersenyum membiarkan keduanya ribut, Dean ternyata bisa kekanakan juga di luar pekerjaannya. Angga berpikir dia hanya lelaki yang serius, tidak pernah jahil.


Sepanjang perjalanan pulang semua orang tidur hany Angga yang tidak bisa tidur meskipun sudah memejamkan matanya.


Pelan-pelan Angga berjalan, duduk di kursi paling belakang. Menatap foto Aira saat pertama kali mereka satu film.


"Bagaimana jika aku bertemu dia? apa Ai masih memikirkan aku?" Kepala Angga tertunduk, rasa rindu dan rasa takut bercampur aduk.


Tatapan Angga melihat keluar jendela, menatap gelap tanpa cahaya. Mengenang kembali bagaiman Air selalu menyerangnya.


"Aku pulang AI, Masih dengaan perasaan yaang sama. Bagaimana dengan kamu?" Angga menundukkan kepalanya merasa khawatir jika Aira mengetahui kebenaran soal dirinya.


Keluarga Aira pasti berpikir jika Angga hanya anak haram, dan dia tidak layak untuk Ai yang berasal dari keluarga baik-baik.


"Kenapa melamun sendiri?" Daddy duduk di samping Angga yang langsung menyembunyikan foto Aira.


"Angga tidak bisa tidur, Dad." Senyuman Angga terlihat menyimpan foto di celananya.


Tangan Dimas menggenggam jari-jemari Angga, pasti anaknya tidak percaya diri mencintai wanita dari keluarga baik dan bergelar karena dia lahir dari wanita yang tidak menginginkannya.


"Jika mencintai seseorang majulah, Nak, jangan seperti Daddy yang hampir kehilangan orang yang dicintai." Dimas dulu selalu mengabaikan Anggun meskipun tahu perasaannya, namun pekerjaan jauh lebih penting hilang lupa jika bahagia itu ada bersama keluarga.


Dimas tidak ingin Angga berpikir dirinya tidak pantas untuk siapapun, sehingga memilih untuk menjauh dan melepaskan. Cukup dipisahkan oleh kematian, jangan sampai pisah karena status yang tidak jelas.


"Kamu anak Daddy, ingat itu. Kamu memiliki orang tua, Daddy ingin anak-anak Daddy memiliki keberanian untuk mempertahankan apa yang diinginkan.


"Daddy, terima kasih. Angga tidak kecewa lahir sebagai anak Daddy." Pelukan Angga erat.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2