
Senyuman Bian terlihat menatap pemuda yang masih sangat muda bisa menjadi Jaksa yang paling dihindari. Dean satu-satunya Jaksa penuntut yang berhasil menjatuhkan dua perusahan besar miliknya sampai ditutup total.
"Kenapa Dean bisa ada di sini Tuan?"
"Pastinya dia sedang mengejar seseorang untuk menghacurkan bisnis terakhir aku yaang ada di wilayahnya. Aku ingin sekali melenyapkan pria ini, tapi dia juga tidak bisa dianggap remeh." Tangan Bian tergempal hanya bisa diam saat Dean mengibarkan bendera kemenangan.
Identitas Dean juga tidak bisa Bian temukan, kehebatan Juan meningkat setelah menjadi pengacara muda dan lanjut menjadi jaksa.
"Awasi terus dia, aku tidak ingin kemunculan Dean membuat bisnis yang ada di sini hancur," ujar Bian memberikan peringatan .
Perasaan Bian masih belum bisa melupakan Isel, mengendarai mobilnya sendiri untuk menemui Isel yang ada di apartemen .
"Aku merindukan dia, dan ingin memiliki hubungan serius." Bian memarkirkan mobilnya, melihat wilayah kumuh yang dihuni oleh beberapa orang yang kurang mampu.
Langkah Bian terhenti saat beberapa Preman yang Isel buat jatuh pingsan menghadang jalannya meminta uang.
Tidak ingin menanggapi, Bian tetap melangkah. Pundaknya ditahan, pertarungan tidak bisa dihindari. Terlalu mudah bagi Bian untuk melenyapkan orang-orang yang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya.
Saat tiba di kamar Dita sungguh mengejutkan Bian karena isinya banyak wanita malam edang menunggu tamu.
"Astaga, wanita cantik itu menipu aku, dia cukup hebat bisa masuk kawasan ini yang dihuni oleh orang-orang berbahaya." Senyuman Bin terlihat semakin jatuh cinta kepada Isel yang memiliki kemampuan istimewa.
Bian sangat yakin jika Isel bukan orang sembarangan, dia pasti sangat terpelajar juga berpengalaman.
Tidak mampu menemukan keberadaan Isel, Bian berniat menemuinya di Bar, berharap bisa berjumpa dan menjalin hubungan lebih serius.
Dari dalam kamarnya, Isel melihat rekaan CCTV apartemen, dugaannya benar jika Bian pasti kan datang mencarinya.
"Dia sangat ahli bela diri, kemampuan mengimbangi Uncle Genta." Isel melihat seluruh area yang memiliki rekaman CCTV , Isel mampu membobol semuanya dan menguasai banyak lokasi untuknya tetap aman dan terhindar dari orang-orang yang tergila-gila kepadanya.
Mata Isel menatap ke arah rekaman CCTV yang menunjukkan keberadaan Dean sedang ada di kantor kejaksaan.
"Kenapa Uncle di sana, tidak mungkin di pindah tugas di sini. Astaga jika begini terus, semakin lama rencana aku menikah jika Dean sibuk dengan kasusnya." Isel mematikan seluruh rekaman.
__ADS_1
Pesan dari manager masuk, meminta Isel pergi bekerja lebih cepat karena ada tamu spesial yang ingin dibuatkan minuman khusu oleh Isel.
"Matilah aku, bagaimana jika Uncle tahu?" Isel menguap besar memutuskan untuk tidur dan berpikir saat malam saja.
Panggilan dari nomor baru masuk, Isel langsung mengecek pemilik dari nomor dan lagi-lagi dugaannya benar jika Bian menghubunginya.
"Aku harus bicara langsung dengan pria ini jika aku sudah menikah, dia terlalu berkuasa sehingga sulit bagi aku jika sudah terjebak bersamanya." Isel tidak ingin membuat masalah baru jika harus melibatkan keluarganya.
Bian putra tunggal dari pengusaha hebat, tapi dibalik suksesnya Bian juga karena dia bermain dengan cara licik. Melumpuhkan banyak perusahaan hingga sukses dan sangat terkenal.
"Apa dia mengenal Kak Tika, apa dia juga tahu soal keluarga Leondra?" Isel menghubungi Tika karena saat ini Tika yang namanya cukup naik jajaran pebisnis hebat.
Tika mengetahui soal Bian, pernah bertemu beberapa kali, tapi dua bisnis Bian hancur sehingga Tika menarik saham tidak ingin ikut merugi.
"Ada apa kamu bertanya?" tanya Tika dibalik panggilan.
"Tidak ada, hanya ingn tahu saja," balas Isel.
"Jangan terlibat dengannya, dia masuk jajaran penjahat, juga memiliki beberapa istri tersembunyi. Jangan sampai Mama kamu tahu." Tika memberikan teguran keras karena keinginan Isel memang gila, tapi bukan berarti dia boleh memilih sembarang lelaki.
"Kamu masih ingin berjuang soal Dean?"
"Tentu, jika Isel gagal memiliki Uncle maka kalian harus siap menerima jika aku memilih lelaki psikopat" Isel mematikan panggilan setelah meninggalkan ancaman.
Kebenaran baru yang Isel terima cukup mengejutkannya, dirinya tidak bisa menganggap remeh Bian, kemungkinan besar mereka bisa saja terlibat masalah besar.
"Oke, malam ini harus aku akhiri. Ini terlalu berbahaya," batin Isel menenangkan pikirannya.
Setelah siap Isel langsung bergegas pergi bekerja, belum jam kerjanya saja Bian sudah ada di Bar menunggu kedatangan Isel yang dinantikan.
"Kamu menipu aku dengan apartemen itu?"
"Apa kamu mengikuti aku?" tanya Isel balik berlaga polos dan tidak tahu apapun.
__ADS_1
Sesaat semuanya nampak hening, Isel tersenyum kepada beberapa tamu yang menyapanya.
"Tuan muda Bian, permintaan Isel hanya satu jangan pernah terobsesi padaku. Aku sudah memiliki seseorang yang spesial, tidak ada ruang untuk orang lain," ujar Isel dengan nada pelan tidak peduli jika Bian akan tersinggung.
Tawa Bian terdengar, dia tidak peduli. Baginya perasaan cinta bisa saja berubah, tidak ada cinta yang kekal abadi. Isel memintanya pergi sebelum berjuang, hal yang mustahil Bian lakukan.
"Jika aku menginginkan sesuatu, maka harus memilikinya ...."
"Kecuali aku," balas Isel memotong ucapan Bian karena dirinya memang sangat mencintai Dean.
Kening Bian berkerut, menyentuh tangan Isel. Meremas sangat kuat, tapi Isel tidak meringis sedikitpun masih tetap santai saja.
"Apa istri kamu tahu jika suaminya ada di sini?"
Wajah Bian langsung terkejut mendengar ucapan Isel, sekian banyak wanita yang dia temui, tidak ada satupun yang berani lancang menyebut soal istrinya.
"Kamu tahu soal dia?"
"Apa dia tidak boleh diketahui karena itu namanya istri tersembunyi?" tanya Isel balik membuat ekspresi wajah Bian berubah dingin dan mengerikan.
Sudah banyak jenis manusia yang Isel temukan, ratusan kali juga dirinya melakukan penolak hanya Bian yang nampak paling menakutkan.
"Aku menyukai keberanian kamu, dan memastikan untuk mendapatkan kamu. Apa kamu juga tahu jika aku bisa melenyapkan lelaki yang kamu cintai?" Bian tertawa terbahak-bahak, meminta Isel berhati-hati karena dia pasti akan kembali.
Tangan Isel tergempal, namun masih menunjukkan senyuman manisnya. Dia tidak akan membiarkan ada yang menyentuh Dean, siapapun yang berani harus melangkahi mayatnya.
"Sel, aku tahu kamu bukan orang sembarangan, ini alasan kenapa kita harus bersama?"
Isel memilih tidak menjawab, membiarkan Bian pergi dengan ekspresi marahnya. Beberapa orang berbadan besar melihat Isel tajam mengikuti Bian keluar dari dalam Bar.
"Sel, jangan membuat tuan Bian marah, dia membayar mahal," ujar manager memberikan uang.
"Aku akan mengundurkan diri dari sini, dan membayar kontrak kerja sama." Isel mengabaikan uang yang cukup tebal.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira