
Dengan ragu kedua tangan Angga memeluk Dimas untuk pertama kalinya, pelukan yang ingin dia dapatkan dari sosok ibu, namun penolakan dan penghinaan yang didapat, tapi saat Angga memilih menjauh demi kebahagian Ayahnya, mereka yang datang memberikan pelukan hangat.
"Jika ini mimpi tolong perlambat waktu bangunnya, jika aku harus berpulang ini kenangan terindah yang aku miliki." Air mata Angga masih menetes merasa nyaman berada dalam pelukan Ayahnya.
"Hapus air mata kamu, nanti Daddy yang menemani kamu untuk periksa ke dokter. Jika Mommy bangun dia passti marah karena mata kamu sembab." Tangan Dimas mengusap air mata, meminta Angga tersenyum sekali saja.
Senyuamn Angga terlihat, Dimas langsung tertawa. Tidak heran Putri bungsu Altha jatuh cinta, dan cucu kesayangannya juga tergila-gila kepada Angga.
Senyuman Angga memang sangat manis, dia tampan dan matanya sangat indah. Dimas merasa Angga mirip dirinya di masa muda hanya bedanya Angga dicintai banyak orang, sedang Dimas hanya berada di kegelapan untuk misi.
Suara pintu terbuka terdengar, Dimas mengusap wajahnya, begitupun dengan Angga yang menatap ke arah Anggun yang berjalan dengan senyuamn lembut dan tulus
"Pasti akan ditanya sudah sholat belum?" Dimas tersenyum melihat istrinya.
"Sudah sholat belum? Cepat mandi Mommy sudah membeli baju baru tadi malam, Daddy juga mandi bangunkan Dean, Mommy membuat minuman untuk kita terlebih dahulu. Jika sudah siap kita sholat bersama." Anggun menatap Angga yang nampak binggung sedangkan Dimas sudah terbiasa.
"Mandi, ini masih subuh, airnya dingin." Angga menolak untuk mandi karena dia tidak kuat dingin.
"Mommy akan memanaskan air hangat karena di sini tidak ada air hangatnya. Daddy duluan yang mandi." Anggun meminta suaminya yang sudah berjalan lebih dulu untuk mandi.
Angga hanya diam melihat Anggun sibuk sendiri menyiapkan air hangat, pertama kalinya bagi Angga mandi air hangat dan diminta beribadah setelah ibunya meninggal.
"Kenapa masih duduk? Cepat mandi." Anggun menuangkan air di kamar mandi lain.
Angga terpaksa menurut karena Mommy sudah menyiapkan segalanya. Dia tidak tega jika harus membantah lagi.
Selesai mandi Angga gemetaran masuk ke dalam kamar melihat Dimas yang sudah siap dengan baju rapi, sedangkan Dean masih tidur.
"Dean bangun Nak, kamu juga harus mandi." Anggun menarik tangan Putranya yang masih tetap tidur.
Suara Dean meringis kesakitan terdengar, dia berpura-pura gemetaran karena cuaca tempat tinggal yang berbeda.
"Mommy, tubuh Dean sepertinya tidak kuat mandi pagi Mom di sini dingin sekali. Kasihanilah Dean Mom,"
"Yasudah, ganti saja baju kamu ambil wudhu." Senyuman Anggun terlihat mengusap kepala Putranya.
"Kenapa aku disuruh mandi? Padahal sudah aku katakan cuacanya dingin?" tanya Angga penasaran karena Daddy Dimas juga tidak mandi, rambutnya tidak basah.
"Mommy menawarkan air hangat kmu tidak menolak,"
__ADS_1
Dean langsung tertawa, menjulurkan lidahnya kepada Angga yang terdiam. Anggun keluar kamar lagi, Angga langsung naik ke atas ranjang menarik selimut karena dia kedinginan.
Selesai sholat, Dean lanjut tidur lagi dia jarang membuang-buang waktu sejak sibuk bekerja. Anggun juga tidur kembali karena kedinginan,
"Jangan memeluk aku Dean," pinta Angga menjauhkan tangan Dean.
"Sementara Kak Angga tidak bisa pergi sendirian karena berita semakin heboh. Sampai perusahaan bisa mengumumkan perihal Kak Angga barulah boleh keluar." Mata Dean masih tertutup, namun dia tidak tidur terus mengoceh tanpa tanggapan dari Angga.
"Dean, maafkan aku,"
"Bosan aku mendengarnya. Berhentilah meminta maaf, tidak ada yaang salah juga. Lagian Dean senang karena memiliki kakak laki-laki, kamu yang harus belajar terbiasa bersama kita, apalagi Mommy yang sangat telaten mengurus anak-anaknya." Dean mudah menerima orang baru, tapi Angga akan kesulitan mendekati Kakak perempuannya.
"Kamu punya kakak perempuan? apa dia lebih tua dari aku?"
"Ya, dia Kak Diana, Mamanya Isel." Dean membuka matanya melihat Angga yang terkejut.
"Jadi dokter Di, Kakak kamu?" Angga menganggukkan kepalanya dia berhutang kebaikan kepada Diana.
"Emh ... Dia wanita kejam, berhati-hatilah kepadanya." Dean memberikan peringatan agr Angga tidak membuat masalah.
"Aku tidak akan bertemu dengannya,"
Suara Mommy memanggil terdengar, meminta Dean dan Angga segera keluar untuk sarapan karena Angga harus ke dokter memeriksakan keadaannya.
Mata Angga melihat ke arah Dean yang diam saja, Angga juga memilih diam sampai pintu terbuka.
Dean langsung berdiri bersiap untuk keluar, Angga tersenyum melihat dean yang sengaja mengerjai dirinya.
"Mommy teriak-teriak, masa iya tidak direspon,"
"Dean dari kamar mandi, kak Angga yang tidak respon, keterlaluan sekali." Dean langsung berlari keluar kamar.
"Maaf Tante, Dean juga diam jadinya aku juga diam." Angga mencoba membela dirinya.
"Ayo sarapan dulu sayang,"
Makanan di atas meja sudah siap, Daddy dan Dean sudah menunggu. Angga daan Mommy duduk.
"Selamat makan semuanya," ucap Daddy mempersilahkan makan.
__ADS_1
Semuanya makan, senyuamn Angga terlihat dia menyukai masakan Mommy Anggun. Rasanya dia melihat kelurga yang hangat karena bisa makan bersama.
Senyuman Anggun terlihat, merasa wajah Dean dan Angga sekilas mirip, mereka tidak menyadarinya karena tidak pernah menyangka.
Cara makan juga sama, tatapan mata dan senyuman juga sama manisnya sehingga Anggun merasa memiliki dua putra yang lahir dari rahimnya.
Tiba-tiba Angga berhenti makan, memegang dadanya karena benturan bersama pria besar di bandara membuat dadanya sakit kemabli.
"Kenapa Kak?" tanya Dean khawatir karena Aira selalu mengatakan jika Angga selalu sakit dada.
"Tidak apa-apa,"
"Dada kamu sakit kembali, apa kamu terluka?" Anggun duduk mendekat melihat ke arah dada Angga yang sudah Dimas obati.
Kepala Angga menggeleng, dia tidak mengatakan jika dadanya ditabrak orang saat dalam proses penyembuhan.
"Di dada Angga ada benturan lagi, mungkin ada yang menabraknya. Daddy sudah bertanya kepada Diana mungkin ada jahitan yang lepas karena lukanya belum kering." Daddy sudah meminta Diana menyusul untuk mengecek kondisi Adiknya.
Mommy langsung khawatir, mengusap kepala Angga dengan lembut. Anggun tahu jika Angga menahan rasa sakit.
Tangisan Mommy terdengar merasa cemas, Angga langsung meringis merasakan sakit dadanya yang berkali-kali lipat karena sempat terdorong.
Daddy dan Dean langsung membantu Angga berdiri untuk ke rumah sakit. Sekuat mungkin Angga tidak menunjukkan kelemahannya, hanya saja hatinya sedih melihat tangisan Mommy Anggun.
Selama di perjalanan mata Angga terpejam, Daddy dan Mommy sudah sangat cemas karena Hendrik memang memberikan peringatan jika tidak boleh kelelahan, banyak pikiran dan terjadi benturan karena akibatnya fatal
Angga mengabaikan karena tidak merasa sakit yang teramat parah sehingga memilih untuk diam di apartemen.
Sampai di rumah sakit tidak ada dokter yang berani membedah kembali karena ada pendarahan di dalam apalagi Angga sudah melakukan operasi berkali-kali.
"Kamu kuat Nak, tunggu sampai kak Diana datang." Mommy menggenggam tangan Angga sangat erat.
"Jangan menangis Mommy, Angga baik-baik saja, melihat kalian menangis hati aku sakit, tolong jangan menangis seakan-akan aku akan mati hari ini." Angga menyentuh wajah Mommy yang berusaha menahan air matanya.
"Iya sayang, Mommy tidak akan menangis lagi, Mommy Daddy dan kita semua akan menunggu kamu dalam keadaan sehat." Jantung Anggun berdegup kencang karena kesadaran Angga hilang.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1