
Sampai di villa Isel langsung lompat ke atas tempat tidur, tubuhnya lelah karena perjalanan jauh.
"Sel, kamu mau mandi tidak?"
"Nanti, Isel capek." Mata Isel terpejam baru satu jam perjalanan saja membuatnya lelah.
"Sama aku juga capek." Dean membatalkan niatnya untuk mandi, memilih tidur memeluk Isel erat.
Tidak ada penolakan dari Isel, membiarkan Dean tidur memeluknya erat, tanpa sadar jika keduanya menghabiskan banyak waktu untuk tidur.
"Aduh kepala aku pusing seharian tidur." Dean bangun dari tidurnya tidak melihat Isel lagi.
Suara air terdengar di dalam kamar mandi, Dean melangkah masuk melihat Isel yang sedang berendam di dalam bathub.
"Bisa tidak saat aku bangun kamu masih ada di tempat tidur," pinta Dean yang duduk bersandar di bathub.
"Memangnya kenapa Uncle, Isel hanya mandi." Tangan Isel melingkar di leher memeluk dari belakang mengigit telinga Dean sampai meringis kesakitan.
"Aku menghubungi restoran agar yang lainnya bisa makan malam, tidak enak seharian kita tidak keluar kamar." Suara Dean teriak mengejutkan pihak villa karena Dean melakukan panggilan, tapi suaranya seperti sedang perang di ranjang.
Tawa Isel terdengar, mengeratkan pelukannya mengigit kuat, tapi Dean hanya diam saja memegang leher Isel membiarkannya melakukan sesuka hatinya.
"Sakit tidak Uncle?" tanya Isel menatap bibir Dean yang merah karena digigitnya.
"Menurut kamu, apa mungkin tidak sakit?" napas Dean menerpa wajah Isel yang masih basah air.
Wajah Dean mendekati bibir Isel, dia langsung bangkit mengambil handuk saat ada suara pelayan membawakan makanan yang dipesan
"Makan-makan." Isel lari-lari kesenangan.
"Sayang, apa makanan jauh lebih penting dari aku? kenapa selalu menghindari aku, setelah digoda dicampakkan." Dean mengacak-acak rambutnya memutuskan mandi.
Pintu kamar mandi terbuka, Dean menarik tangan Isel yang sedang makan langsung didorong ke atas tempat tidur.
Tawa Isel terdengar, memukuli Dean yang mengigit lehernya. Meninggalkan tanda merah yang terlihat jelas.
"Sel, kenapa kamu menolak tidur bersama, salah aku apa?"
"Isel hanya ingin sendiri Uncle, tapi sekarang tidak lagi. Maafkan Isel yang membuat Uncle pusing." Punggung Dean digigit kuat agar melepaskan karena ingin lanjut makan.
__ADS_1
"Memangnya kemarin ada masalah apa? apa yang membuat kamu stres?"
"Nanti Isel kasih tahu, tapi nanti setelah Isel memastikan." Senyuman Isel terlihat, lanjut makan lagi.
Rasa penasaran Dean sangat besar, tidak sanggup menunggu karena dia hampir gila karena takut jika hubungannya dan Isel semakin buruk.
Menunggu lagi dan lagi, apalagi dengan sikap Isel yang suka menghindar semakin memperburuk hubungan keduanya.
"Nanti Uncle," ujar Isel pelan.
"Berhentilah memanggil aku Uncle," pinta Dean pelan tetap berbaring di atas ranjang tanpa menggunakan baju.
"Memangnya Isel harus panggil apa?" Isel mengunyah makanannya, menunggu jawaban Dean.
Kepala Isel melihat ke arah Dean, mendengar suara dengkuran. Hanya beberapa detik suaminya sudah terlelap tidur.
Tangan Isel mengusap perutnya, menahan tawa melihat suaminya yang ternyata sangat mudah tertidur.
"Anak mama ternyata pemalas semua, papa kalian kelelawar, tapi sekarang kerjanya tidur terus siang malam." Isel tepuk jidat menatap ponselnya yang mendapatkan pesan dari Laura jika mereka di pinggir pantai menikmati matahari terbenam.
Selesai makan, Isel bergegas keluar menyusul teman-temannya meninggalkan Dean yang masih tidur.
"Di mana Pak Dean?" Ren menatap Isel karena dia ingin pamitan kepada Dean.
"Pasti lagi tidur, tidak ada lelahnya dia tidur." Brayen memejamkan mata menikmati matahari terbenam.
Isel tersenyum melihat langit yang berwarna jingga kemerahan, terlihat sangat cantik dan mempesona.
Panggilan dari Dean masuk, langsung mengomel karena permintaannya tidak Isel turuti. Saat dirinya bangun tidur menginginkan Isel ada di sisinya.
"Kenapa suami kamu Sel?" Weni menatap Isel yang tertawa kecil.
"Dia ingin ditemani tidur," jawab Isel sambil tertawa.
"Katanya ingin liburan, tapi dari tadi siang kalian tidur terus." Kepala Vio geleng-geleng melihat Isel yang cengengesan.
Suara Brayen terdengar, dia sudah tiga minggu lebih menemani Dean yang galau karena Isel marah, tanpa tahu apa salahnya bahkan tidak pernah menemani tidur.
Brayen kasihan kepada Dean, begitu sabarnya menunggu Isel yang sulit sekali dipahami kemarahannya.
__ADS_1
Teriakan Vio, Weni dan Laura terdengar. Mereka mengenal lama Isel hal mustahil dia bisa berjauhan dari suaminya, apalagi sampai berminggu-minggu.
"Sel, kenapa meninggalkan aku?" Dean berlari ke arah Isel yang tersenyum manis.
"Salah sendiri tidur terus." Isel merapikan rambut Dean yang berantakan.
"Jomblo dipersilahkan bubar." Brayen melangkah ingin pergi, tapi tidak ada yang mengikutinya.
Senyuman Dean terlihat merangkul pinggang Isel menatap langit jingga, hatinya terasa tenang dan damai setelah mendapatkan kembali perhatian Isel.
"Pak Dean, besok aku akan kembali karena harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah mengkhianati tim." Ren siap mendapatkan hukuman penjara demi menembus salahnya.
"Baguslah jika kamu sadar diri, besok kamu pulang dan bertanggung jawab atas pengkhianatan, Vio juga akan dikembalikan untuk bertugas di perbatasan dengan misi rahasia, dan besok juga ada berita kebebasan Bian." Dean menatap Isel yang terlihat tenang menatap suaminya.
Suara kaget Vio dan Ren terdengar, bagaimana mungkin Bian bisa bebas padahal Ren dan Alika lolos dari targetnya sebagai kambing hitam.
Seharusnya Bian disidang karena sudah menjadi dalang utama penculikan kasus istri tersembunyi yang dijalani lebih dari puluhan tahun.
Saksi Alika dan Ren tidak diterima, dan dinilai tidak resmi. Ada lima orang pejabat tinggi yang mengakui kesalahan sebagai dalang utama, dan mereka datang secara sukarela.
"Bagaimana bisa begitu, ini hukum sudah gila?" Vio berteriak menatap Dean yang hanya tersenyum kecil.
"Aku menemui Bian, dan dia nampak menyesal berjanji akan menjadi orang baik. Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan itu, dan mengakui kalah." Dean memeluk Isel dari belakang karena tidak bisa menahan Bian setelah ada yang mengakui kesalahannya.
"Bagaimana tanggapan kepolisian?"
"Kasus akan ditutup setelah sidang, bahkan aku tidak diizinkan bergabung sebagai jaksa penuntut. Di sini aku tidak berguna sama sekali." Dean geleng-geleng pelan.
"Jangan kecewa, gagal itu hanya kesuksesan yang tertunda. Tujuan hanya membebaskan korban, sisanya biarkan Allah yang atur." Isel mengusap kepala Dean agar tidak terlalu stres memikirkan Bian.
Mendengar kabar Bian lolos membuat Vio ragu untuk pergi, dia masih mengkhawatirkan Isel setelah kasus terakhir Isel yang menjadi korban penculikan.
Bukan hanya Vio yang cemas, Ren juga sepemikiran. Bian tidak mungkin berubah. Dia mengalah kepada Dean dengan mengaku kalah karena Dean berhasil menghacurkan bisnis juga menemukan para korbannya, tapi Bian tidak mungkin mundur untuk mendapatkan Isel kembali.
"Aku tidak bisa meninggalkan misi ini, aku ingin Bian dipenjara." Kepala Vio geleng-geleng.
"Aku juga menginginkannya, tapi dia akan tetap bebas." Dean menatap tajam ke depan, begitupun dengan Isel yang melihat tajam ke depan, sambil mengusap perutnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira