SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PUTRI TERSEMBUNYI


__ADS_3

Makanan memenuhi meja, Aira garuk-garuk kepala, seharusnya mereka segera pergi sehingga tahu apa yang terjadi, tapi faktanya mereka memilih makan.


Isel makan dengan lahap, hatinya kesal karena selalu masuk ke tahap selanjutnya perlombaan. Sekolah hal yang sangat menyebalkan bagi Isel, tapi mengikuti perlombaan jauh lebih mengesalkan.


"Kapan kita bisa pergi?"


"Tidak perlu terburu-buru, sebelum mati makan dulu diakhirat tidak ada makanan." Tawa Isel terdengar, menghindari pukulan Ai.


"Kenapa Nenek Taher menginginkan Aira menemuinya?" Lea memasukan makanan ke dalam mulutnya masih bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Kak Aira kenapa ingin bertemu dengan nenek itu? dia jahat." Bulu tangan Isel merinding, merasa tidak nyaman.


"Dia terlalu tua untuk kita lawan, apa yang ditakutkan?"


Kepala Isel menggeleng, seseorang yang dianggap lemah hanya penampilan luar saja tidak ada yang apa yang ada di dalamnya.


Semakin besar rasa penasaran Aira dengan sosok nenek Taher, dia juga mengenal Nenek psikopat Ai, pastinya dia juga tahu kehidupan Neneknya puluhan tahun yang lalu.


"Ayo kita pergi sekarang?"


Ketiganya kembali masuk mobil, giliran Lea yang membawa mobil, sedangkan Aira meminta Isel mengecek CCTV meksipun sudah bisa dia duga jika semua CCTV mati.


Ai mencari tahu keberadaan Imel yang ternyata di kampus tempat kakaknya Juan memberikan materi.


"Siapa nama Papinya Imel?"


"Ken Taher, putranya Kevin dokter anak di rumah sakit keluarga Taher." Ai memberikan tabletnya kepada Isel yang sedang menguap lebar menahan ngantuk.


Teriakan Aira terdengar meminta Isel fokus dan tidak tidur, kebiasaan sudah makan mengantuk membuat Ai kesal. Mereka sedang serius, tapi Isel matanya merah tidak bisa menghindar dari waktunya dia tidur.


Ai masih mengoceh sambil mengecek handphonenya, Lea melihat ke belakang Isel sudah terlelap tidur.


Kepala Lea geleng-geleng, Isel sungguh wanita aneh. Aira memang gila, tapi Isel lebih gila. Dia punya waktu untuk tidur padahal mereka menuju tempat bahaya.


"Bagaimana ini Ai? Isel tidak mungkin kita tinggalkan." Lea menatap Isel yang tidur dengan suara mendengkur.


"Biarkan saja, lebih aman juga dia di mobil, daripada mengikuti kita." Ai keluar dari mobil, berjalan bersama Lea melewati jalur rumah mewah keluarga Taher.


"Ai rumah ini besar sekali?"

__ADS_1


"Masih besar rumah keluarga Leondra, ini belum seberapa." Ai berjalan tanpa ragu, begitupun dengan Lea.


Mereka tidak melihat satu orangpun, berjalan seperti sangat mengenali seluk-beluk rumah hingga berhenti di depan pintu kamar.


Suara tepuk tangan terdengar, Aira dan Lea langsung menoleh menatap Kevin berdiri dengan senyuman lebarnya.


Ai juga bertepuk tangan sambil tertawa, merasa lucu melihat penampilan Kevin yang sangat konyol baginya.


Kepala Lea menolah ke arah lain, menahan tawanya tidak ingin memancing emosi jika mentertawakan seperti Aira.


"Ini apa ya konsepnya? astaghfirullah. Kenapa lucu sekali?" Ai tertawa terpingkal-pingkal memegang perutnya yang terasa sakit tidak kuat melihat kebun yang menggunakan make up mengalahkan make up Ai yang belum sempat dia bersihkan.


Lea menepuk pundak Aira untuk diam, mereka sedang dalam masalah besar karena banyak orang yang mengelilingi.


"Apa ini begitu lucu?"


"Sangat, kamu ternyata ada kelainan." Ai berdiri tegak dengan matanya yang tajam menantang.


Lea melangkah maju mendekati Kevin, mereka datang karena mendapatkan undangan permintaan bantuan dari nenek Taher, meksipun tahu jika itu hanya kebohongan.


Ai dan Lea datang bukan untuk mengantarkan nyawa apalagi menantang dan ikut campur, Lea ingin bernegosiasi bersama Kevin hingga mereka berada di tengah keuntungan satu sama lain.


"Sesuatu yang tidak pernah terduga, kamu akan mendapatkan kabar warisan, tapi aku menginginkan Imel di keluarga Taher." Tangan Lea terulur sambil tersenyum licik.


"Tanpa kamu aku bisa melakukannya, untuk apa negosiasi?"


Tawa Lea terdengar, menepuk tangannya sendiri yang tidak diterima berjabatan. Pandangan Lea ada pada Aira yang masih berdiri diam.


Langkah Aira mendekati, sepatu boots yang dikenakan terdengar menggema di kuping. Ai yakin Kevin akan terkejut dengan apa yang dia katakan.


"Baik kamu maupun Imel tidak akan mendapatkan apapun, tidak akan. Ada pewaris sebenarnya, bulan depan dia berusia tujuh belas tahun dan resmi pengganti Nenek Taher." Ai dan Lea tersenyum melihat Kevin yang menyipitkan matanya.


"Kalian berbohong,"


Kepala Ai menggeleng, jika Kevin membunuh Nenek Taher sebelum pemindahan warisan maka semuanya berakhir, seluruh aset jatuh ke tangan negara.


Kevin nampak terkejut, dia tidak sepenuhnya mempercayai Ai karena tahu betapa liciknya para wanita Rahendra.


"Kita pastikan saja kepada Nenek Taher, dia memiliki seorang Putri, dari kekasihnya." Lea menunjuk ke arah pintu kamar yang terkunci.

__ADS_1


Langkah Kevin cepat, langsung membuka pintu melihat wanita tua yang terbaring di atas ranjang. Mata nenek terlihat sangat tenang.


"Aku tidak akan pernah menyerahkan kepada kamu,"


"Kenapa Nek? apa Keila kurang cantik?"


Kedua tangan Aira menutup mulutnya sebelum tawanya pecah, Lea meremas tangannya kuat mengulum bibirnya menahan tawa, kepala keduanya menoleh ke tempat lain agar tidak bertemu.


"Dasar tidak tahu malu, bahkan anak dan cucuku saja sampai wafat tidak ada yang gila seperti kamu. Membuat malu nama keluarga saja,"


"Aku cicit kandung, bagaimana bisa aku tidak memiliki apapun. Imel juga tidak mendapatkan apapun, lalu untuk siapa harta Nenek. Apa benar jika Nenek memiliki seorang Putri?" Kevin bicara lemah lembut, namun cukup mengejutkan Nenek Taher.


Aira dan Lea yang lebih kaget lagi, kebohongan mereka benar jika Nenek memang memiliki seorang Putri yang dirahasiakan.


Tangan Aira menarik Lea untuk melangkah mundur, mereka harus segera keluar karena tidak mengetahui siapa Putri nenek Taher.


Tatapan Kevin ke arah Aira yang sudah kabur, hanya Lea yang berdiri tegak tanpa rasa takut. Tangan Kevin mencekik Lea memintanya mengatakan siapa wanita yang sembunyikan.


"Bunuh aku maka kamu tidak akan mendapatkan apapun?" Lea menyunggingkan senyum.


"Lepaskan dia." Ai menatap tajam memutuskan kembali lagi.


"Siapa wanita itu Aira?"


Kepala Aira menggeleng dia tidak ingin membahayakan orang lain hanya karena keserakahan harta warisan yang menjadi rebutan.


"Terima dulu negoisasi yang aku inginkan, jika sampai kalian menyakiti Imel maka jangan harap bisa menemukan gadis itu." Lea melangkah keluar menarik tangan Aira yang sudah menatap mata Nenek Taher.


Apapun yang terjadi nenek tidak boleh mengatakan apapun, Ai melindungi dengan nama seseorang yang tidak pernah diketahui keberadaannya.


Kevin mengejar Lea dan Aira yang memutuskan pergi, Kevin menyetujui keinginan Lea dan akan melepaskan Imel dan membuatnya keluar dari keluarga Taher.


"Masukkan Imel ke dalam penjara, dia harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan perusahaan YN entertainment." Lea menatap tajam meminta Kevin membuktikan terlebih dahulu jika dia bisa memasukkan Imel ke dalam tahanan.


"Apa rencana kamu Lea?" bisik Ai pelan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2