
Sprei yang menutupi ranjang dibuka, Gemal melihat ranjang tidur sudah bolong diganti dengan susunan emas yang sudah full.
Bukan hanya Gemal yang kaget, tapi Diana juga langsung terduduk lemas jika Putrinya pengumpul harta Karun.
Selama lima tahun Isel selalu berkemah bersama teman-temannya dari hutan satu ke hutan lainnya, ternyata dia mencari harta Karun yang tersenyum.
"Berapa banyak yang kalian temukan?"
"Tidak tahu Pa, Isel hanya mengambil emas batangan, sisanya terserah teman-teman Isel." Kepala Isel tertunduk, menutupi kembali ranjang emasnya.
"Seluruh teman kamu Milioner semua Sel?" Aira langsung lompat ke atas ranjang emas dan teriak kesakitan.
"Tidak juga, harta yang kita temukan paling banyak emas batangan, tapi teman-teman Isel tidak mengerti soal emas, mereka hanya tahu kalung gelang dan cincin." Senyuman Isel terlihat, dialah yang menipu temannya menjadi pemilik seluruh emas batangan.
Papi Altha dan Daddy Dimas juga masuk, Alt tersentak kaget melihat emas yang tidak resmi, juga kekayaannya tidak terhitung.
Hanya Dimas yang terlihat santai saja menatap tumpukan emas, bukan hanya Isel yang mengetahuinya namun Kakeknya juga tahu.
"Kak Dimas soal emas ini?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Sayang, ini emas memiliki nilai fantastis apalagi dengan jumlah sebanyak ini." Anggun menatap suaminya yang tersenyum kecil.
Kepala Dimas mengangguk, dia tahu jika Isel mengumpulkan emas sebagai hobi bukan menumpuk kekayaan. Sebanyak apapun emas jika ditangan Isel tidak ada harganya.
Dia hanya ingin membuat ranjang emas, bahkan setiap ulang tahun Isel selalu Kakeknya berikan batang emas sebagai hadiah.
"Isel sekarang tidak ingin mencari emas lagi,"
"Sekarang apa yang kamu inginkan?" Dimas merangkul cucu perempuan kesayangan yang membuat seluruh orang jantungan.
"Mengejar cinta Blackat?"
"Black card, kamu menginginkan card?" Dimas mengerutkan keningnya tidak mengerti apa manfaat black card.
"Blackat Daddy, bukan black card." Gemal menjelaskan jika putrinya ingin mengejar cinta seorang aktris terkenal.
Tawa Isel terdengar sangat puas berlari ke arah Dean yang sedang menerima panggilan penting.
Kedua tangan Isel bergelantungan, memeluk leher Dean membuat Uncle satu-satunya menatap tajam.
"Aduh perut Isel sudah tiga hari sakit sekali,"
__ADS_1
Pintu ruangan kamar Isel terbuka, Aira tertawa terpingkal-pingkal melihat Diana yang hampir gila.
"Sepuluh batang emas harus dikembalikan karena ada keributan dengan keluarga Taher,"
"Siapa saja yang terlibat?" Altha menatap Isel yang masih memegang perutnya.
Tangan Isel menunjuk ke arah Aira, ada dua orang yang akan menjadi incaran Kevin. Ai dan Lea orang terakhir berada di rumah Kevin Taher.
"Tidak akan ada yang berani menyentuh aku, mereka bukan lawan Ai. Tidak ada yang perlu di khawatir, soal emas anggap saja tidak pernah ada." Ai duduk di ruang tamu memeluk lengan Papinya.
Diana dan Aliya setuju dengan ucapan Aira, selama nenek Taher sudah membagikan warisannya maka semuanya telah berakhir, jika menyentuh salah satu dari keluarga mereka, maka akan ada keributan besar.
"Mungkin Aira dan Lea aman, tapi tidak dengan Imel. Dia akan menjadi kambing hitam untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan." Dean juga duduk meminta solusi.
"Siapa Amel?" Gemal menatap istrinya yang duduk di sampingnya.
Semuanya berkumpul membicarakan soal keluarga Taher yang dulunya ada sangkut-pautnya dengan keluarga Diana dan Aliya.
Cerita lama yang sebenarnya tidak terlalu penting, Nenek Taher sudah lama berhenti dari dunia kejahatan, tapi sikap kejamnya tertanam di kehidupan cucunya.
Kepergiaan Nenek Taher akan mengakhiri perebutan kekuasaan, tidak akan ada lagi saling menyakiti.
"Cerita keluarga ini menjadi pelajaran untuk kalian agar tidak serakah, alasan kita meminta setiap anak mandiri agar bisa menghasilkan uang sendiri sehingga tidak memperebutkan warisan." Al menatap anak-anaknya yang berkumpul semua.
Tangan Aira sudah tergempal ingin memukul, mata Aira langsung tajam ingin menghajar keduanya.
Tatapan mata di kembar beda rahim sudah sangat tajam, melawan Aira yang jauh lebih tua dari mereka.
"Assalamualaikum, tumben sekali kumpulnya di sini?" Juan berlari langsung mengendong si kecil yang ada dalam gendongan Shin.
Di depan pintu Lea berdiri saja, ragu ingin ikut masuk karena dia bukan bagian dari keluarga. Tidak nyaman jika dirinya menganggu.
"Anggia masuklah, di luar dingin sayang." Al berteriak menatap Lea yang tersenyum menatap seluruh orang yang kumpul.
Tangan Lea di tarik oleh Gion, mempersilahkannya duduk untuk bergabung dan mengobrol santai.
"Apa dia calonya Juan? wow sebentar lagi ada menantu batu?" Tika mengedipkan matanya ke arah adik lelakinya.
"Ternyata Juan yang lebih dulu, aku pikir Aira," Shin ikut menimpali.
"Ai ingin menikah, tapi tidak memiliki anak perempuan mirip mereka berdua ini. Tidak mau, bisa gila Ai." Kepala Aira geleng-geleng melihat si kembar beda rahim.
"Semua orang berkumpul di sini, Kakek sangat merindukan Ian. Sampai kapan dia tidak kembali dan jauh dari orang tuanya?" Dimas tersenyum menatap Gion yang memeluk kakeknya.
__ADS_1
Diana dan Gemal saling tatap, mereka juga merindukan Ian, tapi dialah yang memutuskan untuk tidak kembali sebelum pendidikannya selesai.
Hasan dan Husein duduk di samping Isel yang meringis kesakitan, tapi masih terlihat tenang. Hanya tangannya yang sesekali meremas perut.
"Kakak, ini apa?" Hasan menggunakan jari telunjuknya menyentuh bercak merah yang ada di lantai tangga.
"Itu darah Hasan," Ucap Husein pelan.
"Hasan tahu Husein, tapi ini darah apa?"
Isel langsung berdiri, melihat celananya yang penuh merah. Dua anak kecil yang melihatnya langsung berlari kencang memeluk Mama dan Maminya ketakutan melihat Isel berdarah.
"Ada apa Isel?"
Senyuman Isel terlihat, seluruh orang berdiri melihat Isel lompat-lompat kesenangan yang membuat semuanya semakin binggung.
"Gila kamu ya Sel?" Diana menatap tajam Putrinya.
"Kalian semua lihat ini, kejutan." Isel menunjukkan banyaknya darah di celananya.
Gemal menundukkan kepalanya putrinya kedatangan tamu pertama hebohnya mengejutkan dunia. Dia berteriak kesenangan karena sudah menjadi wanita dewasa.
Juan, Dean langsung tertunduk malu, begitu para lelaki yang lain langsung duduk terheran-herna melihat Isel yang memamerkan kepada semua orang jika dia sudah dewasa.
"Ye, Isel sudah besar. Sudah bisa punya pacar dan sekarang sudah datang bulanan. Yes, yes." Isel berputar-putar kesenangan.
Diana menendang Isel memintanya diam, malu dilihat laki-laki seorang wanita memamerkan darah di depan Kakak, uncle, papa, dan kakeknya.
"Urat malu Isel sudah putus, aku sebagai seorang wanita malu." Ai geleng-geleng melihat Isel ditarik pulang untuk berganti celana.
"Kenapa malu? Mama dan semua juga seperti itu, tidak ada yang malu? seharusnya kita mengadakan pesta karena Isel sudah besar."
"Diamlah! cepat pulang," ucap Di kesal.
"Kakek itu darah apa?" Kembar beda rahim menatap Altha.
"Tanya Nenda saja,"
***
follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira