
Di kamarnya Aira sibuk membersihkan wajahnya menggunakan tisu basah, memberikan pelembab agar wajahnya tetap cantik.
Lea masih duduk hening menatap ke arah jendela, memikirkan nasib Imel yang harus menanggung kemarahan Kevin yang memiliki jiwa perempuan.
"Masih terus memikirkan Imel, tukar posisi sama kamu lebih kuat menghadapi Kevin. Imel hanya wanita lemah yang tidak punya pengalaman." Ai masih fokus di depan kaca, tapi bisa melihat Lea yang terdiam cukup lama.
"Kenapa aku yang harus menderita?" Kepala Lea tertunduk, dirinya khawatir namun tidak ingin menjadi boneka Adiknya.
Tawa kecil Aira terdengar, meminta Lea segera tidur. Tidak ada jawaban sama sekali, kegelisahan Lea sangat besar.
Suara Aira tidur pulas terdengar, Lea memutuskan untuk keluar kamar menenangkan pikiran dengan bermain air di kolam.
Langkah Lea pelan, berjalan ke arah kolam. Air yang tenang memperlihatkan bulan terpantul di air.
Tanpa Lea sadari ada seseorang yang memperhatikannya, tanpa cahaya asik menikmati sinar bulan yang sangat indah.
Senyuman Juan terlihat, tapi memilih diam tidak ingin menganggu ketenangan Lea yang ingin menyendiri. Juan memilih tetap bersantai menikmati bulan di dalam kegelapan.
"Kak Juan apa yang dilakukan di situ?" Lea menyadari keberadaan Juan saat melihat pantulan bayangan hitam.
"Aku hanya suka saja berada di sini. Kenapa kamu tidak bisa tidur?" Juan berjalan ke arah Lea yang masih menatap air kolam
"Bagaimana kondisi Imel setelah pemindahan warisan itu? bohong jika Lea mengatakan dia baik, pasti saat ini dia sedang bersedih." Kepala Lea tertunduk, mencemaskan adiknya yang tidak bisa dirinya gapai.
Senyuman Juan terlihat, memberikan ponselnya kepada Lea. Imel salah satu mahasiswi Juan, dia juga mati-matian mengejar cinta Juan sama seperti mahasiswi lain.
Mereka lupa tujuan mereka ada di sana untuk mengejar mimpi, bukan mengejar cinta. Juan tidak pernah memperdulikan Imel menganggapnya tidak pernah terlihat.
"Astaga, sial sekali nasib kami berdua, mencintai lelaki yang sama. Jika begini rasa benci Imel pasti semakin besar." Kaki Lea mengacak-acak air kolam.
"Kamu mengatakan apa Lea?"
"Bulan malam ini indah." Senyuman Lea terlihat, menatap ponsel Juan.
Wajah Lea yang sedih mendadak kesal karena Imel tidak bersedih sama sekali. Dia sedang asik berpesta bersama teman-temannya, kehidupan Imel penuh gemerlapan lampu.
Sia-sia Lea mencemaskan, ternyata Imel bukan wanita lemah. Dia tidak takut dengan Ken maupun Kevin.
__ADS_1
"Imel sepertinya tahu jika dia akan dimanfaatkan, makanya dia membuat pertahanan sendiri." Lea mengembalikan ponsel Juan.
"Aku berpikir jika Imel jauh lebih kuat dari Kevin dan Papinya. Dia tahu enaknya hidup mewah sehingga melakukan segala cara untuk mengamankan posisinya." Juan meminta Lea tidur, besok harus berkerja.
Memikirkan sesuatu yang belum tentu memikirkan hal baik, pikiran terlalu terbebani dengan banyak hal sehingga membutuhkan banyak istirahat.
Lea menggelengkan kepalanya, dia masih ingin bersantai. Matanya belum mengantuk sama sekali.
"Aku masuk duluan, jangan terlalu lama bermain air." Juan melangkah masuk lebih dulu.
Kedua tangan Lea memeluk lututnya, merasa rindu kedua orangtuanya yang sudah bahagia bersama, meninggalkan dirinya sendiri dengan banyaknya masalah.
"Mami, Papi, keluarga ini sungguh hangat, jujur Lea iri." Senyuman Lea terlihat menatap pantulan bintang.
Di dapur Juan membuatkan cemilan untuk Lea, saat tidak bisa tidur biasanya perut lapar. Juan tidak ahli masak sehebat kakak iparnya, tapi dia cukup mahir karena harus mandiri sejak kecil.
Selain makanan Juan juga membuatkan jus apel, membawa beberapa buah-buahan yang tidak menambah berat badan.
"Aku rasa ini cukup, tapi apa ini tidak berlebihan? bagaimana jika Lea salah paham, seharusnya aku bertanya terlebih dahulu dia ingin makan apa?"
"Nasi goreng." Tawa Lea terdengar, memegang perutnya yang lapar.
Anggukan kepala Lea terlihat, bersemangat menunggu Juan masak nasi goreng, sambil menunggu Lea membawa cemilan dan minuman yang dibuat oleh Juan.
Bau nasi goreng tercium sangat wangi, Juan memberikan kepada Lea yang sudah tidak sabar lagi menunggu.
"Kak Juan tidak makan?"
"Aku tidak makan malam,"
"Kenapa? takut gendut. Oh iya, saat masih kecil Kak Juan memang sedikit gendut, tapi mengemaskan." Tawa kecil Lea terdengar mengunyah masakan pertama Juan.
Sendok nasi goreng Lea diarahkan kepada Juan memintanya mencicipi masakan buatannya sendiri.
"Coba, ini nasi goreng terenak." Lea menyuapi Juan yang mengunyah makanan sambil tersenyum baru mengetahui jika masakan lumayan enak.
"Enak,"
__ADS_1
"Ini enak karena Lea yang menyuapi, jika tidak mana mungkin senikmat ini." Senyuman Lea terlihat menatap Juan yang tersenyum manis.
Keduanya duduk berdua sambil mengobrol santai, menikmati indahnya bulan dan bintang.
Juan juga menceritakan jika Imel tidak secerdas Lea, dia tidak mampu menguasai materi pelajaran karena hanya mengandalkan kemewahan.
Bagi Imel segalanya bisa di dapatkan dengan memiliki banyak uang, banyak orang yang mendekatinya karena bermandikan kemewahan.
"Kak Juan sangat memperhatikan Imel,"
"Itu bukan perhatian, aku bisa menembak karakter seseorang melalui pandangan,"
Helaan napas Lea terdengar, bisa melihat karakter, tapi tidak menyadari perasaan. Juan tidak peka sama sekali.
"Berapa lama lagi kalian bersama? tidak sekalian tidur satu kamar jadi bisa mengobrol sampai pagi." Ai menguap lebar, kembali ke kamarnya jika tahu Lea bersama Juan tidak mungkin dia memutuskan mencari.
Aira mengkhawatirkan Lea pergi dari rumah untuk menemui Imel, padahal Ai tahu jika Imel berada di bar sedang berpesta untuk merayakan bisnis ilegalnya.
Ai tidak ingin banyak ikut campur, tapi Imel yang sengaja melibatkan dirinya. Sebelum masalah dengan Imel selesai, hidup Ai belum bisa tenang.
"Kenapa kamu mencari aku? Imel sedang berpesta merayakan sesuatu, kira-kira apa?" Lea tiduran di samping Aira, menatap lampu penuh tanda tanya.
"Dia melakukan pencucian uang dengan beberapa pejabat, rugi karena YN entertainment membuat Imel mencari jalan baru." Ai yakin jika Imel melanjutkan pedagang para wanita.
"Kenapa kamu berpikir seburuk itu Ai?"
"Kekayaan Nenek Taher anggap saja habis, tapi kekayaan Imel tetap aman karena sejak awal bukan kekayaan nenek Taher yang diinginkan." Ai memejamkan matanya, berharap dugaannya salah.
Mata Lea juga terpejam, berharap dugaan Ai memang salah. Hati Lea merasa bahagia karena bisa makan berdua dengan Juan.
Pelukan Lea erat, tersenyum lebar dalam keadaan mata tertutup. Aira menyingkirkan tangan Lea yang ada di pinggangnya.
"Aku bukan Kak Juan, jangan peluk aku." Ai memberikan guling untuk Lea yang tetap saja ingin tidur memeluk.
Panggilan di ponsel Aira masuk, nomor tidak dikenali. Ai mematikan panggilan karena tubuhnya lelah dan mata Nya mengantuk.
Pesan masuk mengancam Aira untuk berhenti mencari informasi, jika tidak kepopulerannya akan segera berakhir.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira