SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERTARUNG


__ADS_3

Di dalam kamarnya Aira masih memikirkan soal Hairin, kepulangan Angga juga tidak Aira sadari.


"Ada apa sayang, perut kamu sakit?" tanya Angga yang mengkhawatirkan istrinya sudah beberapa hari suka melamun.


Perut Aira juga sudah membuncit terlihat sesuai anjuran dokter, Angga sangat suka melihat perut istrinya.


"Ayang, Ai ke rumah Kak Tika dulu, ada urusan." Aira langsung lompat dari atas tempat tidur berlari kencang.


Jantung Angga serasa berhenti berdetak, wajahnya langsung pucat melihat tingkah laku Aira yang terjun dari atas tempat tidur sesuka hatinya, tidak memikirkan anak yang ada dalam perutnya.


"Astaghfirullah Al azim, Aira." Angga langsung keluar mengejar istrinya yang lari-larian.


Mendengar teriakkan suaminya barulah Ai berhenti, tatapan Angga tajam meminta Ai berhenti bergerak.


"Kamu kenapa lari-larian, terjun dari atas tempat tidur? bisa tidak berhati-hati, sudah tahu sedang hamil. Jika jatuh, terpeleset bagaimana?" tanya Angga serius ke arah istrinya yang nampak kaget.


Tangisan Aira langsung terdengar sangat besar, air matanya membanjiri pipi. Perasaan Aira sangat sedih dimarah oleh suaminya.


"Ayang tidak boleh marah, Aira tidak salah." Kedua tangan Ai terentang meminta dipeluk.


"Aku tidak marah Ai, tapi memberikan peringatan apa yang kamu lakukan berbahaya. Aku mencemaskan kamu baby yang ada diperut." Angga bicara dengan nada pelan mencoba membuat istrinya paham jika betapa bahayanya lompat-lompat.


"Ayang lebih sayang anak ini, tidak sayang Aira lagi." Tangan Ai memukul perutnya membuat Angga semakin panik.


Dari belakang kepala Aira didorong, Tika memarahi Aira yang memukul perutnya. Apa yang Angga khawatirkan benar, jika Ai terluka maka akan melukai anaknya.


"Jika ditegur jangan nangis, dasar cengeng." Tika memicingkan matanya.


"Ayang, Kak Tika nakal." Aira memeluk suaminya sambil menangis sesenggukan.


Tangan Angga mengusap lembut punggung istrinya, meminta maaf karena sudah membuatnya menangis.


Kepala Ai mengangguk, meminta maaf juga dan akan berhati-hati. Dia tidak akan lompat-lompat dan lari lagi.


"Kak Tika, tunggu Aira." Ai menatap Tika yang berjalan pulang ke rumahnya.


Senyuman Aira terlihat, berjalan dengan sangat pelan sampai Tika geleng-geleng melihat langkah Ai seukuran langkah Andra Andri yang sangat kecil.


"Berjalan pelan tidak harus selambat siput," gumam Angga sambil menatap istrinya yang memeluk lengan kakaknya untuk berjalan bersama.

__ADS_1


Sepanjang jalan Tika menatap sinis, dia tahu jika Ria sudah bertingkah manis pasti ada maunya.


"Ada apa?"


"Boleh minta es krim?"


Kepala Tika mengangguk, mengizinkan Aira memakan apapun yang dia inginkan tanpa harus menahan diri apalagi tubuh Ai masih tetap kurus dan bagus.


"Setelah sadar hamil baru terlihat perut kamu, Kak Tika rasa dia perempuan," ujar Tika mengusap perut Adiknya yang membuncit.


"Aira juga merasa begitu, tapi dia sangat pemalas di dalam sana. Selain suka diet, suka tidur juga." Tawa Aira terdengar karena anaknya mirip dirinya yang suka diet demi tubuh ideal.


Suara salam terdengar, Isel melangkah masuk menatap Tika. Di belakang Isel ada Shin yang langsung duduk menatap Aira yang menikmati es krimnya.


"Ada masalah apa ini?"


"Kak Tika, ayo kita bertarung," pinta Isel dengan penuh keyakinan.


"Jangan Tika, dia harus memberikan alasannya." Shin juga mendapatkan penawaran yang sama, dia bersedia menerima asalkan ada alasan masuk akal.


Terpaksa Isel menceritakan masalahnya, Shin langsung peka dengan perasaan Isel, tapi memilih diam karena hal yang mustahil pikirannya benar.


"Kak Tika, boleh minta lima lagi?" tanya Aira menujuk es krim.


"Tidak boleh, nanti kamu batuk, sakit perut." Helaan napas Tika terlihat, akhirnya mengangguk saat jadi Aira berkurang menjadi dua.


Di halaman belakang Aira tercengang, melihat pertarungan sengit antara Mora dan Mira. Keduanya sama-sama kuat, dan tidak ingin mengalah.


Isel juga sama kagetnya melihat kemampuan bela diri anak sepuluh tahun yang sangat kuat, tendangan dan pukulan bertenaga membuat Isel kagum.


"Sudah lebih dari satu jam belum ada yang menyerah?" Tika meminta kedua putrinya berhenti untuk beristirahat lima belas menit untuk minum dan setelahnya mereka harus mengalahkan Isel.


"Kenapa lawannya anak kecil?" Isel merasa terhina.


"Jangan remehkan kita Aunty," ujar Mira yang sudah duduk meminum air.


"Jika kalian berdua berhasil mengalahkan Aunty Isel, Mama akan memberikan tiket bioskop, dan kalian boleh mengikuti lomba bertarung. Satu lagi kalian memiliki waktu satu minggu libur sekolah dan bisa menginap di villa." Tika menatap keduanya yang saling pandang.


"Ada lagi Ma, kita menginginkan mobil balapan yang akan dilaksanakan satu bulan lagi, kita bisa ikut meksipun di bawah umur karena perlombaan khusus anak-anak." Mora menujukkan banner balapan untuk sekumpulan anak bangsawan.

__ADS_1


"Mira juga ingin balapan ini." Mira menujukkan motor besar khusus anak-anak yang diadakan di pikir pantai.


"Kalian berdua ingin membuat aku bangkrut?" Tika melihat harga barang yang diinginkan.


Kepala Shin menggeleng, mereka bisa diceraikan jika sampai menyetujuinya karena terlalu berbahaya.


Kepala twins beda rahim menggeleng, jika tidak bisa dituruti keduanya, maka setidaknya mereka bisa mengikuti balapan mobil.


"Setujui saja Kak, lagian Isel yang akan malu jika kalah dari dua anak berusia sepuluh tahun. Harga mati Xel," teriak Aira menyemangati Isel terdengar meminta Isel maju.


"Aku tidak tega melakukannya," tolak Isel tidak ingin lanjut.


Mata Tika memicing, Isel harus mencoba mengalahkan keduanya. Mora Mira terlatih, selain ada Shin dan Tika keduanya juga berlatih dengan Gemal langsung.


Dikarenakan keduanya anak perempuan pertama, tidak ada yang akan menjaga, tetapi harus menjaga karena memiliki Adik.


"Jangan kasihan kepadanya Sel, hantam keduanya sampai tidak bisa bangkit. Jika kamu berhasil menjatuhkan salah satu sampai tidak bangkit, aku lawan kamu." Shin duduk santai menatap dua kembar yang duduk tenang menikmati cemilan sambil saling menjahili.


Isel terdiam sesaat, akhirnya mengangguk setuju, Isel penasaran dengan kemampuan si kembar.


"Sudah siap belum Aunty?" tanya Mira tersenyum manis.


Belum sempat Isel menyetujui, Mora sudah maju lebih dulu menyerang Isel dengan gerakan cepat, sedangkan Mira masih duduk menikmati.


Mata Mira memincing, langsung maju menarik tangan Mora yang melayangkan tendangan kepada Isel sampai tubuh Isel terhentak duduk.


Es krim yang dipegang oleh Aira langsung jatuh, kaget melihat Isel diserang secara membabi-buta.


"Jangan kasihan Isel, serang saja," teriak Tika sangat kuat.


"Jika kamu tidak melawan, maka kamu selain malu juga akan tumbang." Shin menatap tajam karena Isel ragu menyerang.


"Maafkan Aunty jika kalian terluka!" seru Isel yang tidak ragu lagi menjatuhkan keduanya sampai melangkah mundur berkali-kali.


Tubuh Mira terpental, tapi langsung bangkit lagi, begitupun dengan Mora yang terjungkal mengeluarkan darah dari hidungnya.


Ai hanya bisa menganga kagum, merasa ada yang bergerak di perutnya. Pertama kali bisa ada getaran dari anaknya yang selama ini tenang.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2