SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

Suara Isel meringis terdengar, Dean yang sedang tidur langsung bangun karena kaget saat tahu istrinya meringis, berpikir perut Isel sakit.


"Ada apa sayang?" Dean menatap Isel yang tidak tidur, tapi asik menonton film di handphonenya.


Senyuman Isel terlihat, menatap wajah suaminya yang terlihat cemberut. Tawa Isel terdengar memeluk erat suaminya karena terbangun setelah dikejutkan.


Kepala Dean geleng-geleng ulah istrinya yang tidak suka tidur malam, dan siangnya susah bangun.


"Kenapa tidak tidur?"


"Maaf, Isel ganggu tidur Abi." Kecupan mendarat di bibir, Isel memeluk erat suaminya.


Kedua tangan Delvan juga memeluk erat, mengecup kening istrinya karena tubuh kedua keduanya terhalangi oleh perut.


"Ayo tidur, katanya besok mau ke rumah sakit ...."


"Kantor polisi," teriakkan Isel terdengar.


Tawa Dean pecah memeluk istri kecilnya yang marah hanya karena Dean salah sebut tempat, mata masih mengantuk melihat istrinya yang meringis hanya karena menonton film.


Kesadaran Dean belum pulih sepenuhnya, tapi istrinya masih sadar karena belum tidur sama sekali.


"Bi, buatkan ramen," pinta Isel manja.


Tangan Dean langsung hormat, melangkah turun dari atas ranjang. Dean berjalan ke arah dapur sedangkan Isel menunggu di ruang tamu sambil menonton.


Tidak lama Dean masak membawa satu mangkok besar ramen dan empat piring kecil untuk makan.


Senyuman tiga wanita terlihat, Dean sudah menyangka pasti dua wanita hamil yang rumahnya ada di depan akan datang.


"Apa kalian berdua ini tidak pernah tidur malam?" Dean meletakkan piring di depan Aira dan Lea.


"Telurnya mana?" Lea meminta telur setengah matang.


Senyuman Ai terlihat melihat telurnya yang matang sudah ada di atas meja, sedangkan Isel telurnya harus dibelah dua.


Empat orang duduk diam berdoa sebelum makan, Dean juga menarik napas panjang karena melihat ketiga wanita makan dengan lahap.


"Buka mata kamu Aira, jangan makan sambil tidur," tegur Dean.


Mata Aira terbuka, meletakkan piringnya mengambil minum dan lanjut tidur di sofa. Tidak peduli dengan teguran Dean.

__ADS_1


Kedua tangan Lea bertepuk tangan merasa puas karena masakan Dean selalu enak. Lea sangat menyukainya.


"Sel, besok kamu ingin ke kantor polisi, Lea ikut."


"Mau apa?"


"Mau buat laporan, soalnya tadi aku lihat ada mahasiswi yang mendekati Juan, dia genit sekali." Bibir Lea manyun karena kesal.


"Siapa yang mau kamu laporkan?" minuman hangat diletakkan oleh Dean dihadapan Lea.


Minuman Isel menyembur begitupun dengan Dean yang tersentak kaget karena yang ingin dilaporkan oleh Lea ternyata suaminya sendiri, dia ingin Juan mengakui kesalahannya karena sudah memberikan ruang untuk wanita lain.


Kepala Dean geleng-geleng, memijit pelipisnya yang terasa sakit. Lea tidak menggunakan akal sehat, namanya juga memberikan materi wajar saja banyak yang kenal.


"Kamu sudah ada anak dua Lea, sebentar lagi tiba. Sesekali berpikir dengan normal, jangan asal-asalan. Mengertilah pekerjaan Juan juga," tegur Dean meminta Lea tidak berpikir negatif kepada suaminya.


Tangan Lea menghitung jarinya, menujukkan kepada Dean ada lima jari. Juan sudah berkomunikasi dengan mahasiswi lebih dari lima kali.


"Siapa nama mahasiswi?" Isel juga ikut penasaran.


"Namanya, Silaudin," jawab Lea polos.


"Itu Pak Udin goblok, dia orang yang menghandle pekerjaan Kak Juan di kampus karena sering kali jawablah benturan dengan rumah sakit." Tendangan Aira melayang ke arah paha Lea membuatnya menangis.


Kesadaran Aira bangkit, langsung duduk menatap Isel yang ingin pergi ke kantor polisi, seandainya tidak ada wartawan pasti Ai juga ikut.


Masalahnya jika sampai ketahuan ada di kantor polisi, bisa hancur reputasi Ai sebagai selebriti.


"Sel, kamu yang tidak jika ...." Kepala Aira menoleh ke arah pintu, tersenyum menatap suaminya yang datang menjemput.


"Pulang sayang," pinta Angga dengan nada lembut.


"Kak, Lea lagi kesal dengan wanita yang bernama Sila itu," rengek Lea meminta perhatian.


"Itu Pak Udin, Lea. Kak Juan masih normal." Ai berjalan sambil memeluk lengan suaminya, begitupun dengan Lea yang memeluk lengan sebelahnya.


Angga pamit pulang, Dean hanya mengangguk karena dua bumil hanya datang untuk makan, piring saja tidak dibereskan.


"Hati-hati Ayang Blackat," ujar Isel yang rindu masa dirinya tergila-gila dengan Blackat sebagai idola.


Kedua tangan Dean sudah melingkar di dada, menatap tajam istrinya yang mengangumi kakaknya sendiri, bahkan selalu memujinya.

__ADS_1


Isel terseyum melihat ekspresi suaminya yang sangat cemburuan padahal seseorang yang didekati Kakak iparnya.


"Malam ini biar Isel yang cuci piring." Isel membawa bekas makan ke dapur, Dean mengikutinya dari belakang.


Tawa Isel terdengar karena Dean marah, sikap cemburunya semakin parah. Isel yang jahil punya suami yang cemburuan.


"Kenapa, Isel memang ...."


"Tidak ingin mendengarnya, bisa tidak kamu hanya mengagumi aku?"


"Siap bos, Isel akan menempel poster Abi di jalanan sebagai lelaki yang dicintai.


Kening Dean berkerut, langsung menggeleng. JiKa poster Angga yang ada di jalanan wajar saja dia memang aktris, sedangkan Dean tidak ada yang kenal.


Bibir Isel manyun suaminya sangat aneh, tapi selalu mengemaskan. Perasaan Isel tidak bisa dirinya utarakan dengan kata-kata.


Tubuh Isel langsung digendong untuk kembali ke tempat tidur, mata Dean sangat mengantuk karena selalu bangun tengah malam.


Tatapan Dean tajam ke arah ponselnya, ada sepuluh panggilan. Dean langsung menghubungi balik dan sangat terkejut mendapatkan kabar jika Brayen melarikan diri, tapi hal lebih mengejutkan dia mati bunuh diri.


"Ada apa Kak?" Isel mengambil ponselnya dapat pesan dari Vio jika Brayen mati bunuh diri.


Tangan Isel gemetaran, menatap suaminya yang nampak kaget. Dean tidak habis pikir alasan Brayen melarikan diri, lalu mati.


"Apa yakin itu bunuh diri?" tanya Dean kepada kepolisian.


"Benar Pak, dia datang rumah sakit menemui Laura, tapi setelah naik ke gedung tinggi langsung bunuh diri, tanpa sempat dihentikan." Kepolisian meminta Dean datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi korban.


Panggilan mati, apa yang dibicarakan dengan Laura sehingga akhirnya memutuskan untuk mati.


"Apa Laura memintanya mati?" tanya Dean kepada Isel.


"Tidak mungkin, pasti ada yang dia sesali, Laura bukan orang yang kejam seperti Weni, Laura mirip Isel, baik hati."


Bibir atas Dean terangkat, Isel memuji dirinya sendiri padahal dia memiliki sikap yang sangat kejam, berarti ada ucapan Laura yang membuatnya ingin mati.


Kepala Dean dan Isel tertunduk, teriakkan Isel terdengar karena perutnya ditendang oleh anaknya sampai terguling di atas tempat tidur.


"Anak satu ini, tunggu saja kamu lahir. Kita main banting." Isel mengusap perutnya yang keras karena anaknya bergerak aktif sehingga membuat Isel tidak bisa tidur.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


Maaf ya novel ini sedikit ada kendala, akan aku selesaikan bulan depan. Mohon bersabar untuk updatenya


__ADS_2