SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
UNGKAPAN CINTA


__ADS_3

Langkah Dean keluar dari persembunyiannya, melihat Isel yang berlari naik lift sangat terburu-buru karena dia juga sempat melihat Dean muncul.


"Bagaimana kabar kamu Sel, apa tidak lelah membuat banyak orang khawatir?" Dean berjalan menuju lift untuk masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya Isel merasa deg-degan karena Dean bisa tinggal satu tempat dengannya.


"Kenapa Uncle di sini, apa dia tahu Isel di sini, berati Uncle mencemaskan Isel?" tubuh Isel terguling, berguling-guling melilit tubuhnya menggunakan selimut sambil tersenyum manis.


Perasaan takut Isel langsung berubah happy karena pikirannya tidak ada yang peduli salah besar, bukti Dean datang secara langsung untuk menjenguknya.


Mata Isel menatap layar ponsel berharap ada panggilan masuk, tapi satu sampai dua jam tidak ada panggilan sama sekali.


Sampai matahari terbit, Isel sudah tumbang tertidur karena harapan Dean menghubunginya tidak terkabul sama sekali.


"Jam berapa ini, kejam sekali tidak ada panggilan," teriakan Isel terdengar memanggil nama Dean.


Mata Dean terbelalak saat keluar dari kamarnya, ada suara memanggilnya. Terdengar juga suara cacian membuat Dean tersenyum karena mulut Isel tidak pernah terjaga.


"Uncle sialan!" Isel membuka pintu dan melihat Dean masih kaget di depan kamarnya.


Kedua alis Dean terangkat melihat Isel yang langsung banting pintu, tidak tahu jika kamar Dean ada di depannya.


Kedua tangan Isel meremas rambutnya, merasa dirinya begitu bodoh karena tidak bisa menjaga ucapan sama sekali, dia begitu merindukan Dean sampai lupa tempat untuk mengutuk.


"Keluarlah, kita sarapan bersama di bawah." Ketukan Dean terdengar meminta Isel berhenti menghindarinya karena bukan solusi.


Hembusan napas Isel terdengar, langsung merapikan rambutnya yaang mengembang mirip singa, berganti baju meskipun belum mandi.


"Haaa hawa aku busuk tidak, mungkin harus gosok gigi dulu." Isel bergegas ke kamar mandi menggosok sebentar baru tersenyum manis membuka pintu kamarnya.


Kepala Isel celingak-celinguk tidak melihat keberadaan Dean sama sekali, dia tidak mneunggu Isel sama sekali, sia-sia Isel berpenampilan cantik.


"Uncle tua tidak peka, sabar Sel masih pagi. Jangan sampai ada kerutan di wajah." Isel berjalan ke arah lift melihat Dean yang bersandar santai sambil membaca berkas yang dibawanya.


Senyuman Isel terlihat masuk ke dalam lift diikuti oleh Dean yang masih fokus membaca, sesekali melirik Isel yang menggunakan bando dengan rambut panjangnya, baju yang Isel gunakan juga nampak feminim.


"Kamu belum mandi, tapi sudah make up?"

__ADS_1


"Memangnya ada aturan mandi dulu baru make up?" tanya Isel dengan nada sinis.


Senyuman Dean terlihat, melangkah keluar dari lift diikuti oleh Isel yang berjalan sangat anggun layaknya model profesional.


"Uncle, Isel sudah lama tidak makan daging, beliin." Senyum Isel nampak langsung duduk untuk sarapan.


Dean tersenyum melihat koki, meminta makanan kesukaan Isel jika makan di restoran mewah.


Beberapa orang memperhatikan Isel yang nampak cantik, gadis muda yang memiliki pesona.


"Kamu tidak risih dengan orang-orang yang memperhatikan?"


Kepala Isel masih fokus ke arah makanan, tidak peduli dengan apapun yang dibicarakan Dean. Matanya fokus di berkas yang dibaca, tapi matanya bisa melihat sekeliling.


Mulut Isel penuh mengunyah makanan, tidak peduli siapapun yang memperhatikan Isel tetap makan dengan lahap.


Tangan Dean menahan rambut Isel, merapikan ke arah belakang telinga. Rambut Isel sudah terlalu panjang, membuatnya terganggu.


"Kenapa kamu tidak pernah potong rambut lagi?"


Tanpa menolak, Dean merapikan rambut dari belakang. Jantung Isel berdegup kencang, ingin rasanya memeluk Dean, tapi Isel sadar mendapatkan Dean tidak bisa dengan paksaan.


Jika bisa terus bersama maka Isel siap dengan perasaan Dean yang tetap menganggapnya keponakan.


"Uncle, bagaimana kabar Mama dan Papa?"


"Kamu punya ponsel, hubungi sendiri. Mama kamu tidak pernah punya selera makan sejak kamu pergi. Jangan egois mengabaikan perasaan orang tua.


Kepala Aira mendongak ke atas, melihat ke arah Dean yang meminta Isel menghubungi orangtuanya agar perasaan mereka tenang.


"Isel serius Uncle, apa perasaan Isel ini tidak pantas?"


"Bukan tidak pantas, Uncle paham kita tidak sedarah namun demi menjaga perasaan keluarga, maka mengalah saja." Dean duduk di samping Isel menutupi pandangan beberapa orang yang memperhatikan.


Mata Isel menatap tajam, dia tidak akan menyerah. Tidak ada sejarahnya seorang Isel mengalah dengan tuntutan keluarga.


"Jika Uncle menerima, maka tidak ada yang sulit, mereka yang akan mengalah," ucap Isel mengejutkan Dean.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku tidak bisa? kamu tahu jika Uncle sangat menyayangi kamu, lebih besar dari sayang kepada diri sendiri." Nada bicara Dean tegas, meminta Isel memahami perasaanya.


Wajah sedih Isel terlihat, dirinya merasakan patah hati jika Dean menolak perasaanya. Dean bukan hanya tidak menepati janjinya, namun membuat hati Isel semakin sakit.


"Apapun yang kamu inginkan pasti Uncle berikan, tapi jangan sampai menyangkut perasaan. Uncle harus bagaimana menghadapi orang tua kamu?" kedua tangan Dean mengacak rambutnya merasa binggung dengan perasaan Isel.


Senyuman Isel terlihat, mengusap wajah Dean sangat lembut. Isel tidak meminta Dean membalas perasaannya, cukup hubungan mereka tetap baik.


"Uncle, abaikan saja perasaan Isel, tapi Uncle cukup tahu jika Isel tidak pernah menganggap kita keluarga, tapi Isel mencintai Uncle." Isel langsung tertawa melihat Dean membenturkan kepalanya di meja makan karena kata mencintai begitu mengerikan bagi Dean.


"Jangan pernah katakan itu lagi, sakit kepala Uncle." Dean menghentikan makannya kehilangan selera.


Mulut Isel penuh kembali berisikan makanan, merasa lucu melihat ekspresi Dean yang sangat mengemaskan.


Panggilan di ponsel Isel terlihat, mata Dean terbelalak melihat nama manager Bar, Isel langsung membalik layar ponselnya mengabaikan begitu saja.


"Bar, ada apa dengan Bar?"


Kepala Isel menggeleng, tidak ingin mengatakan apapun karena jika Dean tahu pasti marah.


"Uncle pergi dulu ada pekerjaan di sini, kamu jangan kabur lagi. Nanti malam kita makan di luar." Dean langsung bergegas pergi setelah meninggalkan black card untuk Isel.


Isel mengulum bibirnya, merasa cemas jika malam Isel harus bekerja di Bar, dan pastinya akan pulang hampir subuh.


Jika Dean tahu pasti langsung mengamuk, Isel binggung harus melakukan apa? menolak pekerjaan juga tidak mungkin karena memiliki kontrak.


"Nona cantik, ini ada pesan dari meja ...."


Senyuman Isel terlihat, langsung bergegas pergi ke kamarnya karena harus tidur siang karena dirinya lelah bekerja.


Dari jauh Isel melihat Bian yang sedang bicara dengan Dean, cepat Isel berlari karena keadaan akan semakin kacau saat tahu Dean sedang menyelidiki bisnis Bian yang dinyatakan ilegal.


Keduanya bersebrangan, Bian juga pasti sangat mengenal Dean karena tidak terkejut sama sekali melihatnya datang.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2