SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DUA UNCLE


__ADS_3

Mommy melihat Angga yang sedang makan sendirian, dia tidak meminta bantuan suster mengurus dirinya sendiri.


"Mommy saja yang menyuapi, makanan kesukaan kamu apa?" Anggun mengarahkan makanan ke mulut.


Angga langsung memakan yang Mommy Anggun berikan, senyuman Angga terlihat. Seandainya ibu yang melahirkannya sebaik Anggun pasti Angga sangat beruntung.


"Jangan berpikir kamu anak yang tidak beruntung, meksipun Mommy tidak melahirkan kamu, tapi kasih sayang Mommy sama rata." Senyuman Mommy Anggun terlihat bisa memahami pikiran Angga.


"Mommy bisa membaca pikiran?"


"Wajah tampan kamu sudah menjelaskan semuanya, Mommy bisa tahu hanya melihat mata karena itu Mommy tahu jika kamu anak yang baik." Tawa kecil Anggun terlihat meminta Angga menganga dirinya layaknya Ibu tanpa merasa canggung ataupun sungkan.


Kepala Angga mengangguk, mencium tangan Anggun mengucapkan terima kasih karena Mommy sangat baik. Hati Angga sangat terharu dengan Mommy dan Dean yang memiliki hati yang sangat tulus.


"Habiskan makanan kamu, Daddy sedang mengurus kepulangan kita. Kata Dean pemberitahuan soal keadaan kamu sudah tersebar." Wajah Mommy Anggun nampak sedih.


Kedua tangan Angga menggenggam, dia tidak ingin kembali. Angga mengucapkan terima kasih karena keluarga Dean menerimanya namun ada hal lain yang membuat Angga berat untuk pulang.


"Mommy, Angga ingin jujur selain soal masalah siapa aku, ada hal lain. Jujur Angga ikhlas, dunia akhirat ikhlas karena Dean memang lelaki yang pantas. Tetapi masih berat hati Angga melihat Aira menikah." Kepala Angga tertunduk, pertama kalinya dia mengutarakan pikirannya kepada orang lain yang baru dikenal.


"Aira dijodohkan dengan putranya Daddy,"


"Angga tahu,"


"Lalu kenapa kecewa? Dean kita masukkan saja dalam karung dia harus mengalah kepada kakaknya. Aira mencintai putra pertama bukan kedua." Senyuman Mommy terlihat meminta Angga harus pulang.


Teriakan Dean terdengar, memeluk Mommynya melarang mengatakan apapun kepada Angga. Mata Dean melotot ke arah Mommynya sambil menggeleng pelan.


Senyuman Mommy terlihat, Dean jahilnya tidak ada lawan. Dia mengerjai Angga yang ternyata tidak tahu jika pertunangan batal.


"Dean tidak akan menyerahkan Aira begitu saja,"


"Pertunangan kalian batal ya?"


"Siapa yang mengatakannya?"


"Sudah, Mommy keluar dulu. Kalian selesaikan sendiri, tidak ingin ikut campur." Mommy langsung melangkah keluar meninggalkan kedua putranya yang memperebutkan satu wanita.


Kening Angga berkerut, tersenyum kecil karena Dean dan Aira membatalkan hubungan mereka.


"Kapan kita pulang? aku ingin secepatnya pulang?" Angga menggoda Dean ingin segera pulang menemui kekasihnya.

__ADS_1


Tawa Dean terdengar, mengambil makanan di atas meja. Akhirnya jujur sudah membatalkan pertunangan karena mata Aira menyembunyikan kesedihan, Dean tidak tega jika sahabatnya bersedih.


"Bagaimana hubungan kamu dan Isel? Kak Angga rasa kalian renggang,"


Kepala Dean mengangguk, dia binggung cara membujuk Isel karena pertama kalinya mereka bertengkar.


Isel marah karena didorong saat Dean membela Aira, biasanya juga mereka main pukul dan jambak tidak pernah Isel marah sampai pergi tanpa pamitan.


"Kamu membatalkan pertunangan karena Isel melarang?"


"Tidak juga, tapi mungkin iya juga." Dean menggaruk kepalanya yang gatal.


Perlahan Angga turun dari atas ranjang, berjalan ke arah kamar mandi. Dean mengikutinya karena merasa khawatir menunggu di depan pintu.


Panggilan masuk di ponsel Dean, Aira melakukan panggilan video meminta melihat Angga.


"Kak, Dean boleh masuk? soalnya Aira ingin melihat kamu di kamar mandi." Dean tertawa lepas, panggilan langsung mati karena Aira malu.


Dean tidak punya otak, Ai sudah menjaga gengsi dari rasa penasarannya, tapi Dean memberitahu jika dirinya ingin melihat.


"Aira, Aira kamu memang mirip Mami, tidak bisa menahan diri." Dean menatap kakaknya keluar dengan senyuman lebar.


Pintu kamar terbuka, Daddy masuk bersama Mommy, Diana dan Hendrik. Daddy sudah menyiapkan puluhan pengawal untuk menjaga Angga saat pulang.


Dean menolak keputusan Angga, dia pulang bersama Dean dan Diana. Tim akan menemaninya.


"Dean tidak akan dicurigai karena pengacara, begitupun dengan Kak Diana sebagai Dokter pribadi. Simpang siur soal Kak Angga harus kita singkirkan." Dean meminta belasan penjaga agar tidak satupun bisa menyentuh.


"Daddy setuju dengan Dean, kalian berdua dampingi Angga." Daddy meminta Angga duduk dan berhenti membantah.


Diana menyetujui ucapan Dean, Mommy Daddy menunggu di pesawat sedangkan mereka menyusul.


"Angga takut nanti kalian disiarkan di media,"


"Tidak masalah, sekali-kali masuk TV agar Isel mengamuk karena dia juga ingin." Tawa Diana terdengar sangat yakin jika Isel akan segera pulang.


Belum selesai Diana tertawa, pintu sudah didobrak. Isel melangkah masuk dengan penampilannya mirip preman.


Berita yang baru saja Isel terima tidak bisa dirinya resapi dengan akal sehat, idola yang sangat Isel cintai ternyata pamannya.


"Kakak katakan pada Isel ini tidak benar, tidak mungkin kita sebenarnya keponakan dan Paman?" Isel menatap wajah Angga dengan sangat dekat.

__ADS_1


"Itu benar, Kak Angga dan Dean kandung, berarti kamu memanggil Kak Angga juga Uncle." Dean tersenyum puas melihat Isel terduduk lemas.


Kepala Isel geleng-geleng tidak percaya, menanyakan kepada Kakek neneknya kebenaran. Isel masih tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar.


"Benar sayang, seharusnya kamu bahagia," ucap Mommy Anggun.


"Tidak mau, satu Uncle saja menyebalkan apalagi dua." Teriakkan Isel terdengar meminta Angga tes ulang.


Tawa Dean terdengar mengejek Isel yang gagal mengejar cinta idolanya, sia-sia saja merawat selama dua tahun pada akhirnya patah hati.


Tangan Dean mengusap kepala Isel, pukulan Isel mendarat meminta Dean menjauhinya. Isel duduk di samping Uncle barunya.


"Rahasia aman, jangan panik." Angga tersenyum melihat Isel yang cemberut.


"Janji ya Kak, Isel pikir kita hanya akan bertemu sebagai idol dan penggemar. Kenapa tiba-tiba menjadi keluarga?"


"Uncle juga kaget sampai malas hidup,"


"Astaghfirullah Al azim, ya Allah. Tidak boleh bicara seperti itu," Anggun tersentak kaget tidak suka dengan ucapan Angga.


"Sebelumnya Tante, Mommy bukan sekarang." Senyuman Angga terlihat menggenggam tangan Mommy Anggun.


"Jangan panggil Tante,"


Kepala Angga mengangguk, memeluk Mommy Anggun yang sampai panik mendengar ucapannya yang bercanda.


Tangan Isel langsung menjambak Angga, teriakan Angga terdengar Isel memeluk Neneknya tidak mengizinkan disentuh.


"Isel sakit, kenapa kamu menyerang,"


"Astaga jika begini harta warisan Isel terbagi lagi, kenapa menambah anak, Nenda." Suara Isel merengek ingin menangis terdengar.


Kepala Anggun menggeleng, gemes melihat wanita kesayangannya yang tidak rela kasih sayang terbagi-bagi.


Dean memeluk Mommynya, mendorong Isel menjauh. Keduanya memeluk bersama tidak ingin saling mengalah.


"Nenda milik Isel,"


"Kamu hanya cucu, warisan utama selalu ada di anak laki-laki,"


"Ya sudah, Isel bisa menjadi Putri, Uncle juga bukan Uncle kandung." Tatapan Isel melihat ke arah Angga yang tersentak kaget.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2