
Pelukan Aira erat ke tubuh suaminya yang masih terlelap tidur, satu minggu sudah hilangnya Wenda. Dia tidak berani lagi muncul ke publik dan memilih menghilang dari dunia entertainment seperti sebelumnya.
"Kenapa kamu tersenyum, Ai?" mata Angga terbuka sebelah melihat istrinya yang menikmati wajahnya.
"Ai bahagia saja, kita lebih banyak waku bersama, Aira juga bebas bisa kerja bisa juga tidak. Rasanya jiwa malas Ai sedang meronta-ronta." Senyuman Aira terlihat, menyimpan kepalanya di dalam pelukan suaminya.
"Sayang, aku sedang binggung di mana Wenda, awalnya dia sangat antusias untuk kembali, tapi secara tiba-tiba hilang." Angga mendapatkan laporan dari perusahaan jika kontrak dibatalkan.
Kepala Aira hanya mengangguk, dia juga baru tahu jika Wenda menghilang tanpa ada kabar jelas.
Di dalam hatinya Aira sedang tertawa, dia merasa puas karena Wenda lenyap karena dirinya sudah memberikan peringatan, tapi tidak digubris melainkan ditantang.
Suara panggilan di ponsel Blackat terdengar, Gilang menghubunginya sejak subuh tidak biasanya membuat Angga dan Aira penasaran.
"Ada apa Ayang?" Ai menatap wajah suaminya yang tegang.
Mata Angga tidak berkedip sama sekali, dia kaget saat mendapatkan kabar dari Gilang jika Wenda mengalami kecelakaan dan masih dirawat di rumah sakit.
"Wenda kecelakaan sayang," ujar Angga dengan ekspresinya yang terkejut.
Benarkah Ayang, astaga kasihan sekali." Ai menutup kedua mulutnya meminta Angga mengunjungi Wenda.
Helaan napas Angga terdengar, merasa prihatin dengan keadaan Wenda. Angga meminta Aira menemaninya untuk menjenguk di rumah sakit.
"Pagi-pagi kita ke rumah sakit melihat keadaan Wenda," ujar Angga sambil tersenyum ke arah Istrinya yang hanya mengangguk pelan.
"Kira-kira kita harus membawa apa Ayang, buah, roti, atau bunga kuburan," gumam Aira pelan menatap suaminya ke arah kamar mandi.
"Apa sayang?"
"Tidak ada apa-apa Ayang." Ai turun dari ranjang mengikuti suaminya untuk mandi bersama.
Di dapur Aliya sudah sibuk sendiri, bukan sibuk masak, tapi mengomentari masakan. Al setiap pagi di marah maid karena selalu menganggu, dia tidak bisa masak namun paling berisik.
"Pagi sekali kamu mandinya Ai?"
"Harus Mi, mandi bersama Ayang rasanya ah mantap." Ai langsung duduk di kursinya menyiapkan makan untuk suaminya.
Sindiran asisten rumah tangga terdengar, Aira dan Aliya sama saja tingkahnya. Tidak bisa masak, namun paling pertama makan.
__ADS_1
"Mi, hanya di rumah kita ada maid melarang pemilik rumah makan," sindir Aira, menatap makanan di atas meja.
"Benar sekali, setiap pagi kita di marah," balas Aliya kesal, tapi tetap makan lahap.
"Kalian berdua belajar masak, jika Ibu meninggal kalian ingin makan apa?" maid menatap dua A yang langsung menatapnya.
"Cari asisten baru," jawab Aira dan Aliya bersamaan.
Maid hanya bisa istighfar, dua wanita pengacau dari kecil sampai tua tidak ada yang berubah. Beruntungnya memiliki suami yang sangat luar biasa sabarnya.
"Selamat pagi, sudah makan duluan?" Altha duduk di kursinya tersenyum melihat Angga yang juga turun.
"Hanya mencicipi saja Pi." Ai meletakkan piring suaminya agar segera sarapan.
Senyuman Papi terlihat, berterima kasih karena Aira dan Angga setuju untuk tetap tinggal di rumah bersama mereka.
"Papi pikir kalian juga memilih tinggal di rumah sendiri, sungguh Papi bahagia." Alt mengusap punggung Angga yang mengangguk.
"Siapa saja bisa ada di rumah ini Pi, dikarenakan Aira yang terakhir, maka kita akan menetap. Angga juga senang bisa tetap di sini," ucap Angga dengan suaranya yang pelan.
"Kalian pagi sekali sudah rapi, ada shooting, pemotretan atau iklan, atau ada acara?" Aliya langsung diam saat suaminya menatap tajam karena Al ingin tahu sesuatu yang tidak penting.
Al langsung melihat ke arah Aira, melihat senyuman Putrinya tidak ada dosa sama sekali karena tidak ingat kejahatannya.
"Bersama siapa kamu melakukannya?" bisikkan Aliya sangat pelan.
Kepala Aira menggeleng tidak menangapi ucapan Maminya, dia masih sangat santai mendengarkan cerita suaminya bersama Papi.
"Pasti ada yang mencelakai dia, tidak mungkin menghilang begitu saja,"
"Angga tidak tahu Mi, semoga saja ini memang real kecelakaan tidak ada sangkut-pautnya dengan siapapun." Angga berpikir positif karena segala sesuatu yang terjadi memang sudah yang terbaik.
"Amin, semoga saja ya Ayang tidak melibatkan siapapun, kasihan sekali Wenda. Mami juga harus pikir positif Mi, jangan segala sesuatu dilibatkan dengan orang lain." Lidah Aira terjulur mengejek Maminya yang selalu ingin ikut campur urusan orang.
Aliya langsung berdiri, melewati Aira menjambak kuat rambutnya dengan sangat kuat sampai Aira hampir jatuh dari kursinya.
"Mami!"
"Maafkan Mami nak tidak sengaja." Aliya memeluk kepala Aira membuat teriakan histeris.
__ADS_1
"Mami jahat, Papi lihat Mami menyakiti Aira," rengek Aira meminta pembelaan.
"Aliya tidak sengaja, kenapa Aliya yang disalahkan?" pelukan Al sangat erat kepada suaminya begitupun dengan Aira yang mengadu meminta Papinya memarahi Maminya.
Mata Altha menatap menantunya, meminta Angga bergerak sebelum dua wanita semakin ribut meminta pembelaan.
"Pi, Angga pergi dulu untuk menjenguk Wenda," pamit Angga langsung berdiri dari duduknya.
"Aira ikut, awas saja Mami, Ai tidak pulang dua hari." Ai langsung berlari mengejar suaminya.
"Aliya juga ingin ikut." Bibir Aliya monyong menatap punggung Ai dan Angga.
"Duduk kamu," pinta Altha dengan nada dingin.
Kepala maid yang mengambil piring kotor hanya tersenyum mengejek Aliya yang ditegur suaminya.
Hanya diam seribu bahasa, tidak berani membantah sedikitpun karena takut suaminya menaikkan nada.
Di perjalanan Aira sudah membeli dua keranjang buah, dirinya sangat bersemangat untuk mengunjungi Wenda yang sudah diketahui sedang dirawat.
"Di mana dia dirawat?" Angga menyerahkan dua keranjang kepada Gilang yang tanpa sengaja bertemu dengan Wenda saat dia memeriksakan diri ketika demam.
Aliya berjalan lebih dulu, dia ingin sekali melihat kondisi Wenda setelah satu minggu dirawat, ingin tahu sejauh mana kesombongan masih bertahan.
"Semangat sekali Ai, kamu nampak bahagia?" Angga memicingkan matanya ke arah istrinya.
"Ayang ini suka fitnah, wajah Aira ini sedih dan prihatin. Dia teman lama Ayang, berarti temannya Aira juga." Kepala Aira tertunduk, memperlihat wajahnya yang sedih.
Pintu ruangan terbuka, Wenda membuka matanya melotot karena sangat terkejut melihat kedatangan Aira dan Angga.
"Astaghfirullah Al azim, kamu pasti parah sekali." Ai memeluk Wenda memintanya tutup mulut jika tidak Aira akan membuatnya bisu selamanya.
"Apa kabar Wenda?" tanya Angga begitu lembut.
"Dia nampak ketakutan sayang, pasti kamu sudah melalui hari yang sangat berat." Ai mengusap punggung Wenda, menggenggam erat tangan agar tenang.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1