
Mobil yang Ben kendarai berhenti di rumah kosong yang sepi, dikelilingi hutan yang cukup lebat. Tidak banyak orang yang datang karena masih asri.
"Aira, kita sudah sampai. Kamu pasti membutuhkan tempat yang sepi dan tenang,"
"Kamu yang membutuhkannya karena akan menjadi tempat peristirahatan terakhir." Senyuman Aira terlihat, langsung keluar dari mobil berjalan dengan santai menikmati indahnya pemandangan.
Mata Ben memperhatikan Aira dari ujung kaki sampai ujung rambut, melangkah mendekat ingin memeluk, tapi tangan Aira sudah menahan dadanya.
"Boleh aku meminjam kamera?"
Ben kembali lagi ke mobil membawa kameranya yang biasanya digunakan untuk membuat adegan dewasa.
Tangan Ai meyambut kamera mengecek isinya, Ben juga melihat apa yang Aira lakukan. Menghapus satu-persatu fotonya yang di zoom memperlihatkan bagian sensitif.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Apa kamu buta? aku sedang menghapus foto," jawab Aira santai.
Tawa Ben terdengar, menahan tangan Aira yang sedang memegang kamera. Tatapan Ben tajam meminta Aira berhenti.
"Kamu tahu siapa aku? Putri bungsu keluarga Rahendra. Aku memiliki tiga Kakak, Arjuna, Atika, dan Arjuanda. Apa kamu mengenal salah satu dari mereka? Papi Jenderal bintang empat, sedangkan Mami pengusaha yang sudah masuk pasar dalam dan luar. Apa kamu berpikir aku wanita lemah?" tawa Aira langsung terdengar, kamera langsung menghantam kepala Ben hingga berdarah.
Apa yang Aira sebutkan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh publik, tapi karena Ben sudah mengetahuinya tepaksa Aira harus melenyapkannya.
"Kamu pikir bisa mengalahkan laki-laki?" Ben mengusap darah yang mengalir di keningnya.
Senyuman sinis Aira terlihat, langsung duduk kembali di atas kayu melanjutkan pekerjaannya yang harus menghapus foto dan video.
"Kamu menguji kesabaran aku!" Ben berjalan mengambil kayu untuk memukul kepala Aira.
Belum sempat kayu menghantam kepala sudah lebih dulu ditahan oleh tangan Ai, wajahnya masih tenang terus menghapus foto.
"Perempuan sialan!" emosi Ben tidak terbendung lagi, melayangkan tendangan kuat.
Aira memukulkan kayu yang ada di tangannya sampai Ben teriak histeris kesakitan, teriakannya membuat banyak suara burung.
Kepala Aira menoleh ke samping, merasa ada orang lain yang datang. Bau tubuh seseorang yang sangat Aira kenali.
Kaki Ben langsung bengkak karena pukulan kuat sampai kayu patah, Aira sedang memendam emosinya karena merasa cemburu melihat Black lebih mencintai Isel.
__ADS_1
"Arg ... aku benci pikiran seperti ini, kenapa keegoisan menguasai? dia bukan milik kamu Aira!" Ai teriak-teriak histeris karena tidak bisa memendam amarahnya yang bagaikan kobaran api kematian.
Ben berusaha untuk melarikan diri dari kemarahan Aira, wanita yang dia anggap manis, cantik dan anggun ternyata wanita gila yang memiliki tenaga kuat.
Kamera kamera dilempar ke arah mobil, Aira berlari menarik tangan Ben, sedangkan jendela tertutup.
Kelima jarinya terjepit membuat teriakan histeris kedua kalinya, Aira membuka pintu mobil membiarkan jari yang hebat memotret tubuh wanita.
"Aku akan mematahkan jari-jemari kamu, dan menyolok mata agar buta sekalian. Kamu harus hidup dalam kegelapan." Ai tersenyum sangat manis meminta Ben mengagumi kecantikan.
"Lepaskan aku Aira, aku minta maaf dan berjanji akan menjauhi kamu," mohon Ben dengan wajah ketakutan.
Pukulan tangan Aira mendarat, sebelah mata Ben terpejam. Ai tidak meminta ucapan maaf, dia hanya menginginkan pujian.
Tangisan Ben terdengar, Aira menarik rambutnya keluar dari mobil. Melihat wajah Ben emosi Aira semakin meningkat.
Seseorang berdiri sambil menggelengkan kepalanya, Aira memang wanita gila. Jika ada yang membuat kecewa pasti akan mengamuk juga mencari sasaran.
"Ini namanya penyiksaan? jika publik sampai tahu maka masa depan kamu hancur?"
"Benarkah, maka aku akan menunjuk penyiksaan yang lebih kejam lagi." Ai tersenyum manis melepaskan kepala Ben, membersihkan tangannya.
Pukulan dan tendangan Aira menghantam sampai terpental, tatapan Aira melihat ke arah Ben yang sudah menghilang karena ketakutan.
"Dia hanya orang biasa, bukan lawan kamu Adriana Aira Rahendra. Dia bisa mengalami stres karena tidak memiliki kepercayaan." Isel langsung bangkit sambil memegang perutnya yang sakit.
"Dimana dia pergi?" Ai masih melihat mobil, namun tidak menemukan keberadaan Ben.
Isel melemparkan sesuatu untuk membakar mobil, menghilang jejak jika mereka sudah melakukan kekerasan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Tatapan Isel tenang, dia awalnya ada di Bar. Tetapi kekasihnya meminta pulang, maka terpaksa Isel pulang. Tanpa sengaja, Isel melacak keberadaan Aira yang katanya memutuskan kembali ke hotel, tapi melewati jalur yang berlawanan.
"Kamu terlalu banyak ikut campur,"
"Jika kita bukan saudara mungkin aku tidak peduli. Kakak Ria, Isel sebenarnya Isel sayang kepada Kakak Ria." Tawa Isel langsung lepas memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa, dan juga mendapatkan tendangan maut.
"Aku tidak sayang kamu," jawab Ai kesal melihat mobil kebakaran.
__ADS_1
Ai mengambil kembali kamera, mengecek isinya dan menemukan rekaman video Ben bersama Silvia. Dugaan Gion benar masih ada satu penghalang yang harus Aira singkirkan.
"Silvia ini bukannya dulu masuk penjara?"
"Sudah bebas, daripada kamu mengacau di sini lebih baik cari cara untuk pulang." Ai menatap tajam apapun yang dilakukan selalu salah dimatanya.
Kening Isel berkerut, melangkah pergi menuju mobilnya mengambil sesuatu untuk menghibur Aira yang nampak kesal dan sedih.
"Kakak Ria suka coklat, Isel punya banyak sekali." Isel membukakan coklat memberikan di tangan Ai.
Hujan turun dengan sangat deras kedunya berlari ke dalam bangunan tua, duduk melihat pepohonan mulai bergoyang.
Ai mengunyah coklat sambil tertunduk, tetesan air matanya jatuh masih teringat soal Angga yang mengkhawatirkan Isel.
"Kak Ai menangis?"
"Ini air hujan," jawab Ai dengan suara pelan.
Senyuman Isel terlihat, mengeluarkan satu koper cemilan miliknya untuk dimakan bersama sambil menikmati hujan.
"Kak Ai bertengkar dengan Kakak Black?"
"Bagaimana jika Black mencintai kamu? dia tidak pernah mengatakan dengan tulus jika mencintai Ai." Tangisan Aira terdengar, membuang coklatnya dengan ekpresi marah.
Ghiselin langsung tertawa, tuduhan Aira sungguh tidak masuk akal. Tidak semua cinta diutarakan. Ada beberapa orang yang lebih nyaman dengan menyembunyikan perasaannya.
Berbeda dengan Aira yang lebih bahagia mengutarakan perasaannya, tidak suka memendam rasa.
"Kamu juga mencintai Black,"
"Dulu, sekarang tidak lagi. Perasaan Isel sekarang tidak normal." Tangan Isel memegang dadanya.
Ekpresi wajah Aira terkejut, hal yang mustahil jika Isel mencintai sesama. Patah hati membuatnya menjadi wanita tidak normal.
"Kamu mencintai sesama?"
"Kak Aira gila, bisa saja Isel dikubur hidup-hidup oleh Mama. Bukan seperti itu, perasaan Isel tidak jelas. Susah bicara dengan orang bodoh." Isel menatap air hujan yang semakin deras membuat api yang membakar mobil juga perlahan mati.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira