
Mobil Isel dan Dean datang secara bersamaan, senyuman Isel terlihat langsung berlari memeluk Dean yang sangat dirindukannya.
Sudah lama tidak bertemu, membuat Isel tidak bisa menahan kerinduan kepada Uncle yang sangat disayanginya.
"Kamu membuat masalah apa lagi?"
"Isel tidak melakukan kesalahan Uncle, bahkan Isel sedang binggung dengan kejuruan yang salah ambil." Isel menujukkan kartu namanya sebagai dokter psikiater.
"Nanti saja membahasnya, Papa kamu sedang marah." Dean berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Isel yang masuk rumah sambil cengengesan.
Tatapan mata Gemal merah, Dean mengucapkan salam. Isel berdiri di belakang Dean tidak berani mendekati Papanya jika sedang marah.
"Apa ini?" barang di lempar di atas meja.
Dean mengambilnya dan melihat hasil tes positif hamil. Tes kehamilan melalui darah dipastikan akurat, tidak mungkin ada kesalahan.
"Kak Gem, kita bicara tanpa emosi. Dean yang akan menyelesaikan masalahnya, tapi tidak dengan menghakimi Isel." Dean meminta Kakak iparnya tidak tersulut emosi.
Jika menggunakan amarah hanya salah paham yang terjadi, apalagi dengan meragukan. Isel memang nakal, tapi Dean sangat percaya dia tidak mungkin keluar jalur.
"Sel, hasil tes siapa ini?"
"Ini punya Isel, Mama menemukan di ruangan Lab, Isel lupa megambilnya." Senyuman Isel terlihat menatap Mamanya yang sudah tertunduk lemas.
"Bisa kamu senyum, apa pernah Papa memarahi kamu, pernah Papa melarang kamu melakukan apapun yang diinginkan?"
"Pernah, Papa melarang Isel menikah muda, tapi kita melakukan perjanjian seharusnya Papa menepati janji membiarkan Isel menikah." Teriakan Isel terdengar, memeluk Dean erat saat melihat Papanya memukul meja hingga pecah berhamburan.
"Gemal." Diana teriak histeris menutup telinganya melihat tangan suaminya mengeluarkan darah.
Tatapan Dean juga tajam, meminta Isel pergi ke rumahnya. Berbicara dalam keadaan emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
"Kak Gem, nanti saja bicaranya sebelum menyesal," tegur Dean melangkah mendekat meminta Diana mengambil obat.
"Hasil ini positif, berarti Isel bisa menikah." Senyuman Isel terlihat.
"Kamu senyum lagi Sel, apa bagi kamu ini lelucon?"
"Kenapa Pa, bukannya kehamilan kabar bahagia?" Isel tersenyum sangat manis sengaja mengerjai Papanya.
__ADS_1
Gemal langsung berdiri, Diana dan Dean langsung berlari melindungi Isel. Gemal meminta Isel duduk bersamanya jika memang merasa apa yang dilakukan benar.
"Gemal, jangan sakiti putriku. Pukul aku saja, tapi jangan Isel." Diana memeluk suaminya yang juga menahan kesedihan.
Kepala Isel menunduk meminta maaf karena dirinya sudah membuat malu keluarga, mengecewakan Papa dan Mamanya juga seluruh keluarga besar.
Dirinya sadar sudah keluar batas, kesalahannya tidak termaafkan. Isel tidak masalah jika harus diusir dari rumah untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Kamu melakukannya Sel, berarti kamu tahu konsekuensinya. Aku tidak akan menganggap kamu anak, dan silahkan keluar dari rumah ini." Tatapan mata Gemal tajam, mendorong Diana sampai terduduk di sofa.
Teriakan Dimas terdengar, Angga yang datang bersama Daddy-nya langsung memeluk Isel yang sedang berlutut.
Air mata Anggun terlihat, memeluk Diana yang menangis histeris. Aira dan Aliya juga berlari melihat kekacauan.
"Ada apa?" Anggun menatap Diana.
"Isel hamil," jawab Diana.
Mommy Anggun terduduk lemas, hampir jatuh pingsan mendengar apa yang diucapkan Diana. Begitupun dengan Aliya yang menjadi patung.
Kepala Dimas menggeleng tidak percaya, dia sangat dengan Isel mampu menjaga dirinya sendiri.
"Tes darah apa? Apa hasilnya?" Ai mengambil kertas yang sudah lusuh.
Mata Angga menatap dingin, Isel menahan tawa memeluk Angga yang tahu jika Isel mengerjai semua orang.
"Siapa yang menghamili kamu Sel?" Dean tidak mampu mengangkat kepalanya.
"Pertanyaan apa itu? tidak ada yang hamil. Kalian seperti tidak kenal Isel saja, dia hanya mengerjai kita." Angga meminta Isel berdiri.
Semua orang menatap ke arah Isel, Mama menujukkan hasil tes meminta Isel memberitahukan milik siapa.
Tawa Isel terdengar merasa lucu melihat Mamanya menangis sesenggukan. Isel memeluk wanita yang melahirkan penuh perjuangan sampai rela mempertaruhkan nyawanya, bahkan saat Isel salah Mamanya masih tidak mengizinkan ada yang menyakiti Isel kecuali Mamanya sendiri.
"Katakan ini bukan Isel, Mama tidak ingin kehilangan kamu. Bagaimana kami bisa bertahan, jika ada yang menyakiti kamu?" Diana memeluk erat Putri satu-satunya.
"Bukan Mama, tidak mungkin Isel berani membawanya pulang. Itu milik seseorang yang pasti akan memberikan kabar baik untuk kita semua." Isel mengusap punggung Mamanya.
Kepala Gemal menggeleng, bisa-bisanya Isel membuat candaan yang menghacurkan hati. Gemal merasa sangat terluka jika dirinya gagal menjaga Putri satu-satunya.
__ADS_1
"Papa, semakin tua bertambah mudah marah. Isel nakal ya Pa, Isel selalu membuat Papa cemas, khawatir, tapi Papa tidak pernah memukul Isel. Maafkan Isel ya Pa, tapi Papa tidak boleh meragukan Isel." Pelukan Isel sangat erat, begitupun dengan Gemal yang menangis memeluk putrinya.
Rasa sayang Gemal tidak bisa dirinya utarakan dengan kata-kata, dari ketiga anaknya Isel yang paling dirinya cintai.
"Candaan kamu tidak lucu," ucap Gemal.
"Salah Papa sendiri yang menyimpulkan sesuka hati, sekalian saja Isel kerjain. Semua orang kena." Tawa Isel terlihat menatap Dean yang melihatnya ke arahnya.
Suara berlarian terdengar, sore-sore biasanya kumpul di depan rumah melihat anak-anak bermain, tidak biasanya kumpul di rumah Diana semua.
"Ada apa ini?" Tika melihat Diana yang menangis.
"Isel hamil Kak." Tangan Isel megusap perutnya.
Tika langsung memukul punggung Isel, Tika tidak akan percaya. Siapa lelaki yang bisa mendekati Isel, hanya lelaki gila yang berani.
"Kenapa semuanya kumpul di sini?" Altha datang bersama Juna, Juan dan istrinya.
"Isel hamil Pi," jawab Shin.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un," balas Altha menganggukkan kepala.
Juna nampak biasa saja menangapi, lebih percaya jika itu tidak mungkin besar, begitupun dengan Juan yang nampak santai.
Tangan Isel mengambil hasil tes, meminta semua orang melihat ke arahnya, Isel membawa kabar baik juga kabar buruk.
Dirinya sudah memastikan ke rumah sakit, dan berharap keputusan keluarga tetap mensupport.
"Milik siapa itu Isel?" Diana meminta penjelasan.
Senyuman Isel terlihat, melangkah mendekati Aira yang hanya duduk santai menjadi penonton.
Tangan Isel mengusap perut Aira, hasil yang diketahui semua orang milik Aira. Isel mengusap pelan sambil tersenyum manis.
"Kak Ai, dia ada di sini, tapi janin Kak Aira tidak berkembang. Hasilnya positif, tapi tidak ada pertumbuhan karena itu Kak Ai tidak menyadarinya, dan tidak tahu jika sedang hamil." Isel meminta Aira mengatur napasnya agar stabil.
"Bicara apa kamu Sel?" tangisan Aira terdengar, dia tidak tahu harus bahagia atau bersedih soal kabar yang Isel berikan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira