SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERITA BARU


__ADS_3

Saat bangun pagi Angga terkejut melihat pemberitaannya yang sudah heboh, pertemuannya dengan Wenda dianggap pertemuan rahasia.


Wenda datang saat pesta hampir berakhir, kebersamaan keduanya saat berusia belasan tahun terekspos. Wenda yang paling tahu siapa Angga karena mereka satu sekolah juga meniti karir bersama.


"Kenapa harus di up, aku ingin bahagia dan tidak ingin ada orang ketiga di antara kami." Angga memeluk istrinya yang masih tidur.


"Kenapa sayang kamu menghela napas? maaf karena Aira meminta menginap di hotel soalnya Aira lelah sekali." Ai membuka matanya melihat suaminya yang memeluk erat.


"Ada berita baru, bukan sesuatu yang baik. Maafkan aku," ujar Angga mengeratkan pelukannya.


"Kenapa meminta maaf jika tidak salah, kita pasti mampu sampai akhir nanti. Kamu jangan berpikir semuanya berakhir sampai di sini, Ai tidak akan mudah tergoda dengan gosip sampah." Aira meminta suaminya bangun, mereka harus berserah diri kepada yang maha kuasa.


Senyuman Angga terlihat, mengecup pipi Aira. Bersyukur dirinya diberikan istri yang terkadang kekanakan, tapi ada kalanya sangat dewasa.


Melihat suaminya ke kamar mandi, tatapan mata Aira langsung tajam senyuman yang awalnya manis berubah menyeringai.


"Wartawan sialan, ada saja cara mereka ingin menarik artis lama untuk tampil kembali." Hentakan kaki Aira terdengar mengikuti suaminya ke kamar mandi.


Dari hotel Angga bisa melihat rumah sakit tempat Lea di rawat, berita soal dirinya dan Wenda bahkan ditayangkan di televisi umum.


Di dalam kamar Aira menyisir rambutnya, menatap wajahnya di kaca yang nampak sangat cantik.


"Sayang, sarapan yang aku pesan sudah datang, kita ke rumah sakit sekarang." Angga memasang topinya.


"Siap sayang." Aira langsung berdiri memeluk lengan suaminya berjalan bersama.


Mencoba tidak peduli dengan pemberitaan karena Angga tidak merasa menyakiti siapapun. Dia juga tidak tahu jika Wenda akan muncul kembali setelah bertahun-tahun hengkang dari dunia entertainment.


Senyuman Angga terlihat saat menatap bayi menangis saat sedang dimandikan, gerakan kaki dan tangannya terlihat aktif membuat Angga semakin gemas.


"Kenapa lucu sekali?"


"Uncle Angga nakal ya sayang, lagi menangis dibilang lucu padahal sedang dingin ya sayang." Juan menatap kedua anaknya yang beradu menangis.


Satu bayi diserahkan kepada Lea untuk menyusu, Aira duduk memperhatikan sedotan bayi yang sangat kuat.

__ADS_1


"Sakit tidak Lea?"


"Ya sakit, belum terbiasa. Kira-kira rasanya apa?"


"Gayanya belum biasa, memangnya bayi besar kamu tidak menyusu?" Ai menahan tawa menganggu baby yang sedang menyusu.


"Jangan Aira, nanti jika satuannya menangis bagaimana?" Lea melayangkan pukulan kepada adik iparnya yang sangat jahil.


Ai menunjukkan pemberitaan soal Wenda, dia menggunakan Blackat untuk menopang kembali namanya.


Saat Angga sedang berbahagia, banyak lalat busuk mencoba masuk dan membuat ditarik ke atas agar tampil kembali.


"Perusahaan pasti sudah bertindak Ai, apalagi Kak Angga yang memimpin langsung." Lea meminta Aira tidak terlalu memiliki banyak beban pikir.


Helaan napas Ai terdengar, dia tahu jika Angga tidak tinggal diam mencoba menghentikan pemberitaan jika mencemarkan nama baiknya, tapi tetap saja Aira kesal.


"Wenda aktris baru, aku tidak kenal dia," ujar Lea yang menatap Aira serius.


"Kamu tidak tahu siapa Wenda?" Ai menjelaskan jika Wenda aktris lama, dia lawan main pertama Blackat saat tampil pertama kalinya sebagai aktor.


Setelah sekian lama menghilang sekarang muncul kembali, hebatnya Wenda langsung menemui Angga saat pesta sudah berakhir.


"Hanya aktris lama, sudah biasa mencoba mencari nama." Lea mengusap punggung anaknya yang sudah kenyang.


"Bukan masalah artis lamanya Lea, tapi dia muncul dari masa lalu, dia tahu asal-usul Angga yang dibesarkan oleh orang tidak punya, hingga keluarganya meninggal ...." Ai menghentikan ucapannya saat Juna dan Angga masuk ke dalam ruangan.


Senyuman manis keduanya nampak, tidak terlihat saat sekali pembicaraan yang awalnya serius.


"Sayang kita hari ini langsung pulang ke rumah, dokter sudah mengizinkan." Juan menggendong putranya.


"Nama mereka siapa Kak?"


"Belum tahu, kita bicarakan di rumah saja. Mami dan Papi juga menunggu di rumah bersama keluarga yang lain." Juan meminta Aira membereskan barang-barang baby agar mereka bisa segera pulang.


"Tumben, tidak ada yang datang ke sini. Apa mereka ingin memberikan kita kejutan ulang tahun. Aira belum dapat hadiah apapun? Kak Juan juga belum memberikan apapun," sindir Aira agar Kakaknya peka.

__ADS_1


"Hadiahnya kamu mendapatkan keponakan baru," balas Juan sambil tertawa.


Teriakkan Aira terdengar mengejutkan bayi yang baru saja tidur. Ai tidak ingin hadiah keponakan, enak di Kakaknya, tapi tidak ada untungnya bagi Ai.


Tangan Angga menutup mulut istrinya, memintanya bicara pelan karena baby boy baru saja ingin tidur setelah kenyang menyusu.


Bibir Aira monyong, Juan akhirnya menganggukkan kepalanya akan memberikan apa yang Aira inginkan.


"Ayo kita pulang Ayang, Aira tidak sabar lagi menunggu hadiah." Pelukan Ai erat ke arah suaminya yang hanya geleng-geleng.


"Bisa kamu berjalan Lea?" tanya Angga lembut.


"Sebentar lagi dia sudah bisa main bola, Ayang." Tawa Aira terdengar menggedong satu bayi untuk dibawa pulang.


Mobil sudah menunggu, Aira langsung masuk bersama kakaknya dan. Lea juga masuk bersama Angga.


Perjalanan pulang rusuh padahal hanya ada Aira seorang, dua bayi yang ada di dalam gendongannya dan Juan tidak bisa tidur karena mendengar ceramah Aira yang tidak berkesudahan.


"Aira diam dulu, bayinya tidak bisa tidur." Juan menutup mulut Adiknya.


"Kenapa Kak Juan, bayinya juga tenang tidak ada niatnya menangis, dasar Kak Juan saja lebai. Kenapa juga bayi harus banyak tidur, nanti dia mirip babi?" Ai memperingati kedua keponakan agar tidak tidur terus, nanti wajahnya bulat seperti Ajun mirip kue bakpao.


Lea memijit pelipisnya, belum satu hari anaknya sudah dibilang mirip babi. Aira mulutnya memang tidak punya rem, Lea pikir sudah membaik ternyata masih sama.


"Kenapa kamu menatap Aunty? kenapa kalian lahir harus sama dengan Aunty? dasar perempuan sialan, kenapa wajahnya ada di poster paling besar?" Aira mengumpat di depan bayi yang hanya bisa diam mendengar ocehannya.


"Astaghfirullah Al azim Aira, kamu menodai telinga mereka?" Angga memicingkan matanya agar Aira menjaga ucapan.


Lea hanya bisa tertawa, sedangkan jua. perbanyak istighfar karena memiliki adik yang tidak normal ucapannya.


Sesampainya di rumah dugaan Aira benar, ada balon biru di sepanjang jalan juga ada banyak makanan di beberapa tenda depan rumah.


"Kak ini anak kamu, Aira harus mencari makan." Ai langsung turun dari mobil mendekati Isel yang sudah membawa banyak makanan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2