SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KEHEBOHAN


__ADS_3

Di ruang rias Aira menatap wajahnya yang sudah selesai di make up, berjalan keluar menatap para pemusik yang akan mengiringi mereka.


"Ai, ayo ikut aku,"


"Lea, aku deg-degan. Dulu aku penonton Blackat, sekarang aku berdiri di sampingnya. Ini rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata." Ai memeluk Lea yang juga bahagia melihat Aira ceria kembali.


Suara ribut terdengar karena mengangumi ketampanan Blackat dari jarak dekat, Aira langsung berdiri di samping Blackat yang tersenyum manis.


Teriakan histeris terdengar saat melihat Aira menatap tajam kekasihnya yang ketahuan sedang tebar pesona.


Senyuman Black terlihat, melipat kedua tangannya meminta maaf kepada Aira yang membuat teriakan histeris.


Ai menatap tajam penonton yang sudah berkumpul, menunjuk mata dengan dua jari lalu diarahkan kepada penonton. Aira mengawasi semuanya yang menggoda kekasihnya.


Teriakan histeris semakin kuat, gerbang kaca ditutup agar tidak ada lagi yang bisa melihat. Acara konser akan segera dimulai.


Penonton sudah berdesakan, bukan ribuan namun jutaan manusia berkumpul menjadi satu.


"Aduh sempit, busuk ketek." Mira menutup hidungnya karena berdempetan dengan banyak orang.


"Ih, kenapa si dorong-dorongan? Mora pusing tahu." Teriakan Mora terdengar melihat pilihan bodyguard kewalahan.


Senyuman Anggun terlihat karena para wanita duduk di kursi dengan santai menikmati teriakan manusia.


"Ma, tidak ada orang menonton konser sambil duduk santai, jika kalian ingin duduk seharusnya di atas sana." Isel menunjuk ke arah penonton VVIP.


"Apa salahnya? kita tidak merugikan orang lain, kita bawa kursi sendiri." Diana tersenyum melihat kekesalan Putrinya.


"Ah, kalian ini membuat malu saja, mana membawa bodyguard? ingin menonton konser atau tawuran?" Isel berdiri di samping Dean yang menatap Isel bibirnya cemberut.


Rengekan Mira dan Mora terdengar, keduanya ingin naik panggung. Berbeda dengan kedua adiknya yang duduk tenang dipangkuan para wanita.


"Mana susu Hasan?" Tika memukul suaminya yang melihat wanita lain.


"Apa?"


"Mau aku congkel biji mata kamu, bukannya melihat ke depan, sibuk melihat wanita gendut." Tika memukul Genta yang nampak binggung.


"Apa maksudnya membicarakan kita gendut?" suara menimpali terdengar.

__ADS_1


"Apa kamu merasa badan kamu kurus? sudah mirip dua drum. Mana ada di depan lagi, badan kamu cukup untuk lima orang." Shin menatap tajam ke arah wanita gendut yang emosi.


Tangan Juna memutar kepala Istrinya untuk melihat ke depan, jika satu bertengkar pasti akan bersahutan.


Altha dan Dimas geleng-geleng karena malu melihat tingkah laku para wanita, mereka pernah ikut menjaga keamanan konser, tapi baru pertama kali melihat penonton menganggap lapangan seperti area keluarga.


Suara Diana teriak terdengar ingin menampar mulut wanita yang tidak berhenti mengomel, Gemal langsung menahan istrinya untuk duduk lagi.


"Jika kamu berani kita naik ke panggung adu banting!" Diana menujukkan jati tengah.


Ghiselin yang melihat keribuan hanya terduduk lemas, dia kesal melihat keluarganya yang tidak tahu tempat.


"Sabar, seperti tidak kenal keluarga kita saja. Kamu nikmatin konsernya kita cari tempat sedikit jauh." Dean menarik tangan Isel untuk berdiri.


Melihat Dean dan Isel menjauh, Iyan dan Juan juga ikutan karena malu melihat tingkah laku keluarganya mirip preman.


Saat acara dimulai teriakan histeris terdengar, Anggun juga langsung berdiri saat Putranya muncul.


Senyuman Dean terlihat menatap Kakaknya kembali ke atas panggung, suara indah Blackat mampu membuat hening suara yang rusuh.


"Mama, jantung Hasan dug dug dug. Suara musiknya besar sekali,"


"Mami joget begini dosa tidak?"


"Diamlah Husein," Shin teriak histeris.


"Astaghfirullah Al azim Mama, dosa teriak seperti itu." Husein duduk mengusap rambut Adiknya yang terdiam jadi patung.


Senyuman Dimas terlihat sampai terharu melihat anaknya tersenyum lebar bisa berdiri kembali di atas panggung.


"Kenapa menangis? ini lagunya bahagia," Altha binggung melihat sahabatnya menangis.


"Terharu, anakku di atas sana." Tangan Dimas menujuk ke atas panggung.


Musik berhenti, Black tersenyum melihat suara tepuk tangan meriah. Belum lagi nyanyikan penggemar yang merindukan Blackat.


"Halo semuanya, lama tidak berjumpa. Kalian mungkin tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak ingin mengungkit hal sedih. Pertama kali aku akan mengatakan terima kasih banyak untuk para penggemar yang sudah hadir, maupun yang menonton. Bagaimana kabar kalian?" Blackat mengarahkan mix ke arah penonton.


Blackat meminta semuanya tersenyum, tidak ingin melihat kesedihaan karena perasaan Blackat sangat bahagia.

__ADS_1


"Sejak awal berada di industri hiburan aku tidak pernah menjawab siapa nama aku, tidak pernah mengatakan nama asli. Hari ini aku akan mengatakannya." Black tertawa melihat poster yang tertangkap kamera.


Penonton semuanya hening menunggu Angga untuk mengatakan nama aslinya, asal usul nama panggungnya.


"Nama Blackat berawal dari sebuah kartu black card milik seorang kakak, dia menolong aku tanpa pamrih dan memberikan nama Blackat untuk nama panggung. Dan spesialnya, nama asli aku baru dibuat sekitar satu minggu yang lalu, Dewa Anggar dibelakangnya ada nama keluarga. Aku bahagia sekali memegang nama itu, rasanya aku memiliki keluarga utuh." Black membalik badannya menghindari kamera membuat banyak orang menangis karena yakin nama yang Black pakai begitu berharga.


Tangisan Anggun terdengar, Diana memeluk Mommynya. Baru satu kali penampilan saja sudah mengundang air mata.


"Uncle, lihat Mora di sini Uncle." Kedua tangan Mora terangkat melambai meminta Uncle Blackat melihat.


"Kenapa Uncle tidak melihat ke arah kita? percuma saja duduk di depan sekali jika tetap tidak terlihat." Mira melipat tangannya di dada menatap kesal.


Teriakkan berapa orang terdengar menyemangati Blackat yang tersenyum melihat ke arah penonton kembali.


"Maaf, aku ternyata tidak kuat jika membahas keluarga. Intinya terima kasih untuk nama panggung yang sangat luar biasa hingga aku sukses sejauh ini. Satu kejutan lagi, semua orang pasti mengenal wanita ini." Black langsung diam mendengar teriakan memanggil nama Aira memintanya untuk segera keluar.


Penggemar Aira langsung histeris, Mami Aliya menatap tajam melihat wanita gendut menghina Putrinya tidak ingin melihat Aira.


"Aira wanita sok cantik,"


"Woy, perempuan gendut, jelek, kamu belum pernah melihat kursi terbang!" Aliya mengangkat kursi membuat teriakan histeris.


Blackat melihat ke arah kursi terbang, menelan ludah karena para wanita pengacau juga hadir.


"Untuk para wanita cantik yang duduk di kursi, bisa minta perhatiannya. Fokus ke depan kalian paling cantik malam ini." Blackat memberikan love menggunakan tangannya.


Teriakan histeris terdengar, Blackat langsung tertawa lepas melihat wajah para lelaki yang nampak depresi mendampingi istrinya menonton konser.


Lampu gelap kembali, suara memanggil a


Aira terdengar. Black kembali ke belakang panggung melihat Aira yang siap-siap.


"Ai, kamu penonton terheboh malam ini sudah melemparkan kursi." Kedua tangan Angga menutup wajahnya.


"Siapa?" tatap Ai penasaran.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2