
Keluarga yang lain sudah pulang lebih dulu, Isel hanya berdua bersama suaminya karena harus kembali ke apartemen terlebih dahulu.
Kepala Isel tertunduk, duduk di pinggir ranjang. Setelah perawatan beberapa minggu akhirnya Isel diperbolehkan pulang, tapi ada kesedihan di wajah Isel karena harus pulang tanpa anaknya.
"Bi, hati Isel sedih." Mata Isel berkaca-kaca melihat ke arah Dean yang masih sibuk menyusun barang yang harus dibawa pulang.
Langkah Dean pelan, memeluk erat istrinya yang merasa kehilangan karena gagal membawa si kecil kembali.
Pelukan Dean sangat erat, dia juga sama sedihnya karena gagal menjaga anak istrinya. Dean hanya berpura-pura tegar agar Isel bisa pulang tanpa membawa kesedihan.
"Mama sama Papa sudah menunggu di parkir." Isel mengusap air matanya menunjukkan ponselnya kepada Dean.
"Ayo kita pulang." Dean menggandeng tangan Isel membiarkan Isel menangis agar bisa rela dan ikhlas harus pulang tanpa kehadiran buah hatinya.
Saat pintu terbuka, Vio berdiri di depan pintu merasa ragu untuk masuk karena mendengar suara Isel yang menangis.
"Kenapa kamu di sini Vio?" Dean merasa aneh karena seharusnya Vio ada di pembatasan.
"Sel, bisa kita bicara sebentar?"
Kepala Isel mengangguk, meminta Dean lebih dulu ke parkiran. Isel ingin bicara dengan Vio sebentar barulah akan menyusul.
Tidak ingin mengganggu dua sahabat, akhirnya Dean memutuskan pergi lebih dulu. Membiarkan keduanya bicara.
"Ada apa Vio?" Isel melangkah pelan diikuti oleh Vio yang jalan di sampingnya.
"Sel, kamu masih ingat saat pertama kita bertemu? aku di dipukuli oleh anak sekolah sebelah, dan kamu datang bersama Laura dan Weni." Vio mengangumi kemampuan bela diri Isel yang masih kecil, tapi bisa berkelahi.
Sejak penyerangan, Vio mulai bergabung dan belajar bela diri bersama Isel hingga bisa menjadi petarung.
"Sel, selama ini aku banyak mengkhianati kamu. Kita berempat jauh berbeda, kalian bertiga Putri kaya raya sedangkan aku? punya satu Kakak, tapi gila." Langkah Vio terhenti karena tubuhnya sangat lemas jika teringat keluarganya.
__ADS_1
"Aku tahu. Kita bertiga tahu, tapi kita tidak ingin tahu. Vio, bukan hanya kamu yang punya masalah hidup. Weni memang memiliki segalanya, tapi dia tidak memiliki ibu hanya ada ayah yang bergonta-ganti wanita. Bagaimana dengan Laura? dia memang memiliki segalanya, tapi tidak bisa bebas karena peraturan yang begitu ketat. Kamu tidak penasaran soal aku? sejak kecil memiliki segalanya, tapi aku tidak bisa menggunakan mengumumkan, tidak ada yang bisa aku banggakan dan lelahnya melihat anggota keluarga lain yang berprestasi juga memiliki kelebihan sehingga kita dituntun untuk bisa karena demi menjaga nama baik keluarga." Isel tetap berjalan karena dirinya tahu baik buruk dalam persahabatannya namun tidak ingin menyudutkan karena setiap orang memiliki cara sendiri untuk mengurus hidupnya.
Sekalipun Isel tahu kekurangan sahabat tidak pernah sekalipun dirinya menjelekkan atau mengasingkan karena kekurangan.
Air mata Vio menetes, menahan pergelangan tangan Isel. Meminta maaf karena dirinya memiliki hati yang iri dan dengki, Vio menyesal karena diam saja saat tahu Glora ingin mencelakai Isel.
"Aku tidak tahu jika kamu sedang hamil Sel, aku hanya ingin Bian di penjara karena dia tidak pantas hidup bebas setelah membuat Kakakku gila." Tangisan Vio terdengar sampai sesegukan tidak bisa menutupi kehancuran hatinya karena membuat Isel kehilangan anaknya.
Dari lubuk hati terdalam Vio tidak bermaksud membuat Isel berduka, tujuan Vio hanya memenjarakan Bian agar. Ambisinya sangat besar sampai lupa jika sahabatnya sedang menanti buah hati.
"Tidak perlu menangis, memang bukan rezeki." Isel menekan lift untuk turun ke parkiran.
"Aku juga minta maaf karena mencintai suami kamu."
"Anjing!" Isel mencekik kuat Vio yang langsung terpojok di dinding lift.
Cekikan terlepas, Isel menarik napas panjang karena dia juga tahu jika Vio mencintai suaminya.
"Hilangkan perasaan kamu jika tidak ingin mati," pinta Isel dengan tatapan sinis.
"Aku tahu, lagian dia tidak mencintai aku." Vio memegang lehernya yang terasa sangat sakit.
Senyuman Isel terlihat karena Vio terlalu lambat. Ada banyak pria kaya yang menginginkannya, tapi memilih pria yang tidak mencintainya.
"Jangan jatuh cinta kepada Ghion, aku tidak ingin kita bersaudara, jauhi." Isel melangkah keluar dari dalam lift menuju ke parkiran.
"Mustahil juga karena Ghion punya seribu pacar, apalagi dia agen rahasia yang selalu menyamar bersama bidadari malam." Senyuman Vio terlihat karena ucapan Isel memiliki arti jika dirinya harus menjauhkan Ghion dari maut.
Suara Mama Di sudah terdengar, senyumannya sangat manis melihat ke arah Vio.
"Hati-hati di jalan Tante," ucap Vio lembut.
__ADS_1
"Kamu teman pengkhianat yang mencelakai putriku, tapi kenapa Isel begitu menyayangi kamu? Brayen yang mengatakannya." Mama Di menujuk ke arah Brayen yang akan dijadikan menantu keluarga konglomerat, tapi ditolaknya.
Kepala Brayen geleng-geleng, Mama Di tidak beda jauh dengan Isel. Ucapan sangat pedas membuat celaka diri sendiri karena mempercayainya.
"Seriusan Ma, memangnya siapa?"
"Laura, teman kamu Laura memaksa keluarganya untuk menerima Brayen, tapi ditolak karena tidak sederajat, maka Mama Di yang maju memperkenalkan Brayen sebagai Putraku." Tawa Mama Diana terdengar agar dia memiliki banyak menantu bar-bar sehingga dirinya awet muda mengumpulkan para wanita cantik dan kuat.
Tarikan napas Gemal panjang, meminta Vio memaklumi mulut istrinya yang tidak tahu malu. Vio harus segera kembali ke perbatasan karena dia sudah didaftarkan.
Senyuman Vio terlihat, kecerdasan dan keahlian Isel didapatkan dari Mamanya yang ternyata petarung hebat.
"Sel, aku pergi. Sekali lagi aku minta maaf."
"Hati-hati di sana, sampai bertemu lima tahun lagi."
"Kenapa lama sekali Sel, bisa jadi perawan tua dia." Mama Di tidak menyarankan seorang wanita menjadi polisi karena buang-buang waktu.
Vio hanya tersenyum melihat Isel berdebat dengan Mamanya, melangkah pergi tanpa diketahui keduanya yang mirip kucing dan tikus.
"Keluarga aneh atau unik?" Vio berjalan ke arah mobilnya, hatinya sedikit lega karena bisa melepaskan sedikit dari beban hidupnya.
Jikapun harus mati, Vio tenang. Dia hanya harus hidup dan pulang demi Kakaknya yang berada di rumah sakit jiwa. Ada Isel yang akan menjaga selama Vio mempertaruhkan nyawa di tengah perang.
Dari jauh Isel menatap punggung Vio yang menanggung beban berat, dia pasti sangat kehilangan sosok Kakak yang membesarkannya sejak kecil meksipun tidak pernah tahu pekerjaan kakaknya.
"Aku tahu kamu berkhianat, tapi selama ini kita tidak dirugikan. Kamu hanya berbohong dan mengambil keuntungan lebih besar setiap kali menemukan harta di bawah tanah atau bangunan tua." Isel mengusap perutnya karena bukan salah Vio, tapi Isel yang gagal menjaga anaknya.
***
maaf beberapa hari gk up soalnya jatuh sakit.
__ADS_1